Merumuskan Kebijakan Anti LGBT di Kalangan Dunia Pendidikan

Dwi Atmaja, S.Pd, M.Psi (Ketua Bidang BK APKS PGRI Prov Jawa Timur)

Pemikiran konteks Jihad Terhadap Pemikiran Pro LGBT dikemukakan oleh guru besar Bimbingan dan Konseling Prof. Andi Mapiare dari Universitas Negeri Malang. Gerakan penolakan pemikiran yang pro terhadap LGBT mendapat dukungan dari berbagai pihak kalangan praktisi Bimbingan dan Konseling, dengan harapan agar generasi bangsa dijauhakan dari perbuatan keji yang dimurkai  Allah SWT. Dari sudut pandang umum aktivitas serupa terkait pencegah arus perkembangan propaganda LGBT disuarakan oleh bupati Cianjur, Instruksi yang diberikan Pemkab melalui  seluruh Camat itu tercantum dalam Surat Edaran Bupati Cianjur Nomor 400/5368/Kesra Tentang Penyampaian Khutbah Jum’at.  Surat  itu  ditandatangani oleh Wakil  Bupati Cianjur  Herman Suherman  atas  nama  Bupati  Cianjur  Irvan  Rivano  Muchtar  tertanggal  15  Oktober 2018. Selain berisi instruksi, surat edaran itu juga melampirkan enam halaman naskah khutbah berjudul “Bahaya LGBT, Sodomi dan Pencabulan  dalam Kehidupan Beragama, Berbangsa dan bernegara dalam Perspektif Hukum Islam”.

Prof. Andi menegaskan  kaum LGBT kurang atau belum  sadar  bahwa  dari  mereka  pula  penularan penyakit  seksual dan dampak  azab  Allah  yang  bisa  mengenai  orang  baik-baik,  Naudzubillah summa naudzubillah. Pendapat mendukung  dari sisi dunia  di sampaikan oleh Dr. Titik  selaku aktivis  komisi perlindungan anak dan perempuan, kerusakan di PFC  (Pre Frontal Cortex) sehingga tidak  bisa lagi mengontrol  diri  padahal  mereka mengetahui  akibat  buruk bagi dirinya sendiri, bahkan ada  yang sudah  HIV/AIDS tetapi tetap melakukan hubungan seks dengan  sejenis. Narkoba, Pornografi, Homo, lesbi,  mengakibatkan  kecanduan  karena  sistem  lymbic  dalam otak  tidak  berfungsi  dengan  baik, sehingga  dopamin  yang  aktif.

Masih adanya pola pemikiran di sebagian masyarakat, mengatakan prihatin ketika  hak  mereka  tidak dipedulikan  dan  dipaksa  berubah  sementara  sang penciptaNya  menghadirkan  mereka  didunia. Seandainya  Tuhan  itu  bodoh  maka  pasti  DIA  tidak  menghadirkan  mereka.  Menjadi  laki laki  atau perempuan  atau  banci  bukanlah  pilihan  mereka.  Tapi  takdir  mereka.  Kita  boleh  merasa  terganggu dengan  kehadiran  mereka  namun  tetap  membantu  mereka  menjadi  PKIA  (Produktif,kreatif,inovatif Dan afektif ) bukan  seperti  mencuci  cawan  yang  dibersihkan  hanya  bagian  luarnya  saja.  Solusi yang manusiawi  dan  berkeTuhanan  yang  mereka  boleh  terima. Pemikiran yang demikian muncul sebenarnya akan mendorong  semangat mereka, seolah kita mengaminkan bahwa menjadi LGBT adalah kehendak Tuhan, tentu saja hal ini sejalan dengan propoganda yang sedang mereka lakukan.

Jika melihat ketentuan keagamaan di Indonesia, tidak ada satupun yang memperbolehkan adanya ketentuan LGBT di dalam ajaran masing-masing agama, patut ditanyakan Tuhan agama manakah yang dimaksud dalam propganda mereka. Seharusnya sebagai masyarakat kita perlu lebih jeli agar tidak terpengaruhi  pada  kepentingan  terselubung  mereka dalam mencari  kepuasan nafsu biologis  semata. Justru solusi yang diberikan bukan memberikan pengakuan adanya mereka, melainkan solusi untuk disembuhkan  kembali  kepada  fitrah  sebagai  mahluk  Tuhan  yang  menciptakan hanya manusia menjadi laki-laki dan perempuan. Karena pola  asuh dan lingkungan  yang  salah  tidak  sesuai dengan kodratnya  sehingga  menyimpang  dan hal ini harus disembuhkan. Untuk itu tugas Bimbingan dan Konseling   adalah memberikan layanan  prima  dalam  pencegahan dan penyembuhan.

Temuan kasus yang di paparkan Dr Titik sangat  menarik, beberapa  banci  yang beliau jumpai dan ada wawancara mengatakan  tidak ada keinginan menjadi  jadi  banci  tetapi karena  sudah  menjadi  habit dan nyaman makanya lebih memilih banci walaupun kadang hatinya menjerit. Begitu pula  yang  wanita karena penampilannya tidak  feminis  lebih  maskulin  sehingga  lebih  tertarik  jadi laki-laki  walaupun  perempuan sehingga  memilih  lebih  tertarik  dengan  sejenis  yang  perempuan disebut lesbian. Kasus sama  mereka tidak  ingin  seperti itu  tetapi karena  habit  dan  rasa nyaman  sehingga  penyimpangan perilaku  terus  berlanjut. Maka  Negara  Belanda  yang  menjadi  pilihan  untuk  hidup  mereka  bebas , inggris  yang  semula  menolak  akhirnya  gereja  menerima  juga  dengan  menikahkan  pasangan  sejenis  laki-laki  yaitu  Elton Jones  orang  pertama  kemudian  menyusul  negara  lain  termasuk Thailand,  Singapora  dan  di Indonesia sendiri  yang  jumlahnya  semakin  besar dan terang-terangan  mengatakan bahwa I am Gay, I am Lesbi.

Berbicara tentang takdir Tuhan, ada hal kajian unik penanganan LGBT  di Aceh, yang termuat dalam media online  https://m.merdeka.com/peristiwa/12-waria-ditangkap-di-aceh-disuruh-lari-teriak-sampai-keluar-suara-pria.html. Dengan cara sederhana diminta untuk lari hingga keluar suara asli dapat membuat mereka kembali menjadi normal. Dalam hal ini membuktikan pernyataan yang disampaikan oleh Dr Titik bahwa pola asuh, pergaulan, kenyamanan, dll dan bukan  berdasarkan takdir Tuhan, dan beliau menyatakan bahwa banyak juga kasus temuan penderita yang sembuh, sadar  kembali pada fitrahNYA  dan menikah punya anak bahkan jadi motivator untuk yang lain kembali ke jalan benar.

Sepertinya dalam hal ini  perlu ditekankan  lagi  masukan  dari  prof Sunaryo  dan prof Syamsu, agar BK dalam penanganan memegang  prinsip pendekatan mendasari konteks pilihan hidup yang berbasis moral  religius  dan  kaidah  norma masyarakat. Dalam hal ini BK mengutamakan pemahaman pada siswa agar mengidentifikasi pilihan hidupnya sesuai kodrat illahi, bukan bebas begitu saja harus menjadi lelaki atau perempuan. Khusus untuk yang memiliki kecenderungan potensi LGBT maka BK harus mengembalikan pada tataran yang benar. Makna pilihan hidup yang sesuai dengan kodrat manusia diciptakan oleh Tuhan. karena  sekarang mulai terjadi pergeseran  memaknai  budaya  dan  filsafat kehidupan  manusia, lebih pada  suka-suka  hati  tidak  memperhatikan  nilai-nilai  agama, moral, dan susila.

Melirik sekilas pada kajian psikologi, sejak  tahun  1973, homoseksual  dihapuskan  dari  daftar Diagnostic  and  Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) sebagai penyakit jiwa. Namun tidak banyak yang  mengetahui latar belakang penghapusan itu, dipaparkan oleh  Psikolog Ihshan Gumilar pada  seminar  bertema  ‘LGBT  dari  Prespektif  Neurosains’ di UHAMKA kampus Limau, Kebayoran Baru, Jakarta. Homoseksual, jelas  Ihshan, awalnya  termasuk  kedalam kategori penyakit jiwa, hingga semenjak DSM II  cetakan  ketujuh  tidak  lagi dianggap  sebagai  mental  disorder. “Kalau Anda buka di DSM yang  sekarang  tidak  ada,  tapi kalau buka di DSM I itu masih ada. DSM II kalau cetakan ke 1 sampai  6  itu  juga  masih  ada,” jelasnya. Hal itu, kata dia, disebabkan karena adanya  gerakan politik  dan demonstrasi  besar-besaran  yang  merupakan  rentetan dari pergerakan warga Amerika kulit hitam pada tahun 1950-an, yang kemudian  berlanjut  pada  pergerakan feminis dan aktivis homoseksual. Yang lebih mengerikan  sekaligus  banyak yang  belum  mengetahui, lanjut  Ihshan, bahwa  setelah dihapusnya homoseksual dari DSM, salah seorang ketua  penyusun DSM langsung  mendeklarasikan kalau dirinya adalah seorang homoseksual.

Melihat propaganda penyebaran LGBT ini telah melebarkan sayap secara global maka hendaknya kita harus lebih maksimal sebagai seorang pendidik mencegah terjadi di kalangan dunia pendidikan di Indonesia, walaupun dalam hal ini tidak ada niatan mengesampingkan peran orangtua dan masyarakat dalam mensukseskan terlaksananya gerakan anti LGBT di kalangan pelajar. Dr Latipun, dosen Universitas Muhamaddiyah Malang menyampaikan literatur barat tentang konseling LGBT lebih berfokus  pada  penanganan  atas  problem  psikologis  dan  interpersonal  yang  dialami mereka.  Literatur  itu  umumnya tidak  sesuai  dengan  nilai dan budaya kita. Sehingga perlu kajian dan telaah dari sudut pandang BK dalam hal ini motor penggerak adalah para akademisi senior yang harusnya merumuskan formula  sendiri.

Prof. Herman dalam  diskusi  Forum  Rembuk  BK mengemukakan  ketika  ilmu  tidak  bias  menjelaskan sesuatu,  maka  filsafat  bias  menjelaskannya.  Dan  ketika  filsafat  mengalami  kebuntuan,  maka  agama bisa  menjelaskannya. Terkait dengan LGBT,  menurut  saya  itu  bukan  pilihan, tetapi  akibat lingkungan/pendidikan. Sebagaimana  dikemukakan  anggota forum, semua  agama  tidak  membenarkan  LGBT.  Tugas  kita  adalah  mengajak  mereka  ke jalan  yang  benar,  dan  mencegah  anak  didik  kita  dari  LGBT. Ketika ada sebuah pertanyaan mengarah pada teknis, apakah  yang perlu di ambil  dalam  sikap  untuk  praktisi  maupun  akademisi  BK  terkait  LGBT. Prof Herman menjawab tugas kita  menjelaskan  bahwa LGBT itu tidak baik dan dilarang oleh semua agama. Tentu  kita harus yakin dulu bahwa LGBT itu dilarang. Menurut saya, tugas kita sebagai konselor  adalah  menyampaikan kebenaran.  Apakah  klien kita menerima kebenaran atau tidak, itu hidayah dari Tuhan. Keputusan terakhir terletak  pada  klien sendiri. Orangtua  juga  punya  peranan  yang sangat  besar.  Semua  teori pendidikan dan teori konseling menjelaskan bahwa peletak dasar pendidikan pada anak adalah pengasuhnya.  Dalam  pemahaman  saya,  tugas  para  nabi  dan  rasul  adalah  menyampaikan  kebenaran. Begitu  juga  guru,  konselor,  dan  pendidik  lainnya, tugasnya  adalah  menyampaikan kebenaran  kepada anak didik atau kliennya.

Secara teknis Prof. Alimuddin Mahmud Guru Besar BK di Universitas Negeri Makasar  menambahkan  pendapat Rasional  konseling LGBT: 1).  Konseling  untuk semua 2). LGBT dari  perspektif  agama, sesuatu tindakan yang tidak diharapkan. 3). Perilaku LGBT potensial  jadi  penyebab  penyakit  bio-psiko-sosiologis.  4). BK bertanggung jawab untuk mencegah & menanggulangi dampak  negatif  perilaku LGBT.  5). BK  bertanggung jawab  menumbuh  kembangkan setiap individu  ke arah  well  being  person. Dukungan  pernyataan  Prof  Herman dan Prof Ali dalam diskusi  tersampaikan  oleh anggota group  dengan ungkapan  persetujuan  dengan  pendapat-pendapat beliau, hal  ini  terutama  dengan kaitannya  agama  sangat  berperan  penting  dalam  pengentasan  kasus ini, karena  dasar  agama  yang  kuat,  apapun  agamanya   diyakini dapat   menjauhakan  dari  perilaku LGBT, akan tetapi  untuk keterkaitan  tanggung jawab  BK  maka  perlu  diperluas  dengan  menjalin kerjasama dengan orang tua,  guru mapel , dinas  pendidikan  bahkan dinas  kesehatan  dan  pemuka agama.  Karena  target kita  adalah  anak  didik  yang  kita asuh, mungkin perlu ada materi  khusus  tentang  hal ini yang  wajib diberikan pada anak didik  kita  dan formula apa  yang  bisa mendeteksi,  apakah  anak kita tersebut terkena dampak, kemudian  bagaimana  kita  mesti mengatasinya. Karena ternyata hal ini  sangat sensitif sekali dan sangat pribadi sekali bagi  murid kita

Guru Besar dari Universitas Negeri Medan, Prof Abdul mencoba  menguraikan pernyataan  Prof. Sunaryo  dan  Prof.  Syamsu  tentang  topik yang sudah  amat  jelas dan  bagaimana  kita bersikap. LGBT   ini  melanggar  nilai-nilai agama  dan  otomatis  tidak  pancasilais.  Jangan didrible lagi bolanya  sudah  offside. Justru  kita  memberikan  konseling  for all,   yang  megatasi   tidak sesuai  atau menabrak  nilai-nilai  agama  dan  budaya  sebagai  sebagai  sumber  substansi  dalam Pancasila, seperti  sila  pertama. Praktisi  pendidikan  Sugiarto, mengatakan  penanganan  LGBT harus  komprehensif sebagai  bentuk  tanggung jawab  bersama  atas  ancaman  bersama dan hendaknya hasil diskusi ini bisa menjadi embrio kebijakan para penentu kebijakan, perlu dikristalkan, ,dirumuskan, ,dibuat kajian, diseminarkan  dan  dikemas  dalam  sebuah  ide ke BK an yang bisa di usulkan  dari  lembaga ke lembaga, dan hal ini  bisa menjadi sumbangsih BK untuk mengatasi bahaya LGBT.

Ucapan terima kasih di sampaikan Prof Andi  Mapiare  pada rekan sejawat yang telah urun rembuk  dalam  bahasan LGBT, beliau sampaikan secara pribadi  memetik banyak manfaat dari diskusi, menambah  kepakaan,   menambah  informasi  teknis, memunculkan  ide-ide teoretik,  membuka wawasan  baru. Namun demikian, saya pribadi masih merasa kurang, Ketika kita melihat postingan LGBT  itu  sebagai  data  kualitatif  untuk  kita  petakan secara teoretik  maka  rasanya theoretical saturation  masih  jauh  dan  kita  tidak  perlu mengharap adanya kesepakatan substansial entah konseptual  ataupun  teknikal dari diskusi.

Allah berfirman

وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖۤ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ  بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika  dia  berkata  kepada  kaumnya, Mengapa kamu melakukan  perbuatan  keji, yang belum  pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 80)

Ayat  Allah diatas mulai memunculkan usulan teknik tentang  Konseling  eksistensialisme  Islam sudah dibahas diawal diskusi  sebagai  salah  satu  pendekatan  yang  dapat  dikembangkan lagi, dan mengadakan pengukuran sejauhmana mampu mengintervensi perilaku LBGT.  Bicara terkait teknis konseling maka  akan  kita  uraikan  dalam  kesempatan yang lain, yang jelas konseling  sangat diperlu, fokus pembahasan sekarang  pada perkembangan  yang  semakin  kompleks  masalah, terutama tumbuh kembang  anak  sebagai   generasi  penerus  tentu  guru  BK  harus  bisa  menjadi  garda paling  depan  dan  banyak dibutuhkan eksistensinya di Kemensos, Kemenkes, BNN, Kemedikbud, Kemenag, Kementerian  tenaga  kerja  dll  sehingga  perlu  adanya kolaborasi, hal itu  harus dipelopori  oleh ABKIN agar bisa menembus keseluruh lembaga  sehingga BK  akan  semakin  berjaya  untuk  bangsa  dalam  memberikan   ketahanan  nasional. Melalui  forum  ini, ,berawal dari  diskusi  berlanjut  ke hal lain, syukur  kalau  bias  membuat  usulan  melalui  ABKIN  kepada   pemerintah, DPR,  dsb, untuk melindungi para siswa atau remaja dari dampak yang merugikan khususnya LGBT.

Prof Andi  dalam diskusi mengemukakan pendapat, bahwa LGBT  adalah penyakit  kuno yang  dihidupkan kembali di masa kini, berita terbaru  telah  ditolak  untuk  dibahas  dalam  Sidang  IPU. Sidang Umum Inter-Parliamentary Union (IPU) 139. Sidang ini  berlangsung 14-18 Oktober 2018 di Jenewa. Perwakilan dari Indonesia  dengan  tegas  mengadakan penolakan, Indonesia didukung oleh 36 negara dan 9 negara mendukung. Alasan utama penolakan  berharap  parlemen dunia bersama-sama membangun  peradaban dunia, yang  bermartabat  dengan  penegakan  etika  dan nilai moral universal, termasuk nilai-nilai agama. “Tidak  ada agama apapun di dunia ini yang melegalkan  LGBT karena  efek kerusakan yang  ditimbulkannya  bagi  kemanusiaan. Secara  khusus membuat Indonesia menolak adalah merupakan bagian dari misi Indonesia sebagaimana  diamanatkan oleh dasar negara dan konstitusi. “Dasar negara Pancasila dan UUD 1945 jelas menolak penyebaran apalagi pelegalan LGBT.

Jika dunia sudah tidak menghendaki kehadiran LGBT apakah di Indonesia pergerakan  propaganda komunitas ini akan dibiarkan begitu saja, kita bisa belajar  pada  ketegasan  negara  tetangga seperti Turki, Brunei, dll yang  jelas  melarang LGBT  ada  di negara   mereka. Bahkan yang  terjadi di Indonesia sungguh  membahayakan, penggunaan medsos untuk transaksi ber LGBT, komik berisi porno dan kontens  LGBT mulai  menyasar  pada anak-anak,  tayangan  film  lolos  sensor  yang mengandung konten LGBT, beberapa tayangan sinetron, dan lain-lain.

Sebagai  penutup  artikel  bahasan  ini, disampaikan renungan untuk  kita bersama, oleh Prof Prayitno, Guru  Besar  di Universitas  Negeri  Padang.

  1. Lima kebutuhan manusia : kebutuhan fisik, teknik,  sosial,  selera, dan  iman- takwa. Pemenuhan  kelima kebutuhan  itu  saling  terkait  dan terintegrasikan,  untuk  mencapai  kehidupan  yang  DBMSB-DA  (damai,  berkembang,  maju,  sejahtera, dan bahagia  di dunia dan akhirat)
  2. DBMSB-DA dicapai melalui pendidikan, dengan  prinsip  TJS  (“tiga jadi satu”: ilmiah, amaliah, dan imaniah). Jika kaidah  imaniah  tidak jalan maka  kehidupan menjadi sekuler, yang  menomor-satu-kan  dunia dan me-nol- kan akhirat. LGBT dan Z (zina)  serta  narkoba misalnya  termasuk  sekuler, yang  non- imaniah.
  3. BK adalah  pendidikan,   dengan  prinsip  TJS  untuk  penuhi  lima  kebutuhan dasar dan  capai  DBMSB- DA.  Lakukan  layanan  BK  tepat,  efektif  dan berhasil.  Untuk  itu  jadilah  konselor
  4. Konselor profesional  kuasai  dan  laksanakan empat  kompetensi  dasar,  yaitu  kompetensi  pedagogik, kepribadian,  sosial,  dan  profesi   Untuk itu pahami, kuasai dan laksanakan rumusan pendidikan tertulis di UU No 20 th 2003.
  5. Rumusan  pendidikan  dalam  Undang- undang  tersebut,  berdasarkan  Pancasila, benar-benar sesuai prinsip TJS, arah  pemenuhan  lima  kebutuhan dasar, dan DBMSB-DA. Dan pelayanan  BK  termasuk di dalamnya.