Bimbing Aku dengan Kasihmu

Sore itu secara tidak sengaja saya membaca sebuah share tulisan di grup WhatsApp, biasanya saya akan membaca kemudian meletakkan kembali karena model copy paste memang mudah mampir ke komunikasi lewat WhatsApp kadang berisi informasi tentang kesehatan, religi, pola asuh dan sekedar bercanda,  namun sore itu ada share yang menarik hatiku, beginilah isi pesan tersebut:

PEMBINAAN KEDISIPLINAN DENGAN CARA DIJEMUR DAN TELANJANG DADA

Disalah satu sekolah menengah atas.

Tampak puluhan lebih anak laki-laki dibariskan dengan bertelanjang dada plus 1 siswa perempuan dengan hanya membuka jas almamaternya. Habis upacara bendera hari senin kemaren didampingi oleh bapak tentara.

Niatnya sih pembinaan bagi anak yang point pelanggarannya 50 keatas diakumulasi mulai dari kelas X dengan sekalian menjemur anak-anak itu dengan meminjam halaman lapangan milik sekolah yang lain yang kebetulan berdekatan.

Ada anak yang pernah melakukan pelanggaran keterlambatan masuk sekolah dikelas sebelumnya. Sekarang anak tersebut sudah berubah tapi masih mendapatkan sanksi.

Dipanaskan di bawah terik matahari sampai jam 10.00 WIB tanpa mengenakan baju. Apakah ini bentuk pendidikan karakter yang kita gembargemborkan dan himbauan sekolah ramah anak?

Apakah ini termasuk kekerasan fisik dan psikologis

Pada hari ke-2 program “pembinaan” di lapangan perkampungan yang jauh dari sekolahnya anak-anak, bukan hanya dijemur tapi sudah terjadi aktifitas fisik push up, lari dengan tetap tanpa memakai baju.

Bagaimana tanggapan bapak ibu pendidik?

Membaca tulisan ini ada rasa berdesir di dada. ada rasa marah, kecewa, sedih dan beragam tanya, selanjutnya terjadi diskusi panjang di grup WhatsApp, berbagai pendapat bermunculan. Saya tidak tahu siapa penulis awal tulisan ini dan juga sekolah yang dimaksud, tapi yang pasti penulisnya adalah orang yang peduli pada pendidikan.

Akhir-akhir ini dunia pendidikan memang banyak disoroti, guru dan lembaga pendidikan sebaiknya perlu berhati-hati dalam menerapkan proses yang disebut dengan  “pembinaan” apalagi yang melibatkan pihak lain.

Memang tulisan di atas diberi nama pembinaan, menurut KBBI pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang baik.  Pada pembinaan ini yang dikumpulkan adalah anak-anak yang pernah melakukan kesalahan dilihat dari akumulasi point. darimana akumulasi point, tentunya dari rekam jejak kesalahan yang sudah dia lakukan. Anak yang bersalah diperlakukan berbeda tentunya mereka merasa “saya salah saya dihukum”. Yang pasti apapun namanya mereka akan menganggap itu adalah “hukuman” karena akumulasi kesalahan yang sudah dihargai dengan point oleh sekolahnya.

Dalam buku karya Dr. Charles Schaefer yang berjudul Cara Efektif Mendidik dan Mendisiplinkan Anak, menyebutkan bahwa hukuman berarti suatu bentuk kerugian atau kesakitan yang ditimpakan kepada seseorang yang berbuat kesalahan. Tujuan jangka pendek adalah menghentika prilaku yang salah, tujuan jangka panjang ialah untuk mengajar dan mendorong anak menghentikan sendiri tingkah laku yang salah dan mengarahkan diri sendiri.

Masih dalam buku karya Dr. Charles Schaefer, kunci untuk disiplin yang efektif ialah membuat hukuman-hukuman layak, menentukan besar kecilnya bentuk hukuman bukan merupakan pilihan yang diukur dengan gejolak perasaan marah orang dewasa. Suatu hukuman yang logis, pelanggaran yang baru pertama kali dilakukan haruslah seimbang besar atau kerasnya hukuman. Hukuman yang berlebihan akan menyebabkan anak lebih memusatkan pikirannya pada ketidakadilan daripada kesalahan yang mereka lakukan.

Karena itulah hukuman harus direncanakan sebelumnya, hindari menentukan hukuman ketika dalam kondisi marah dan emosional. Anak akan menerima hukuman yang diterima kalau mereka memiliki hubungan yang positif dengan orang yang menghukum, dia bisa membedakan respon ketika berbuat baik dan ketika melakukan kesalahan. Penelitian sudah menunjukkan bahwa hukuman itu umumnya sangat efektif dalam pengembangan pelajaran bila segera dilakukan sesudah perbuatan salah dilakukan. Penundaan dapat menyebabkan seorang anak melupakan apa yang dilakukannya. Sehingga ketika menerima hukuman dia akan sulit menyadari kesalahannya. Dan yang penting hukuman hendaknya bersifat pribadi tidak seorangpun mau dikritik dan dihukum di depan umum. Orang tua atau guru harus memperlakukan anak sebagaimana kita ingin diperlakukan orang lain.

Orang tua dan guru perlu mengembangkan suatu hubungan yang bersifat kasih sayang, anak akan menerima hukuman itu lebih baik kalau mereka mempunyai hubungan yang positif dengan orang tua atau guru. Anak akan merasa dia dihukum karena prilakunya yang salah bukan dihukum karena merasa dibenci.

Karena hukuman itu umumnya menyatakan kegagalan seorang anak dan bila terlalu sering dihukum maka dapat merendahkan harga diri, kepercayaan diri dan semangat, maka lebih baik memusatkan usaha terhadap alat penguat (reinforcement) yang positif  dari tingkah laku yang bisa diterima, daripada penekanan tingkah laku yang salah dengan ancaman hukuman.

Sekolah adalah lembaga yang sangat dibutuhkan anak untuk belajar dan bersosialisasi, dan setiap sekolah punya tujuan yang mulia terhadap anak muridnya. Tempat seorang anak berproses dan memahami pentingnya kerja keras, disiplin dan akhlak yang baik, maka bapak ibu guru bimbinglah mereka dengan kasih sayang. Jika memang harus ada hukuman pastikan yang “cela” adalah kesalahannya bukan karena guru benci mereka. Tetaplah menerima dan menyayanginya dengan kondisi yang terkadang berbuat kesalahan, karena dari situlah pertalian kasih sayang antara guru dan murid akan terjalin.

By: Ninik Trimariya, S.Psi (Guru BK MTs N 1 Malang)