Menggugah Kepedulian Pendidik Dalam Menangani Siswa Kecenderungan LGBT

sumber : suara.com

Oleh: Dwi Atmaja, S.Pd,M.Psi

Munculnya  fenomena  keberanian kaum LGBT untuk mengekspos diri di media sosial sungguh sangat menyedihkan bagi kelangsungan masa depan generasi  bangsa Indonesia saat ini. Bahkan tidak tangung-tanggung propaganda mereka hadirkan dalam bentuk kegiatan di dunia nyata, event  skala besar seperti penyelenggaraan Grand Final Mister dan Miss Gaya Dewata 2018 di Bali yang pada ahkirnya berhasil dibatalkan karena mendapatkan kecaman dari masyarakat serta tokoh agama.

Sebagai pencipta peradaban generasi bangsa kita sebagai seorang pendidik dituntut untuk lebih peka dalam menyikapi permasalahan sosial khususnya berbagai penyakit masyarakat. Munculnya group Gay Pelajar SMP-SMA di Garut  yang  sempat  menjadi  pembicaraan viral di media sosial menunjukan bahwa propagnda menebar racun perusak moral dan agama sudah memasuki dunia pelajar.

Dampak terburuk LGBT selain menimbulkan penyakit seks menular, bagi dunia pendidikan akan mengakibatkan  kemungkinan besar peserta didik gagal menuntaskan  sekolah,  rusaknya moral  dan karakter religus, dan musnahnya suatu peradaban bangsa.

Membentengi moral generasi penerus bangsa dari dampak LGBT mutlak dilakukan, dengan memperhatikan dua  faktor antara lain, pertama perhatian serta pola asuh keluarga dan kedua kepekaan  terhadap  perkembangan lingkungan. Karena kedua faktor tersebut merupakan pondasi  utama yang diperlukan. Bicara pada aspek kedua, LGBT bisa dicegah melalui peran pro aktif sekolah dalam mempersiapkan strategi khusus mengantasipasi maraknya Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender.

Pendidik  harusnya  hadir  dalam  setiap  saat  menguatkan pemahaman agama  agar siswa tidak  terjangkiti virus LGBT terutama peran guru Bimbingan dan Konseling menjadi tempat konsultasi pemecahan masalah  psikologis  kecenderungan berpotensi  LGBT.  Untuk mencapai hasil yang  maksimal perlu  kiranya  perumusan yang  tepat dalam teknik pendekatan konseling penanganan siswa berpotensi  LGBT  yang harus dikuasai oleh para guru Bimbingan dan Konseling. Tetapi sebelum melangkah ke arah yang lebih jauh, kita kembali mengupas penyegaran praktek konseling  itu sendiri.

Dalam kesempatan di awal Prof. Partino, guru besar BK di Universitas Cenderawasih menyampaikan perlu menggalakan penelitian keefektifan konseling dengan berbagai dasar teori, karena masih banyak dijumpai di lapangan, para guru BK belum menguasai praktek konseling secara maksimal. Pendapat beliau didukung oleh Guru Besar BK dari UPI Bandung dan menjabat sebagai duta besar di Uzbekistan, Prof. Sunaryo, menurutnya ada kemungkinan tidak semua mahasiswa di kampus memperoleh pelatihan praktek konseling dengan baik. Bagaimanapun juga praktek konseling tidak mungkin berjalan baik tanpa memahami teori konseling dengan benar.

Proses konseling bukan hanya sekedar “tanya jawab” antara konselor-konseli. Konselor harus memiliki grand design tentang apa dibalik komunikasi tersebut untuk mempengaruhi cara berpikir konseli. Salah satu hal yang dikuasai adalah bahasa dalam konseling dan selama ini hampir tidak pernah dipelajari secara khusus oleh para calon konselor. Di sisi lain tidak ada  teori  konseling  lepas  konteks. Praktek konseling berdasarkan teori yang  ada,  harus beranjak dari pemahaman konseli dalam konteks kekinian. Perkembangan kognitif ala Piaget mungkin sudah perlu kita riview dalam konteks kekinian di era disruption dan multitasking.

Guru besar UPI Prof. Suherman menambahkan argumen pendukung dalam penekanan perbedaan konseling dan wawancara, dalam hal membedakan perlu dilihat dari tujuan dan tahapan yang dilalui. Tahapan dalam  konseling  perorangan  juga  berbeda-beda untuk setiap pendekatan. Secara umum tahapan dalam konseling perorangan menurut beliau ada lima, yaitu pengantaran, penjelajahan, penafsiran, pembinaan, dan penilaian.  Setiap konseling perorangan harus mengikuti tahapan tersebut secara berurutan, sementara wawancara biasanya tidak seperti itu.

Diawal tahun 19  Januari  2018  terdapat berita  heboh  yang  dilansir  oleh  media  koran terkenal  di Jawa Barat, Pengakuan Gay Kota Bandung Dapat Teman Berkencan Cukup Lima Menit Chat. Perkembangan pergerakan mereka di medsos sungguh sangat memprihatinkan, di mana perkembangan pesat tersebut tidak disertai belum maksimalnya kemampuan dan kepedulian para pendidik dalam hal pencegahan penyebaran virus LGBT di kalangan pelajar. Sehingga perlu penekanan dan rumusan yang tepat menciptakan dalam menghasilkan formula antisipasi dampak LGBT. Khusus dalam hal ini memaksimalkan peran guru Bimbingan dan Konseling, pertama melalui pengembangan metode  pencegahan di layanan  klasikal  (tatap muka di kelas) tentang dampak terburuk  yang  akan diterima jika masuk pada ranah pergaulan bebas tersebut. Kedua mengaktifkan fungsi layanan kolaborasi dengan orangtua ataupun pihak terkait  dalam rangka mencegah virus menular penyakit masyarakat ini masuk di dunia pendidikan. Ketiga dalam fungsi pembinaan siswa yang berpotensi LGBT sendiri  dapat ditempuh  melalui layanan konsultasi maupun konseling.

Guru Besar  BK  dari Universitas Negeri Malang, Prof. Andi Mapiare terkait  alternatif  pendekatan konseling untuk siswa berpotensi LGBT dapat melalui pendekatan Eksistensialisme. Pendekatan ini dicetuskan pemikiran Soren Kiekegaard, Nietzche, dan Karl Japers. Kemudian seiring waktu dikembangkan oleh Martin Heidegger dan Jean Paul Sartre.  Pendekatan ini menentang upaya apapun untuk melihat  manusia sebagai objek, namun  Kiekegaard sebagai pencetus, dia juga menentang bahwa persepsi subjektif hanya satu-satunya realitas manusia. Kiekegaard dan para pengikutnya, menekankan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Dalam ranah Bimbingan dan Konseling mengarahkan pada pendekatan yang menghargai prinsip-prinsip demokrasi, fokus pad dialogis, dan sebuah kebebasan dikategorikan sebagai sebuah pilihan.

Dalam kesempatan  diskusi  Prof Sunaryo, mencoba mencari  ketegasan usulan yang dilontarkan oleh  Prof Andi.  Kiekegaard atau Nietzche apakah eksistensialisme theistic atau atheistic. Menurut beliau pilihan tersebut normatif, terikat konsekuensi, persoalan nilai baik atau buruk dan benar atau salah. Sehingga ketika dikaitkan dengan LGBT akan muncul paham yang salah bahwa LGBT adalah sebuah pilihan. Justeru sekarang yang hendaknya di kedepankan adalah pandangan filosofis tentang manusia Indonesia seutuhnya. Jika dipandang LGBT sebagai pilihan hidup, maka perlu bingkai dasar secara Islami (agama) itu adalah sebuah kesalahan maka hal ini dapat diterjemahkan sebagai pilihan terkait nilai dan tanggung jawab.

Jika kita ketahui  secara  garis  besar, eksistensialisme  mempunyai ciri, pertama penolakan untuk  dimasukan  dalam  aliran filsafat tertentu; kedua tidak ada pengakuan adekuasi sistem filsafat dan ajaran kenyakinan (agama),  dan ketiga menganggap sistem tradisional bersifat dangkal akademis dan jauh dari kehidupan. Pada dasarnya  jika  kita  analisis, respon reaktif  yang disampaikan oleh Prof Sunaryo terletak pada point kedua, dimana agama lebih dikesampingkan. Menanggapi pertimbangan yang  diatas Prof andi dengan uraian singkat  bahwa dalam pendekatan ini masih terdapat juga tokoh-tokoh yang mengedepankan religius dalam proses berpikir seperti misal Rollo May.  Kesepakatan tercapai antara pemikiran  dari kedua Guru Besar di atas, jika menggunakan pendekatan eksistensialisme untuk penanganan siswa berpotensi  LGBT  maka  dalam hal ini konselor harus siap bertanggung jawab terhadap  sistem  nilai  yang  di anut  oleh konseli, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip moral masyarakat dan nilai religius. Sehingga konselor dituntut untuk berperilaku etis, berperilaku rasional, dan memabangun nilai keagamaan yang kuat  dan  mendorong konseli bertanggung jawab atas pilihannya.

Dukungan penguatan nilai keagamaan dalam penanganan siswa berpotensi LGBT juga disampaikan oleh  Guru Besar UPI  Prof.  Syamsu, Jika  konseling  hanya  didasarkan pada filsafat dan tidak menyertakan nilai-nilai primodial insani sebagai mahkluk  beragama, maka pemilihan kepada corak hidup manapun menjadi suatu pembenaran. Sekarang tinggal berpulang kepada kita semua, mau kemana arah konseling yang akan diprogramkan. Apakah pancasila (yang didalamnya terkandung nila-nilai illahiyah dan insaniyah) masih  menjadi dasar rujukan, atau  liberalisme, sekulerisme, dan LGBTisme. Prof Sunaryo secara teknis menambahkan ada pesan khusus yang harus dilakukan oleh konselor pada konseli, dengan mengatakan “Bagi saya LGBT itu sebuah kesalahan, perilaku tidak sehat, dan perilaku tidak sesuai norma”. Dan tidak membawa konseli kepada dunia berpikir bahwa LGBT sebagai pilihan. Perkara konseli  tetap  lebih  memilih  hidup  ke arah LGBT itu resiko dan tanggung jawab sendiri. Tetapi secara prinsip dan filosofis konselor harus berangkat dari prinsip diatas.

Prof Sunaryo menegaskan, jika konseling bertujuan  membawa  manusia ke hidup yang lebih baik dan benar, maka perlu ditanyakan dari mana sumber kebaikan dan kebenaran. Jawabannya adalah filsafat, Seorang konselor harus punya filsafat konseling  yang  berdasarkan pada filsafat manusia yang dipegangnya dengan seperti itu konselor akan memahami tujuan universal dan mengetahui apa yang terbaik (what is the best) untuk konseli, walaupun banyak aliran filsafat pada ahkirnya pilihan kembali pada konselor harus memiliki filsafat  sendiri yang dipegang.

Dalam penutup diskusi Prof. Syamsu menceritakan ketika diminta bicara di Makamah Kontitusi (MK) yang terkait dengan yudical  review terhadap pasal KHUP mengenai ke LGBT an, beliau mengatakan Gerakan LGBT ini adalah gerakan pemusnah spesies manusia, yang secara akal sehat apalagi agama harus dihadapi serius. Yudical review yang diusulkan adalah perluasan rumusan klausul-klausul dari beberapa pasal yang memiliki kepastian hukum jelas, terutama bagi pelaku homo/lesbi, dan free seks baik orang dewasa (umum), mahasiswa atau siswa (remaja). Sebab sekarang di negara tercinta yang dasarnya Pancasila ini, menurut beliau belum ada delik hukum bagi pelaku homo/lesbian dan free seks. Kecuali ada delik aduan dalam kasus pemerkosaan misalnya, sementara bagi  pelaku yang suka sama suka, aman-aman saja. Yudicial review yang disajikan oleh kelompok beliau, ternyata kalah dengan orang-orang yang membela LGBT. Menurut beliau sebagai pendidik, baik secara bersama-sama organisasi profesi ISPI, ABKIN, dan PGRI harus  sepakat  menghadapi mafia LGBT, karena virusnya tidak berbeda dengan mafia narkoba. Yang terpenting juga untuk para guru BK atau konselor dalam melaksanakan layanan bk di sekolah sebaiknya menerapkan “Large group guidance, Classroom guidance, atau small group guidance” sebagai primadona layanan  yang berfungsi sebagai preventif dan pengembangan.

Menurut  beliau untuk  sementara  kasus-kasus yang akut lebih baik direferal ke ahlinya, seperti kasus pecandu narkoba atau pelaku homo/lesbi. Dari pengalaman beliau ngobrol dengan seorang  homo  yang  sudah akut, ternyata pelaku homo sudah canggih berhomo, yaitu melalui cybersex. Nampak dari obrolan, perilaku homo tersebut  sudah  menjadi keyakinan atau jalan hidupnya, tidak nampak pula perasaan bersalah atau berdosa. Beliau tidak ada niatan pada saat itu untuk melakukan konseling karena hanya batasan ngobrol sesaat. Pelaku homo tersebut juga menceritakan berkembangnya komunitas homo di Indonesia sangat pesat. Menurutnya untuk menghentikan gerakan LGBT ini sepertinya harus  ada suara dari langit atau dari dalam bumi, sebab suara dari atas bumi ini sudah tidak ada yang didiengar, wallahu’alam bishshawaab.

Prof Sunaryo, dalam  kesempatan terahkir diskusi menyampaikan kalau sikap LGBT dianggap melanggar HAM dan LGBT sebagai pilihan atas nama HAM, maka pada saat ini generasi bangsa Indonesia tengah menghadapi dan berada dalam asymetric war, perang ideologi yang akan menghancurkan Pancasila yang menempatkan agama sebagai salah satu sumber kebenaran yang diyakini semua agama, menyatu dalam Pancasila menolak LGBT. Dan sekarang LGBT sudah menjadi ideologi dan kita sedang perang ideologi.