Jangan Anggap Enteng Bacaan Ringan

,

Sebagai orang tua, tentu saja bahagia melihat anak-anak menyukai kegiatan membaca buku. Meskipun demikian, ada juga orang tua  berpendapat hanya buku-buku tertentu saja yang dianggap “layak” untuk dibaca. Bahkan, ada yang cenderung mengarahan anaknya untuk membaca buku-bu nonfiksi saja. Benarkah bacaan fiksi itu ringan dan kurang sarat nilai?

Fiksi merupakan cerita rekaan yang tentu saja tidak persis dalam kehidupan nyata. Namun, setidaknya harus diingat apa yang pernah dikatakan A Teeuw, bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Artinya, cerita fiksi dapat menggambarkan kebudayaan yang hidup pada masyarakat tertentu dan pada kurun waktu tertentu.

Pada bacaan fiksi ada banyak pelajaran yang dapat dipetik. Selain itu dengan penggunaan gaya bahasa fiksi justru pembaca, lebih-lebih usia anak-anak sampai remaja, akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Mengapa demikian? Karena tanpa disadari, pembaca dengan sendirinya, secara otomatis, akan mengidentifikasikan dirinya menjadi salah satu tokoh dalam cerita yang dibacanya. Terlebih lagi novel yang memiliki jalan ceritanya lebih panjang dan relatif rumit permasalahan yang dihadapi oleh para tokoh-tokohnya. Perasaan menjadi pelaku tokoh utama tumbuh menjadi lebih kuat lagi.

Penulis kesohor Tere Liye rupanya menangkap peluang emas pentingnya bacaan enteng (cerita sehari-hari). Ia sering mengambil peran kesederhanaan sosok ibu. Sosok ibu yang di balik kesederhanaan terpendam jurus jitu dalam membesarkan anak. Sebut saja dalam Novel Seri Anak Mamak: Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Keempat novel tersebut menggambarkan kehidupan anak-anak dari sepasang suami isteri sederhana. Kedua orang tuanya bermata pencaharian sebagai petani di hutan. Bisa dibayangkan, tentu saja kehidupan mereka jauh dari gemerlapan kota dan kemewahan sarana prasarana.

Lalu dengan segala keterbatasan itu apakah mengungkung mereka? Tidak pernah. Mereka tetap tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas dan bermental baja. Gaya bahasa lugas khas anak-anak dan racikan kisah sehari-hari justru dapat dinikmati oleh semua kalangan, tak hanya anak-anak. Sebuah oase segar, terutama bagi yang menginginkan sebuah novel berlatar pedesaan bukan metropolitan.

Sebagai contoh, tokoh Pukat dan Burlian yang pernah mengeluhkan makanan yang mereka makan sehari-hari. Rupanya Mamak telah menyiapkan hukuman yang kelak akan mereka ingat seumur hidup. Bukan hukuman fisik semata, tetapi lebih kepada hukuman yang mendidik. Mereka mendapatkan hukuman menanam padi. Ya, mereka benar-benar dilibatkan mulai dari proses membuka hutan hingga acara memanen. Bahkan, karena kecerobohannya hampir saja membuat mereka termakan si jago merah. Dari situ, mereka akan lebih mengerti bagaimana sepiring nasi dihidangkan, melalui perjuangan yang tidak mudah. Maka, sudah selaiknya, memuji makanan alih-alih mencaci.

Ada lagi tokoh Amelia yang sering menuduh kakaknya galak, tak punya empati, dan suka mengatur. Orang tuanya memiliki kiat jitu untuk memaafkan tugas seorang kakak kepada Amelia. Ia diminta melakukan segala hal biasa dilakukan oleh Eliana. Amelia yang biasanya bangun harus dibangunkan, mendadak berkewajiban untuk menyiapkan makanan orang serumah dan membangunkan kedua kakak lelakinya. Dia menjadi tahu, betapa besar pengorbanan seorang kakak, dan betapa beban yang dipikul tak ringan, serta tanggung jawab yang tidak mudah. Pada akhirnya Amelia pun tahu, Eliana sangat menyayanginya. Amelia benar-benar menangis saat ia jatuh di hutan dan kakaknya yang menggendong hingga sampai rumah dan jatuh pingsan.

Ada cerita lagi tentang Burlian dan Pukat yang mengatakan kalau mencuci perangkat dapur dan pakaian adalah tugas seorang perempuan bukan tugas laki-laki. Dengan senang hati Mamak mengalihkan “pekerjaan perempuan”  itu kepada keduanya. Mereka nantinya akan tahu bahwa ternyata urusan makan tidak sekadar masuk perut dan kenyang. Ada pekerjaan lain menanti di ujung acara makan, yaitu  membereskan piring-piring kotor dan gelas. Tentu saja, itu bukan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang perempuan.

Suatu hari, Burlian pernah menuntut sebuah hadiah sepeda. Memang ia mendapatkan sepeda yang diinginkan. Namun, di kemudian hari ia harus menebus dengan penyesalan yang mendalam. Ternyata, uang yang digunakan itu adalah uang dari hasil menggadaikan cincin kawin ayah ibunya. Sampai masa jatuh tempo tidak bisa menebus cincin tersebut dan cincin orang tua merka pun terlelang. Cincin kawin yang tak pernah kembali lagi. Burlian tahu saat tak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya lepas tahajud. Mamak yang tak pernah menangis itu menangis di depan suaminya.

Dengan demikian, membaca sebuah cerita itu banyak hal yang didapatkan. Bahkan, dalam sekuel novel tersebut juga terdapat sembilan nilai integritas pendidikan antikorupsi, yang meliputi jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja  keras, sederhana, berani dan adil. Kesemua nilai itu terdapat di novel seri anak mamak yang notabene sering kali dikatakan sebagai bacaan ringan. Masihkah menganggap enteng bacaan ringan?

Penulis : Yeti Islamawati, S.S. Guru di MTsN 9 Bantul. (surel yetiislamawati@gmail.com; IG: @yetiislamawati; FB: Yeti Islamawati)

tulisan ini pernah dimuat dalam solopos edisi 24 Februari 2019