Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

,

foto : ilustrasi

Oleh : Zaki Fahrizal

Kasus kekerasan siswa oleh guru yang terjadi di Kota Pangkalpinang beberapa waktu lalu menjadi tamparan bagi dunia pendidikan Indonesia. Aksi pembenturan dan pemukulan yang dilakukan guru secara membabi-buta hanya karena keisengan siswa yang berbuah penganiayaan. Akibat penganiayaan itu, korban (siswa) sampai dirawat. Bagimana tidak meresahkan para orangtua, kasus seperti itu ternyata masih terjadi di dunia pendidikan kita.

Selain kasus di atas, beberapa waktu lalu Polisi menangkap seorang pelaku pencabulan berinisial WS di Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang. Pria yang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar, mencabuli puluhan bocah laki-laki. Rata-rata usia anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh tersangka antara 10-15 tahun dan semua berjenis kelamin laki-laki. Kapolresta Tangerang Kombes Sabilul Alif mengatakan peristiwa tersebut berawal saat pelaku ditinggal istrinya yang bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) sejak April 2017. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku diduga mempunyai ilmu hitam yang membuat anak-anak berusia 10-15 tahun menghampirinya.

Semua contoh kasus tersebut bermuara di satu masalah utama, yaitu pendidikan. Lantas apa dan bagaimana model pendidikan yang tepat bagi Indonesia? bukankah Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan berupa Pendidikan Karakter di sekolah? Namun mengapa masih terjadi kasus-kasus kekerasan dan pelecehan terhadap siswa di sekolah? bukakah sekolah tempat mencetak generasi yang baik? Ada sistem yang salahkah dengan pendidikan Indonesia? Siapa saja yang bertanggung jawab terhadap pendidikan di Indonesia? Dua kasus di atas bentuk pendidikan karakter atau karakter pendidikan Indonesia?

Pendidikan dapat dipandang sebagai proses penting untuk memenuhi janji kemerdekaan. Tidak peduli di mana pun. “Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah sebuah janji yang harus dilunasi untuk setiap anak bangsa Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan telah memegang peranan penting bagi perubahan negeri ini. Pendidikan yang berkualitas akan mencetak generasi masa depan yang juga berkualitas. Pemerintah dari hari waktu ke waktu berusaha memperbaiki khualitas layanan pendidikan baik dari segi sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini pendidikan dan tenaga kependidikannya, infrastruktur layanan pendidikannya, serta rumusan-rumusan  pendidikan nasional yang sudah diatur sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Rumusan pendidikan nasional secara keseluruhan telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang tersebut, dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kemampuan kognitif bukanlah satu-satunya yang dibutuhkan seorang siswa. Ada faktor lain yang lebih berpotensi dikembangkan  yakni kemampuan afektif (moral). Kemampuan moral ini berhubungan dengan karakter seseorang. Pendidikan karakter harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan harus terintegrasikan dengan tujuan pendidikan nasional.

Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran.  Sekolah menjalankan perannya dengan baik, peran tersebut misalnya sekolah mempersiapkan peserta didiknya memiliki  pengetahuan, keterampilan dasar, dan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan untuk masa depan peserta didiknya.

Nilai-nilai luhur merupakan bentuk dari kearifan lokal yang sudah diwariskan dari generasi ke genarasi secara turun temurun. Menurut Keraf (2010: 369) kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Jadi kearifan lokal ini bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik di antara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan bagaimana relasi di antara semua penghuni komunitas ekologis ini harus dibangun. Seluruh kearifan tradisional ini dihayati, dipraktikkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lain yang sekaligus membentuk pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam dan Yang Gaib.

Bentuk akhir dari kearifan lokal yang berkembang di masyarakat kemudian menjadi sebuah tradisi. Dalam masyarakat kita, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, mantra, petuah, semboyan, kitab-kitab kuno, tarian, sistem mata pencahariaan, sistem kepercayaan dan  yang perilaku manusia sehari-hari. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari.

Sebagai contoh, masyarakat Baduy yang ada di Provinsi Banten secara tradisi terus berpegang pada nilai-nilai lokal yang diyakini kebenarannya dan menjadi pegangan hidup yang diwariskan secara turun temurun. Sebagai   kesatuan   hidup,   masyarakat  Baduy memiliki nilai sosial-budaya yang layak dikembangkan  dalam dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat kota zaman ini. Nilai sosial-budaya seperti kesetiakawanan  (solidaritas)   dalam melakukan aktivitas hidupnya. Selain memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, masyarakat adat juga memiliki budaya luhur lain yang berupa gotong-royong, rendah hati (sederhana), musyawarah, dan kerukunan, serta menghargai alam sebgai sumber kehidupan.

Perhatikan pepatah  Baduy  berikut ini.

Gunung teu beunang dilebur

Lebak teu beunang dirakrak

Buyut teu beunang dirobah

Larangan aya di darat di cai

Gunung aya maungan, lebak aya badakan

Lembur aya kokolota, leuwi aya buayaan

Pepatah-pepatah tersebut diperuntukkan dari berbagai segi dan aspek kehidupan, isinya lebih cendrung pada mengingatkan, menasehati, gambaran berupa ajakan serta simbol-simbol kehidupan dan bukan berupa perintah ataupun larangan apalagi berupa ancaman atau hukuman. Saya memperkirakan pepatah tersebut merupakan undang-undang tidak tertulis mereka yang dijadikan sebagai penuntun dan pedoman hidup mereka dan itu tercermin dalam perilaku kehidupa sehar-hari sejak nenek moyang mereka lahir sampai anak cucunya sekarang. Nilai budaya tersebutlah yang kemudian diyakini sebagai cara paling ampuh dalam mengelola alam.

Kemudian legenda Danau Tasikardi dari Kota Serang. Tasikardi berasal dari kata ‘tasik’ yang artinya danau dan ‘ardi’ yang artinya buatan. Asal mula tempat yang disebut dengan Tasikardi memeunculkan nama tokoh, yaitu ‘Siti Badriyah’ yang dianggap oleh masyarakat sebagai penunggu atau  penguasa Danau Tasikardi. Riwayat tentang Siti Badriyah tidak diketahui secara  pasti namun kemungkinan besar merupakan salah satu puteri dari keraton atau puteri sultan.

Keberadaan Siti Badriyah diakui oleh masyarakat karena dapat dibuktikan dengan kemunculan penampakan seorang puteri yang kecantikannya luar biasa dengan ciri fisik berambut panjang sepinggang, apabila air danau surut kadang Siti Badriyah terlihat berjalan dari kampung Kenari menuju Danau Tasikardi, kemudian mengontrol saluran air dari Danau Tasikardi, kadang menampakkan diri dengan menunggang kuda atau macan.

Di dalam cerita rakyat terkandung nilai-nilai yang dapat kita pelajari. Nilai-nilai itu dapat berbentuk nilai hormat mengormati, sikap saling menghargai, nilai toleransi, dan nilai peduli akan lingkungan alam serta nilai religius. Nilai rasa hormat, yaitu sikap dan sifat menghargai orang lain. Nilai toleransi, nilai peduli lingkungan alam, dan nilai religius, yaitu perilaku yang berpedoman kepada syariat Islam atau keyakinan bahwa selain manusia, Allah SWT juga menciptakan jin, setan, iblis (mahluk gaib).

Sistem budaya lokal merupakan modal  yang  besar,  telah  tumbuh  dan  berkembang secara turun-temurun yang hingga kini kuat berurat-berakar di masyarakat. Oleh karena itu,  penting  untuk  menjaga kearifan lokal, mengingat peranannya  dalam  membantu  penyelamatan sikap, dan sebagai sumber pembelajaran bagi siswa di lingkungan sekolah. (*)

Tulisan ini dimuat di Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten edisi April 2019