Empat Nilai Utama Kompetisi

Manusia merupakan makhluk unik yang tidak lepas dari kompetisi dalam menjalani hidupnya, dunia ini tidak akan seramai sekarang bila tidak ada kompetisi. Dari manusia yang muda hingga tua sekalipun mereka akan terus menjalani hidupnya dengan kompetisi. Allah Swt. Telah memberikan musuh dalam kehidupan manusia yang kita kenal bersama dengan sebutan iblis atau setan yang selamanya membuat manusia tersesat dalam kesesatan yang nyata, kompetisi antara perbuatan baik dan buruk akan berlangsung sampai hari kiamat.

Marilah kita sambut Kompetisi Sains madrasah (KSM) tahun 2019 ini dengan penuh suka cita. Mengapa demikian? Karena ini adalah hajat besar bagi para pendidik di lingkungan madrasah dan para siswa untuk membuktikan kemampuannya dalam berbagai keahlian yang diampunya. Hajatan besar ini akan sukses bilamana memperhatikan etika dan norma yang terkandung di dalamnya.

Tujuan diadakannya sebuah kompetisi tiada lain adalah untuk mendidik peserta didik agar memiliki karakter pejuang, hingga dikemudian hari mampu bersaing dengan bangsa lain. Untuk mempertahankan keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berkembangnya minat dan bakat di bidang sains sehingga dapat berkreasi dan mencintai sains. Siswa madrasah memilili motivasi untuk selalu meningkatkan kompetensi intelektual, emosional dan spiritual, berdasarkan nilai-nilai agama, sehingga menjadi yang terbaik dibidangnya. Berkembangnya budaya yang kompetitif yang sehat dikalangan siswa madrasah. Terjaringnya bibit unggul dan berprestasi sebagai calon peserta ajang kompetisi tingkat internasional. Menghasilkan siswa-siswi terbaik disetiap bidang dan menjadi sumber daya manusia yang mencintai bidang keilmuannya.

Dari tujuan di atas diharapkan muncul sebuah karakter positif yang tertanam pada para peserta didik. Sehingga dapat memunculkan generasi muda yang kompetitif dan berdaya saing tinggi dalam menghadapi era globalisasi.

Nilai yang dimaksud diantaranya :

  1. Integritas (kejujuran)

Kejujuran adalah modal kehidupan seorang manusia, kita masih berharap sebuah kompetisi dapat memunculkan sifat jujur meskipun secara emosional rasa lelah menuntut kita untuk menang dengan berbagai cara, namun ingat hidup manusia tidaklah lama semua perbuatan buruk ada hisabnya. Semoga kompetisi yang bersih dari kelicikan dan kemunafikan, dapat melahirkan generasi yang tidak putus asa, berintegritas, dan yang dapat mengharumkan agama serta bangsanya.

  1. Adil

Tetaplah junjung tinggi nilai-nilai keadilan, bila kita merasa makhluk yang berakal. Saat kita menjadi seorang juri, wasit atau pelatih, keimanan kita diuji, sejauhmana nilai keadilan dapat ditegakkan. Janganlah ciptakan dendam kesumat akibat juri yang berat sebelah, janganlah timbulkan perselisihan akibat juri yang lemah aqidah dan akal. Mari kita junjung nilai keadilan yang di negeri ini agar bangsa kita di ridoi Allah Swt. dan terhindar dari azab-Nya.

  1. Keberanian

Kompetisi merupakan ajang pembajaan mentalitas peserta didik dan penanaman rasa percaya sejak usia dini. Sehingga keberanian ini berbuah positif, walau tak sedikit anak-anak hari ini yang berani kurang ajar pada orang tuanya, berani berbuat maksiat dengan dipertontonkan pada khalayak ramai. Cara menyalurkan keberanian mereka tentu salah kaprah, semoga kompetisi yang berlangsung jujur dan adil ini menghasilkan generasi penerus bangsa yang berani berkompetisi dengan elegan dan memahami kaidah-kaidah yang harus dijunjung tinggi olehnya.

  1. Lapang Dada

Setiap kompetisi harus ada yang menang maupun yang kalah. Bilamana kita dipihak yang kalah seyogyanya dapat menerima dengan hati yang lapang dada, sehingga tujuan dari kompetisi ini dapat tercapai. Bilamana kita dipihak yang menang jauhkan sifat pongah dan sombong sehingga tidak menyinggung perasaan pihak yang kalah. Karena setiap kemenangan bukan hanya peranan kita semata namun semua karena “biiznillah”. Ketetapan Allah Swt. yang senantiasa mengiringi langkah hidup kita.

“Jangan ada dusta diantara kita!”

Kita sering mendengar kalimat tersebut. Kalimat tersebut merupakan solusi bangsa hari ini untuk diberbagai bidang. Jangan kesampingkan harta, tenaga dan waktu yang dialokasikan para peserta dalam sebuah kompetisi. Jangan cedrai pembimbing dan peserta yang bekerja keras untuk menjadi juara dalam sebuah kompetisi, mari kita hargai setiap pengorbanan mereka dan ingatlah sumpah yang terucap, setiap tindakan pasti ada balasannya.

Ditulis Oleh: Ruslan Zaenudin, S.Pd.I (Guru MIN 3 Pangandaran Kec. Kalipucang Kab. Pangandaran)

Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

,

foto : ilustrasi

Oleh : Zaki Fahrizal

Kasus kekerasan siswa oleh guru yang terjadi di Kota Pangkalpinang beberapa waktu lalu menjadi tamparan bagi dunia pendidikan Indonesia. Aksi pembenturan dan pemukulan yang dilakukan guru secara membabi-buta hanya karena keisengan siswa yang berbuah penganiayaan. Akibat penganiayaan itu, korban (siswa) sampai dirawat. Bagimana tidak meresahkan para orangtua, kasus seperti itu ternyata masih terjadi di dunia pendidikan kita.

Selain kasus di atas, beberapa waktu lalu Polisi menangkap seorang pelaku pencabulan berinisial WS di Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang. Pria yang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar, mencabuli puluhan bocah laki-laki. Rata-rata usia anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh tersangka antara 10-15 tahun dan semua berjenis kelamin laki-laki. Kapolresta Tangerang Kombes Sabilul Alif mengatakan peristiwa tersebut berawal saat pelaku ditinggal istrinya yang bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) sejak April 2017. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku diduga mempunyai ilmu hitam yang membuat anak-anak berusia 10-15 tahun menghampirinya.

Semua contoh kasus tersebut bermuara di satu masalah utama, yaitu pendidikan. Lantas apa dan bagaimana model pendidikan yang tepat bagi Indonesia? bukankah Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan berupa Pendidikan Karakter di sekolah? Namun mengapa masih terjadi kasus-kasus kekerasan dan pelecehan terhadap siswa di sekolah? bukakah sekolah tempat mencetak generasi yang baik? Ada sistem yang salahkah dengan pendidikan Indonesia? Siapa saja yang bertanggung jawab terhadap pendidikan di Indonesia? Dua kasus di atas bentuk pendidikan karakter atau karakter pendidikan Indonesia?

Pendidikan dapat dipandang sebagai proses penting untuk memenuhi janji kemerdekaan. Tidak peduli di mana pun. “Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah sebuah janji yang harus dilunasi untuk setiap anak bangsa Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan telah memegang peranan penting bagi perubahan negeri ini. Pendidikan yang berkualitas akan mencetak generasi masa depan yang juga berkualitas. Pemerintah dari hari waktu ke waktu berusaha memperbaiki khualitas layanan pendidikan baik dari segi sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini pendidikan dan tenaga kependidikannya, infrastruktur layanan pendidikannya, serta rumusan-rumusan  pendidikan nasional yang sudah diatur sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Rumusan pendidikan nasional secara keseluruhan telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang tersebut, dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kemampuan kognitif bukanlah satu-satunya yang dibutuhkan seorang siswa. Ada faktor lain yang lebih berpotensi dikembangkan  yakni kemampuan afektif (moral). Kemampuan moral ini berhubungan dengan karakter seseorang. Pendidikan karakter harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan harus terintegrasikan dengan tujuan pendidikan nasional.

Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran.  Sekolah menjalankan perannya dengan baik, peran tersebut misalnya sekolah mempersiapkan peserta didiknya memiliki  pengetahuan, keterampilan dasar, dan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan untuk masa depan peserta didiknya.

Nilai-nilai luhur merupakan bentuk dari kearifan lokal yang sudah diwariskan dari generasi ke genarasi secara turun temurun. Menurut Keraf (2010: 369) kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Jadi kearifan lokal ini bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik di antara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan bagaimana relasi di antara semua penghuni komunitas ekologis ini harus dibangun. Seluruh kearifan tradisional ini dihayati, dipraktikkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lain yang sekaligus membentuk pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam dan Yang Gaib.

Bentuk akhir dari kearifan lokal yang berkembang di masyarakat kemudian menjadi sebuah tradisi. Dalam masyarakat kita, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, mantra, petuah, semboyan, kitab-kitab kuno, tarian, sistem mata pencahariaan, sistem kepercayaan dan  yang perilaku manusia sehari-hari. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari.

Sebagai contoh, masyarakat Baduy yang ada di Provinsi Banten secara tradisi terus berpegang pada nilai-nilai lokal yang diyakini kebenarannya dan menjadi pegangan hidup yang diwariskan secara turun temurun. Sebagai   kesatuan   hidup,   masyarakat  Baduy memiliki nilai sosial-budaya yang layak dikembangkan  dalam dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat kota zaman ini. Nilai sosial-budaya seperti kesetiakawanan  (solidaritas)   dalam melakukan aktivitas hidupnya. Selain memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, masyarakat adat juga memiliki budaya luhur lain yang berupa gotong-royong, rendah hati (sederhana), musyawarah, dan kerukunan, serta menghargai alam sebgai sumber kehidupan.

Perhatikan pepatah  Baduy  berikut ini.

Gunung teu beunang dilebur

Lebak teu beunang dirakrak

Buyut teu beunang dirobah

Larangan aya di darat di cai

Gunung aya maungan, lebak aya badakan

Lembur aya kokolota, leuwi aya buayaan

Pepatah-pepatah tersebut diperuntukkan dari berbagai segi dan aspek kehidupan, isinya lebih cendrung pada mengingatkan, menasehati, gambaran berupa ajakan serta simbol-simbol kehidupan dan bukan berupa perintah ataupun larangan apalagi berupa ancaman atau hukuman. Saya memperkirakan pepatah tersebut merupakan undang-undang tidak tertulis mereka yang dijadikan sebagai penuntun dan pedoman hidup mereka dan itu tercermin dalam perilaku kehidupa sehar-hari sejak nenek moyang mereka lahir sampai anak cucunya sekarang. Nilai budaya tersebutlah yang kemudian diyakini sebagai cara paling ampuh dalam mengelola alam.

Kemudian legenda Danau Tasikardi dari Kota Serang. Tasikardi berasal dari kata ‘tasik’ yang artinya danau dan ‘ardi’ yang artinya buatan. Asal mula tempat yang disebut dengan Tasikardi memeunculkan nama tokoh, yaitu ‘Siti Badriyah’ yang dianggap oleh masyarakat sebagai penunggu atau  penguasa Danau Tasikardi. Riwayat tentang Siti Badriyah tidak diketahui secara  pasti namun kemungkinan besar merupakan salah satu puteri dari keraton atau puteri sultan.

Keberadaan Siti Badriyah diakui oleh masyarakat karena dapat dibuktikan dengan kemunculan penampakan seorang puteri yang kecantikannya luar biasa dengan ciri fisik berambut panjang sepinggang, apabila air danau surut kadang Siti Badriyah terlihat berjalan dari kampung Kenari menuju Danau Tasikardi, kemudian mengontrol saluran air dari Danau Tasikardi, kadang menampakkan diri dengan menunggang kuda atau macan.

Di dalam cerita rakyat terkandung nilai-nilai yang dapat kita pelajari. Nilai-nilai itu dapat berbentuk nilai hormat mengormati, sikap saling menghargai, nilai toleransi, dan nilai peduli akan lingkungan alam serta nilai religius. Nilai rasa hormat, yaitu sikap dan sifat menghargai orang lain. Nilai toleransi, nilai peduli lingkungan alam, dan nilai religius, yaitu perilaku yang berpedoman kepada syariat Islam atau keyakinan bahwa selain manusia, Allah SWT juga menciptakan jin, setan, iblis (mahluk gaib).

Sistem budaya lokal merupakan modal  yang  besar,  telah  tumbuh  dan  berkembang secara turun-temurun yang hingga kini kuat berurat-berakar di masyarakat. Oleh karena itu,  penting  untuk  menjaga kearifan lokal, mengingat peranannya  dalam  membantu  penyelamatan sikap, dan sebagai sumber pembelajaran bagi siswa di lingkungan sekolah. (*)

Tulisan ini dimuat di Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten edisi April 2019

Guru Adalah Manusia Pembelajar

,

foto ilustrasi

 

25 November merupakan hari sakral bagi pendidikan Indonesia. Tanggal di mana ditetapkannya sebagai Hari Guru Nasioal bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia. Sebagai seorang guru, rasanya saya termotivasi ingin menulis artikel tentang guru. Saking luasnya tema guru saya jadi bingung sendiri topik apa yang cocok dan menarik bagi artikel saya. Saya sudahi kebingungan memilih tema dengan topik “Guru adalah Manusia Pembelajar”.
Saya teringat akan moto guru di Finlandia yang berbunyi “Kalau saya gagal dalam mengajar siswa, itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya”. Ya memang benar, negara dan rakyat Finlandia menempatkan guru sebagai profesi terhormat dan mereka yang menyandang profesi guru mendapat sebuah prestise tersendiri.  Tidak mudah menjadi guru di Finlandia. Untuk dapat berkuliah di jurusan pendidikan saja calon mahasiswa harus bersaing ketat dengan satu sama lain.
Berkat penghargaan yang besar dari negara dan masyarakat, profesi guru di Finlandia menjadi primadona karena diganjar dengan gaji yang sangat besar. Hampir semua guru di Finlandia menjadi penulis. Selain merancang strategi mengajar dan merancang strategi mengajar mereka juga membuat model evaluasi yang tepat, mereka juga menulis buku-buku teks yang beragam.
Kasus di atas hanya contoh dari negara dan sekolah yang konsen terhadap kualitas pendidikan bagi siswanya.  Guru-guru Finlandia sangat bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan siswanya. Bagaimana dengan Indonesia?
Guru-guru di Indonesia memiliki potensi besar menjadi seperti guru-guru di Finlandia. Tinggal bagaimana ada niat, kemauan dan komitmen serta mentalitas yang tinggi untuk memajukan keberhasilan pendidikan siswanya. Tidak ada guru yang tidak mampu mengajar. Semua guru mampu mengajar. Namun sedikit sekali guru yang berkonsentrasi untuk belajar dan mengajar dengan baik. Sehari-hari waktu bekerja guru hanya fokus pada menentukan bagaimana ilmu yang diajarkan dapat diterima dengan mudah oleh setiap siswa. Guru-guru model seperti ini merupakan guru-guru konvensional dan tidak kekinian. guru yang hanya mau bekerja setelah ada perintah dan selalu menuntut hak sebelum menunaikan kewajibannya. Guru zaman sekarang harus siap mental dan harus siap dilatih dengan mengembangkan profesi keguruannya.
Menurut Rohmadi, dkk. (2008:36) guru ideal memang harus menguasi empat kompetensi utama, yakni pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Untuk mendukung empat kompetensi utama tersebut, seorang guru harus memiliki tiga pilar utama agar menjadi guru berkarakter kuat dan cerdas dalam mengemban tugas mulianya. Tiga pilar tersebut antara lain (1) guru harus mempunyai tujuan atau visi yang jelas dalam mengajar dan mendidik siswanya di sekolah; (2) guru harus memiliki ilmu atau kompetensi pedagogik yang memadai agar mampu membimbing dan mengajar siswanya dengan benar dan jujur; (3) guru harus memiliki akhlak yang untuk menjadi guru yang berkarakter kuat dan cerdas. Apabila tiga pilar tersebut sudah menjadi pegangan bagi para guru, insyaallah pendidikan di Indonesia akan dapat tercapai sesuai harapan masyarakat.
Guru adalah mahluk yang tidak boleh berhenti belajar. Tetapi pertanyaannya, kapan dan di mana seorang guru dapat belajar?. Chatib (2013:32) mengusulkan saran agar guru tetap punya waktu dan semangat belajar. Pertama, sekolah harus membentuk Divisi Guardian Anggel (GA), sang malaikat penyelamat. Guardian Angeladalah divisi khusus untuk pelatihan dan pengembangan guru di setiap sekolah.Guardian Angel kelak akan menjadi jantung sekolah. Tim GA terdiri dari kepala sekolah dan beberapa guru inti bidang studi. Tugas GA yakni mendesain program pelatihan, memberikan konsultasi lesson plan, membuat dan menerbitkan rapor kualitas lesson planguru, serta mengikuti pelatihan-pelatihan dan meneruskannya kepada para guru. Kedua, program bedah buku secara reguler. Setiap buku-buku pendidikan yang baru, para guru di sekolah harus membedah buku itu. Setiap guru harus membedah satu bab, namun dalam waktu yang singkat banyak guru membedah secara bersamaan. Ketiga, program tamu minggu ini. Program tamu minggu ini yaitu sebuah program guru bidang studi atau guru gabungan beberapa bidang studi untuk membicarakan “tamu” seorang siswa yang mungkin dalam kurun waktu tertentu sering menghadapi masalah.
Selain tiga saran dari Chatib di atas, agar para guru tetap belajar dan menjadi seorang pembelajar, para guru dapat mengikuti komunitas sesuai dengan bidang studi yang diampunya. Komunitas seperti Forum Guru, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Guru (KKG), dan komunitas lain yang bersifat mengembangkan keprofesian guru. Selain mengikuti komunitas, saran yang paling murah dan mudah dan dapat dilakukan kapan saja untuk guru belajar yakni membaca.
Membaca dapat dilakukakan kapan dan di mana saja. Selain murah, mudah, dan dapat dilakukan kapan dan di mana saja, membaca juga dapat menambah khazanah keilmuan guru. Guru juga harus menjadi roll model dalam membaca di lingkungan sekolah. Membaca berkaitan erat dengan menulis. Setelah para guru membaca dan mendapatkan wawasan ilmu yang luas, para guru dapat menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Sebaik-baiknya guru adalah guru yang tidak hanya mengajar, melainkan guru yang membagi ilmunya dengan karya tulisannnya. Jika guru hanya mengajar di kelas maka ilmu yang disebarkan hanya kebeberapa murid yang ada di kelas dan pahala yang didapatpun terbatas. Sedangkan Jika guru dapat mengajar ditambah mampu menulis maka ilmu yang disebarkan akan semakin luas dan pahala yang didapatpun tidak terhitung jumlahnya.
Dengan demikian, guru zaman sekarang harus siap mental dan harus siap dilatih dengan mengembangkan profesi keguruannya. Guru adalah mahluk yang tidak boleh berhenti belajar. Guru menginstruksikan siswa untuk belajar, sedang dia (guru) tidak belajar. Kalau seorang guru berhenti belajar, lebih baik berhenti saja menjadi guru!. Apabila para guru sudah menjadi guru pembelajar, insyaallah pendidikan di Indonesia akan dapat tercapai sesuai harapan masyarakat. Amin
Oleh Zaki Fahrizal (Guru di MTs Negeri 4 Tangerang dan Sekretaria AGBSI Provinsi Banten)

Pola Pendidikan yang Tepat Bagi Generasi Z dan Generasi Alfa

,

Foto : TfQ Ridlo

oleh : Asep Saepurrohman & Yulia Paranoan (Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina)

Fenomena kemunculan Generasi Z dan Generasi Alfa menggantikan masa Generasi Y atau lebih dikenal Generasi Milenial terbilang sangat cepat. Saat ini Generasi Milenial yang berada pada usia produktif antara usia 23-37 tahun jumlahnya berkisar 1,8 miliar di seluruh dunia. Secara sederhana roda perekonomian saat ini ada di tangan Generasi Milenial. Indikatornya sederhana, Generasi Milenial berada pada usia produktif dan dapat dilihat juga dari kemunculan tokoh-tokoh yang mempengaruhi dunia mulai dari pendiri Facebook Mark Zuckerberg (34 tahun), Nadiem Makarim CEO Gojek (34 tahun), William Tanuwijaya CEO Tokopedia (37 tahun), Achmad Zaky CEO Bukalapak (32 tahun) dan berbagai kisah sukses Generasi Milenial lainnya.

 

Sedangkan Generasi Z yang lahir antara tahun 1996-2010 sedang mengenyam dunia pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi dan sebagian sudah mulai masuk dunia kerja. Artinya dengan kemajuan pesat dunia teknologi seperti sekarang ini, Generasi Z diprediksi menjadi generasi terpelajar dan lebih pintar jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Bahkan diprediksi perbandingan sarjana di Generasi Z adalah 1 banding 2, sedangkan perbandingan sarjana Generasi Milenial 1 banding 3 dan Generasi X 1 banding 4. (tirto.id)

 

Generasi Alfa diisi oleh anak-anak kelahiran 2010 sampai sekarang. Artinya secara rata-rata Generasi Alfa berada di tengah kemajuan teknologi informasi pada saat usia emas (golden age). Maka tidak heran jika Generasi Alfa sudah sejak kecil akrab dengan dunia teknologi dan internet atau dikenal juga sebagai generasi digital native.   Fenomena kemunculan Generasi Z dan Generasi Alfa di tengah kemajuan dunia teknologi informasi perlu disikapi dan mendapat respon khususnya oleh dunia pendidikan. Sebab konsep pendidikan yang diterapkan pada Generasi Milenial diprediksi tidak akan lagi cocok mengingat karakteristik Generasi Z dan Generasi Alfa yang berbeda dengan Generasi Milenial.

 

Pola kepemimpinan di tengah perubahan karakter dari Generasi Milenial ke Generasi Z dan Generasi Alfa menarik untuk dikaji. Jika berkaca pada pengalaman generasi sebelumnya dalam menjalani dunia pendidikan, menempatkan guru sebagai sosok yang perlu dihormati dan semua perintah bahkan hukuman yang diberikan akan diterima dan dianggap sebagai hal yang wajar. Lain halnya dengan Generasi Z dan Generasi Alfa yang dari awal memang memiliki karakter kritis dan berfikir lebih rasional dibandingkan generasi sebelumnya.

 

Karakteristik Generasi Z

Istilah Generasi Alfa pertama kali dikenalkan oleh Mark McCrindle seorang analis sosial dari grup peneliti McCrindle dalam makalahnya yang berjudul Beyond Z : Meet Generaion Alfa. Vickie S. Cook direktur eksekutif The Center For Online Learning, Research & Service (COLRS) mengklasifikasikan paling tidak ada 3 skill yang harus dimiliki oleh generasi abad 21 yaitu technical skill, conceptual skill dan interpersonal skill.

 

Masih menurut Vickie, karakteristik yang dibawa oleh Generasi Z berbeda dengan generasi sebelumnya, dimana silent generation (1927-1945) cukup mendapat value untuk apa yang dikuasai dan dilakukan. Sedangkan Baby Boomers (1946-1964) menginginkan penghargaan yang bisa menunjang masa depannya seperti kenaikan pangkat dan lain sebagainya. Generasi X (1965-1980) cenderung mengharapkan pengakuan dari pihak eksternal tidak hanya pengakuan dari internal tempat kerja. Generasi Milenial (1981-1995) memiliki karakter menghargai nilai kebebasan, fleksibilitas dan auotmasi. Efeknya bisa dilihat dari fleksibiltas waktu kerja, berkerja dari rumah dan peraturan kantor yang tidak kaku dengan konsep interior yang nyaman dan unik.

 

Sedangkan Generasi Z yang hidup di tengah kemajuan teknologi akan menuntut pada penyempurnaan teknologi, serta penyempurnaan berbagai sistem sosial mulai dari pendidikan, kerja dan interaksi sosial. Menurut survei yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2017 menunjukan penetrasi internet pada generasi z mencapai 75.5% lebih tinggi dibanding dengan generasi sebelumnya. Dan merujuk pada riset tirto.id pada Juni 2017, rata-rata Generasi Z mengakses 3-5 jam internet per hari (34%) dan 7.3% diantaranya bahkan mengakses internet lebih dari 12 jam per hari.

 

Karakteristik Generasi Alfa

Generasi Alfa yang dilahirkan dari orang tua milenial juga memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Novita Tandry seorang prikolog anak dan remaja mengatakan mendidik Generasi Alfa berbeda dengan generasi sebelumnya, dan orang tua perlu beradaptasi. Anak-anak Generasi Alfa yang sudah akrab dengan teknologi bahkan sejak sebelum mereka dilahirkan memicu ketergantungan penggunaan teknologi yang lebih tinggi. Kemajuan teknologi yang secara bersamaan membawa efek negatif dan positif secara bersamaan. Masih menurut Novita, efek negatif ketergantungan teknologi mengakibatkan anak-anak menjadi telat berbicara dan telat berbicara, tidak punya skill keterampilan untuk berinteraksi dengan orang lain, kurang percaya diri dan penghargaan diri.

 

Belum ada kriteria pasti berapa usia yang tepat untuk memberikan gadget kepada anak-anak. Namun jika melihat tindakan Steve Jobs dan Bill Gates yang baru memberikan gadget dan teknologi pada anaknya, maka usia yang tepat memberikan gadget dan teknologi pada anak di usia 14 tahun. Sebab usia 0-14 tahun digunakan untuk mendidik daya juang, tatakrama, moral, kemandirian, emapati, respek, hargadiri dan percaya diri pada anak yang semua nilai ini tidak bisa diberikan oleh teknologi.

 

Pengenalan teknologi kepada anak memang baik dilakukan sejak dini, namun orang tua berperan penting untuk mengarahkan anak menggunakan sisi positif dan membatasi diri dari pengaruh negatif tekologi. Pembatasan usia diperuntukan untuk memberikan kepemilikan penuh seorang anak terhadap teknologi seperti smartphone, laptop dan lain sebagainya. Generasi Alfa memang belum terlihat langsung karakteristik yang dibawa, namun menurut Christine Carter seorang ahli strategi pemasaran memprediksi Generasi Alfa akan berdampak signifikan terhadap kondisi ekonomi dunia. Generasi Alfa yang merupakan anak dari Generasi Milenial merasakan hidup sejahtera sejak kecil. Sehingga walaupun usianya masih belia, Generasi Alfa menghabiskan 18 juta dollar per tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya mulai makan, pakaian sampai teknologi baru yang mereka gunakan.

 

Menemukan Pola Pendidikan yang Tepat

Satu permasalahan yang mungkin tak kunjung usai bagi pendidikan Indonesia adalah desain kurikulum yang berubah-ubah. Saat ini masih mengacu pada kurikulum 2013, itu artinya desain kurikulum dirumuskan 6-7 tahun yang lalu. Tentu hal ini paradoks dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan berpengaruh pada karakteristik dan cara pandang siswa di sekolah/madrasah.

Penyesuaian kurikulum dan pola pembelajaran perlu mengimbangi perkembangan seiring dengan perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan, praktis dan cepat penting. Penyesuaian ini bisa memperkaya model pembelajaran yang efektif bagi Generasi Z dan Generasi Alfa.

 

Penyesuaian diperlukan pada jenis pelajaran tertentu yang sudah terbantu lewat hadirnya teknologi, misalnya proses perhitungan yang sudah tergantikan oleh kalkulator atau komputer. Pembelajaran lebih banyak difokuskan pada penerapan teori dalam kehidupan sehari-hari. Jika dilihat, kemampuan eksplorasi Generasi Z melalui teknologi sangat tinggi. Sehingga proses pembelajaran harus lebih didominasi pada kontekstualisasi sebuah teori atau materi pelajaran. Contoh lain seperti konten edukatif yang disajikan channel Youtube “sepulang sekolah” dengan konten studi banding. Konten ini menyajikan teori fisika, ekonomi dan disiplin ilmu lain yang terkesan rumit kemudian diolah dan dijelaskan dengan cara sederhana dan mudah dipahami. Channel edukatif lain yang cocok diikuti seperti “hujan tanda tanya”, “kok bisa”, “sains bro” dan berbagai edukatif lain di Youtube.

 

Pendidikan yang link and match terhadap dunia kerja juga menjadi tujuan sekolah kejuruan. namun faktanya tingkat pengangguran lulusan sekolah kejuruan menjadi tertinggi dibanding dengan lulusan sekolah jenis lain. Kondisi kontradiktif ini menunjukan bahwa pendidikan belum bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja per Februari 2018 tercatat 133,94 juta dan 6,87 juta di antaranya dikategorikan sebagai pengangguran.  Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyumbang 8,92 persen Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) atau tertinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya. Walaupun angka tersebut turun 2,49 persen dibandingkan dengan Agustus 2017. (tirto.id)

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, Vickie S. Cook memprediksi tiga skill yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan abad 21 yaitu technical skill, conceptual skill dan interpersonal skill. Hal ini perlu disadari dan menjadi pijakan penerapan pola pendidikan Generasi Z dan Generasi alfa. Tentunya agar tidak gagap menghadapi persaingan abad 21.

 

Active learning menjadi model pembelajaran menarik dengan strategi 5M (menanya, mengamati, mencoba, menalar, mengkomunikasi). Karakteristik Generasi Z yang diprediksi memiliki multitasking membutuhkan kesempatan dan media aktualisasi diri.  Termasuk dalam hal pendampingan Generasi Z, menurut penelitian konseling untuk Generasi Z yang disusun Caraka Putra Bhakti dan Nindiya Eka Safitri menunjukan bahwa teknik konseling yang tepat diskusi, FGD, problem solving dan simulation games, serta adanya layanan e-counseling atau cyber counseling. Dan penggunaan media audio visual juga berpengaruh penting pada kelancaran program konseling.

 

Peran Guru di Tengah Generasi Z dan Generasi Alfa

Pendidikan yang ideal dimana guru dapat mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didiknya di dalam lingkungan sekolah. Tantangan menjadi seorang guru bagi Generasi Z dan Generasi Alfa terbilang cukup berat karena guru mempengaruhi keberhasilan sebuah pendidikan dan menjadi contoh bagi anak didiknya. Peran guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga target pembelajaran dapat tercapai yang fokus pada unit of inquiry, keterampilan soft skill dalam kerja kelompok serta dapat berfikir secara kritis. Unit of Inqury merupakan sebuah proses untuk menyelidiki suatu masalah atau kasus. Sekolah yang menerapkan kurikulum unit of inquiry dengan mudah mengarahkan anak didiknya serta diharapkan dapat menyelesaikan sebuah kasus atau masalah dengan cara pandang yang kreatif. Kemampuan berfikir kreatif diharapakan dapat melihat suatu masalah dari perspective yang berbeda. Konten materi pendidikan di sekolah perlu diimbangi dengan keterampilan soft skill sehingga melahirkan anak didik yang siap untuk menghadapi persaingan di luar sekolah. Soft skill terbagi menjadi dua kategori yaitu intrapersonal dan interpersonal. Intrapersonal skill meliputi self-awareness (kepercayaan diri, kesadaran emosional) dan self-skill (control diri, manajemen waktu). Sementara itu interpersonal meliputi social awareness (kerjasama kelompok, empati, komunikasi, kepemimpinan, manajemen konflik).

Perubahan karakteristik antar generasi juga perlu disikapi terbuka oleh guru. Guru harus mampu menerima perubahan dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Sehingga relasi guru dan siswa bisa terjalin dengan baik dan saling melengkapi dan memberi perubahan berarti bagi dunia. Malala Yousafzai pernah berkata “one child, one teacher, one pen and one book can change the world”.

 

Jangan Anggap Enteng Bacaan Ringan

,

Sebagai orang tua, tentu saja bahagia melihat anak-anak menyukai kegiatan membaca buku. Meskipun demikian, ada juga orang tua  berpendapat hanya buku-buku tertentu saja yang dianggap “layak” untuk dibaca. Bahkan, ada yang cenderung mengarahan anaknya untuk membaca buku-bu nonfiksi saja. Benarkah bacaan fiksi itu ringan dan kurang sarat nilai?

Fiksi merupakan cerita rekaan yang tentu saja tidak persis dalam kehidupan nyata. Namun, setidaknya harus diingat apa yang pernah dikatakan A Teeuw, bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Artinya, cerita fiksi dapat menggambarkan kebudayaan yang hidup pada masyarakat tertentu dan pada kurun waktu tertentu.

Pada bacaan fiksi ada banyak pelajaran yang dapat dipetik. Selain itu dengan penggunaan gaya bahasa fiksi justru pembaca, lebih-lebih usia anak-anak sampai remaja, akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Mengapa demikian? Karena tanpa disadari, pembaca dengan sendirinya, secara otomatis, akan mengidentifikasikan dirinya menjadi salah satu tokoh dalam cerita yang dibacanya. Terlebih lagi novel yang memiliki jalan ceritanya lebih panjang dan relatif rumit permasalahan yang dihadapi oleh para tokoh-tokohnya. Perasaan menjadi pelaku tokoh utama tumbuh menjadi lebih kuat lagi.

Penulis kesohor Tere Liye rupanya menangkap peluang emas pentingnya bacaan enteng (cerita sehari-hari). Ia sering mengambil peran kesederhanaan sosok ibu. Sosok ibu yang di balik kesederhanaan terpendam jurus jitu dalam membesarkan anak. Sebut saja dalam Novel Seri Anak Mamak: Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Keempat novel tersebut menggambarkan kehidupan anak-anak dari sepasang suami isteri sederhana. Kedua orang tuanya bermata pencaharian sebagai petani di hutan. Bisa dibayangkan, tentu saja kehidupan mereka jauh dari gemerlapan kota dan kemewahan sarana prasarana.

Lalu dengan segala keterbatasan itu apakah mengungkung mereka? Tidak pernah. Mereka tetap tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas dan bermental baja. Gaya bahasa lugas khas anak-anak dan racikan kisah sehari-hari justru dapat dinikmati oleh semua kalangan, tak hanya anak-anak. Sebuah oase segar, terutama bagi yang menginginkan sebuah novel berlatar pedesaan bukan metropolitan.

Sebagai contoh, tokoh Pukat dan Burlian yang pernah mengeluhkan makanan yang mereka makan sehari-hari. Rupanya Mamak telah menyiapkan hukuman yang kelak akan mereka ingat seumur hidup. Bukan hukuman fisik semata, tetapi lebih kepada hukuman yang mendidik. Mereka mendapatkan hukuman menanam padi. Ya, mereka benar-benar dilibatkan mulai dari proses membuka hutan hingga acara memanen. Bahkan, karena kecerobohannya hampir saja membuat mereka termakan si jago merah. Dari situ, mereka akan lebih mengerti bagaimana sepiring nasi dihidangkan, melalui perjuangan yang tidak mudah. Maka, sudah selaiknya, memuji makanan alih-alih mencaci.

Ada lagi tokoh Amelia yang sering menuduh kakaknya galak, tak punya empati, dan suka mengatur. Orang tuanya memiliki kiat jitu untuk memaafkan tugas seorang kakak kepada Amelia. Ia diminta melakukan segala hal biasa dilakukan oleh Eliana. Amelia yang biasanya bangun harus dibangunkan, mendadak berkewajiban untuk menyiapkan makanan orang serumah dan membangunkan kedua kakak lelakinya. Dia menjadi tahu, betapa besar pengorbanan seorang kakak, dan betapa beban yang dipikul tak ringan, serta tanggung jawab yang tidak mudah. Pada akhirnya Amelia pun tahu, Eliana sangat menyayanginya. Amelia benar-benar menangis saat ia jatuh di hutan dan kakaknya yang menggendong hingga sampai rumah dan jatuh pingsan.

Ada cerita lagi tentang Burlian dan Pukat yang mengatakan kalau mencuci perangkat dapur dan pakaian adalah tugas seorang perempuan bukan tugas laki-laki. Dengan senang hati Mamak mengalihkan “pekerjaan perempuan”  itu kepada keduanya. Mereka nantinya akan tahu bahwa ternyata urusan makan tidak sekadar masuk perut dan kenyang. Ada pekerjaan lain menanti di ujung acara makan, yaitu  membereskan piring-piring kotor dan gelas. Tentu saja, itu bukan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang perempuan.

Suatu hari, Burlian pernah menuntut sebuah hadiah sepeda. Memang ia mendapatkan sepeda yang diinginkan. Namun, di kemudian hari ia harus menebus dengan penyesalan yang mendalam. Ternyata, uang yang digunakan itu adalah uang dari hasil menggadaikan cincin kawin ayah ibunya. Sampai masa jatuh tempo tidak bisa menebus cincin tersebut dan cincin orang tua merka pun terlelang. Cincin kawin yang tak pernah kembali lagi. Burlian tahu saat tak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya lepas tahajud. Mamak yang tak pernah menangis itu menangis di depan suaminya.

Dengan demikian, membaca sebuah cerita itu banyak hal yang didapatkan. Bahkan, dalam sekuel novel tersebut juga terdapat sembilan nilai integritas pendidikan antikorupsi, yang meliputi jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja  keras, sederhana, berani dan adil. Kesemua nilai itu terdapat di novel seri anak mamak yang notabene sering kali dikatakan sebagai bacaan ringan. Masihkah menganggap enteng bacaan ringan?

Penulis : Yeti Islamawati, S.S. Guru di MTsN 9 Bantul. (surel yetiislamawati@gmail.com; IG: @yetiislamawati; FB: Yeti Islamawati)

tulisan ini pernah dimuat dalam solopos edisi 24 Februari 2019

Pentingnya Penanaman Karakter dalam Keluarga

,

Hakim Pengadilan Negeri Sampang akhirnya menjatuhkan vonis bersalah kepada MH (17) pelajar SMAN 1 Torjun Sampang yang menganiaya Ahmad Budi Cahyanto, guru kesenian di sekolah tersebut, hingga tewas, Selasa (6/3/2018). Pelajar itu dijatuhi vonis 6 tahun penjara. Para majelis hakim sepakat menyatakan MH terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan hingga pembunuhan sesuai dengan isi Pasal 338 KUHP. Bhirawa (7/3/2018).

Tulisan ini tentu tidak sedang ingin mendiskusikan apakah vonis tersebut pantas dijatuhkan atau tidak, biarlah itu menjadi wilayah para ahli hukum. Penulis lebih ingin mengajak semua pihak untuk bisa memetik pesan dari kasus tersebut agar tragedi memilukan tersebut tidak kembali terulang.

Kejadian yang menimpa salah seorang guru honorer mata pelajaran seni rupa Ahmad Budi Cahyono, S.Pd. di SMA 1 Torjun, Sampang, Madura pada awal Februari lalu menjadi tragedi kemanusiaan. Bagaimana tidak, guru yang seharusnya dihormati sebagaimana orang tua, meninggal di tangan muridnya sendiri. Sungguh memprihatinkan dan menyentak sisi terdalam hati nurani.

Keberadaan guru di sekolah adalah sebagai pengganti orang tua. Untuk itu hendaknya dihormati dan ditaati selama dalam koridor kebenaran. Namun, apa yang terjadi ketika peserta didik sudah tak menghormati bahkan mengancam jiwa gurunya?

Salah satu tugas dan kewajiban guru adalah menegur ketika muridnya melakukan kesalahan, penyimpangan, atau tidak mengindahkan peraturan di sekolah. Proses demikian mencerminkan tanda sayang. Setiap guru menginginkan muridnya tumbuh menjadi pembelajar sejati. Tidak hanya pintar dalam akademik, tetapi juga memiliki sikap dan sosial yang baik.

Kepergian Pak Guru Budi meninggalkan perih dan kekhawatiran di dunia pendidikan. Apa yang ada di benak murid saat menganiaya gurunya sendiri hingga babak belur? Di mana rasa hormat dan menghargai guru? Apakah dalam keluarganya tidak pernah tertanam bagaimana cara memberlakukan gurunya? Peristiwa ini hendaknya menjadi bahan renungan dan evaluasi bersama sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali. Kejadian demi kejadian kriminal yang menimpa guru, haruskan membuat guru menguasai ilmu bela diri? Bukankah lebih elok jika guru menguasai jurus ikhlas?

Benarkah urusan pendidikan itu selalu menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal, dalma hal ini sekolah? Apakah jika sudah sekolah serta merta anak menjadi pribadi yang baik? Banyak orang tua yang “pasrah bongkokan” nasip anaknya pada sekolah. Seolah jika sudah memilihkan sekolah yang baik, “habis perkara”.

Padahal, rumah adalah basis utama pendidikan. Rumah merupakan tempat pertama kali seorang manusia mendapatkan ilmu dan pengalaman. Hendaklah sebagai orang tua menanyakan kembali pada diri masing-masing sesebanrnya apa alasan menyekolahkan anaknya.

Sekolah memang dapat mengembangkan pengetahuan manusia, karena di sekolah ada banyak guru dengan latar keilmuan yang berbeda-beda. Lain halnya dengan orang tua yang mungkin hanya menguasai satu atau dua mapel bidang ilmu, setidaknya ilmu yang dimiliki kedua orang tuanya. Namun demikian, perihal karakter anak, orang tua haruslah yang pertama kali menanamkannya.

Berikut ini solusi yang bisa ditawarkan untuk menumbuhkembangkan karakter pada diri anak didik. Ada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu keluarga (dalam hal ini keluarga), sekolah, dan masyarakat. Pertama, pihak orang tua hendaknya menyadari peran pentingnya sebagai basis utama pendidikan anaknya. Keberadaan anak adalah sebuah amanah yang kelak dimintai pertangungjawaban oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Keluarga hendaknya menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini bahkan jauh sebelum memasuki bangku sekolah. Orang tua tidak bisa memasrahkan begitu saja pendidikan anaknya kepada pihak sekolah. Bagaimanapun, orang tua adalah guru pertama bagi anaknya.

Istadi (2016: 336-342) dalam buku Mendidik dengan Cinta mengemukakan bahwa orang tua tak bisa menghindarkan diri sebagai pemikul utama tanggung jawab pendidikan. Ini adalah tugas keluarga. Lembaga prasekolah dan sekolah hanya berperan sebagai mitra pembantu. Tugas penting orang tua ini akan sangat terdukung jika mampu menciptakan suasana rumah menjadi tempat tinggal sekaligus basis pendidikan. Tugas berat, memang. Namun, ada banyak cara untuk melakukannya. Rumah sebagai basis pendidikan akan dapat dicapai dengan memperhatikan hal-hal berikut ini. (1) melengkapi fasilitas pendidikan melalui tempat belajar yang menyenangkan, media informasi dalam hal ini melalui surat kabar, majalah, dapat pula denganponsel atau laptop dengan koneksi internet, dan ketersediaan perpustakaan keluarga. (2) budaya ilmiah misalnya budaya belajar semua anggota keluarga, jam baca keluarga, gairah berbagi pengetahuan, dan juga gairah rasa ingin tahu. Tentu saja orang tua harus mencontohkannya. Bukankah guru terbaik adalah keteladanan?

Kedua, pihak sekolah harus bersinergi dengan pihak keluarga dalam hal ini orang tua. Sekolah perlu memikirkan cara agar orang tua proaktif menjalin komunikasi dengan pihak sekolah. Jangan sampai ketika ada masalah pada anak orang tua malah mengintimidasi gurunya. Hendaknya duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Tentunya pihak sekolah berharap agar orang tua jangan sungkan menanyakan kabar anak ke sekolah. Harapan yang ingin diwujudkan adalah apa yang disampaikan guru di sekolah dan orang tua di rumah akan seiring sejalan serta bahu membahu mewujudkan karakter pada anaknya. Jika komunikasi dua arah sudah terjadi dengan baik dan mempunyai pijakan yang sama antara orang tua dan guru maka anak akan memiliki muara karakter yang sama.

Kisah menarik diceritakan oleh Alifi (2017: 121-122) dalam bukunya Rockstar Teacher bahwa walimurid di MIT AR-Roihan, Kabupaten Malang mampu menggerakkan walimurid untuk ambil bagian di kegiatan-kegiatan sekolah. Walimurid datang ke sekolah tidak hanya untuk urusan antar jemput anaknya atau sekadar menghadiri pertemuan orang tua seperti pengambilan rapot atau rapat komite sekolah. Ketika menerima kunjungan studi banding dari luar daerah misalnya, walimurid bahkan bertindak sebagai guide menjelaskan tiap bagian sekolah. Dari cara menjelaskan, walimurid tidak lagi sebagai outsider di sekolah tersebut. Mereka tuntas sekali dalam mengetahui dan memahami seluk-beluk sekolah. Hanya hal-hal yang berurusan dengan istilah-istilah akademik—seperti RPP, silabus, dan metode mengajar—saja yang mereka serahkan kepada guru-guru. Rupanya, ada kiat yang mereka terapkan, yaitu menjalin hubungan yang intens antara guru-karyawan dan orang tua. Hubungan tersebut layaknya keluarga, bukan sekadar seperti wali murid dan sekolah. Aplikasi whatsap dapat diberdayagunakan. Sekolah pun membentuk paguyuban dan sebulan sekali pasti berkumpul entah arisan atau kegiatan lainnya.

Ketiga masyarakat hendaknya dapat bertindak sebagai kontrol atas jalannya pendidikan karakter. Jika terjadi sebuah kasus atau masalah, masyarakat tidak boleh tinggal diam. Justru masyarakat mempunyai kekuatan yang lebih besar. Karena keluarga dan sekolah otomatis menjadi bagian dari sebuah masyarakat. Untuk itu, pihak sekolah perlu menjalin simbiosis mutualisme dengan pihak keluarga dan masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan dalam kegitan-kegiatan di sekolah. Pun keluarga sebagai bagian dari masyarakat harus mendukung apa-apa yang dicanangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat dalam hal ini kumpulan keluarga perlu memikirkan nasib pendidikan warganya. Keberadaan RT, PKK, Dasawisma, Pedukuhan perlu dimaksimalkan untuk berperan secara aktif memikirkan pendidikan dalam rangka menanamkan karakter.

Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga keluarga di rumah. Jika setiap keluarga melakukan perannya dengan baik dalam menanamkan pendidikan karakter, nantinya akan tercipta masyarakat yang berkarakter. Pada tahapan selanjutnya, masyarakat yang berkarakter akan membentuk warga negara yang berkarakter. Semoga generasi penerus bangsa memiliki karakter yang kuat sehingga tidak akan muncul lagi kasus guru Budi yang lain.

(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Bhirawa, edisi 12 Maret 2018)

Penulis : Yeti Islamawati, S.S. Guru di MTsN 9 Bantul. (surel yetiislamawati@gmail.com; IG: @yetiislamawati; FB: Yeti Islamawati)

Indra Ariwibowo Sosok Dibalik Kesuksesan MILB YKTM Budi Asih

,

Semarang – Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB) YKTM Budi Asih meraih prestasi gemilang pada ajang Lomba Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) 2019) tingkat Provinsi Jawa Tengah. Lomba ini digelar oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah di SLB Negeri Semarang. Rabu (27/2/19)

MILB YKTM Budi Asih memborong 5 piala yang masing-masing diperoleh Decky Maulana Purnomo Juara 2 Literasi Bercerita SDLB tema generasi millennial generasi literasi. Wahyu Dian Artikasari Atmojo Juara 3 Baca Puisi. Ambar Ayu Wismasari Juara 3 Lomba Melukis. M. Fadli Ardiansyah Juara 3 Lomba Lari Putra 80 meter dan Mevika Fajar Kustiono Juara 3 Lomba Menyayi.

Kesuksesan ini tidak lepas dari peran seorang Indra Ariwibowo sebagai kepala madrasah MILB YKTM Budi Asih yang sangat gigih dalam memperjuangkan dan memberikan layanan pendidikan madrasah bagi anak kebutuhan khusus.

Indra yang dinobatkan menjadi salah satu guru inspiratif 2019 oleh Kementerian Agama menegaskan prestasi yang diraih oleh siswa siswinya merupakan wujud dukungan dari semua pihak termasuk dewan guru, dan orang tua murid.

“Terima kasih kami sampaikan kepada segenap guru, pelatih, dan orangtua. Kami bersyukur prestasi luar biasa bisa kita raih, Semoga di tahun depan anak-anak kita bisa meraih juara 1,” tegas Indra

Tanggapan dan harapan yang serupa juga disampaikan oleh para pelatih dan pendamping lomba yang senantiasa mendampingi anak-anak berlatih. Hermawan selaku pelatih lomba menyanyi cukup senang dan bangga karena anak didiknya berani tampil menyanyi di depan panggung dan memotivasi siswa supaya giat berlatih.

Sementara Dwi selaku pendamping lomba melukis sekaligus orang tua dari Ambar Ayu Wismasari.  Dwi berpendapat lukisan Ambar bagus dan tidak kalah dengan lukisan yang juara 1. “Semoga pada kesempatan lain bisa meraih juara 1.” pungkasnya.

Menggugah Kepedulian Pendidik Dalam Menangani Siswa Kecenderungan LGBT

sumber : suara.com

Oleh: Dwi Atmaja, S.Pd,M.Psi

Munculnya  fenomena  keberanian kaum LGBT untuk mengekspos diri di media sosial sungguh sangat menyedihkan bagi kelangsungan masa depan generasi  bangsa Indonesia saat ini. Bahkan tidak tangung-tanggung propaganda mereka hadirkan dalam bentuk kegiatan di dunia nyata, event  skala besar seperti penyelenggaraan Grand Final Mister dan Miss Gaya Dewata 2018 di Bali yang pada ahkirnya berhasil dibatalkan karena mendapatkan kecaman dari masyarakat serta tokoh agama.

Sebagai pencipta peradaban generasi bangsa kita sebagai seorang pendidik dituntut untuk lebih peka dalam menyikapi permasalahan sosial khususnya berbagai penyakit masyarakat. Munculnya group Gay Pelajar SMP-SMA di Garut  yang  sempat  menjadi  pembicaraan viral di media sosial menunjukan bahwa propagnda menebar racun perusak moral dan agama sudah memasuki dunia pelajar.

Dampak terburuk LGBT selain menimbulkan penyakit seks menular, bagi dunia pendidikan akan mengakibatkan  kemungkinan besar peserta didik gagal menuntaskan  sekolah,  rusaknya moral  dan karakter religus, dan musnahnya suatu peradaban bangsa.

Membentengi moral generasi penerus bangsa dari dampak LGBT mutlak dilakukan, dengan memperhatikan dua  faktor antara lain, pertama perhatian serta pola asuh keluarga dan kedua kepekaan  terhadap  perkembangan lingkungan. Karena kedua faktor tersebut merupakan pondasi  utama yang diperlukan. Bicara pada aspek kedua, LGBT bisa dicegah melalui peran pro aktif sekolah dalam mempersiapkan strategi khusus mengantasipasi maraknya Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender.

Pendidik  harusnya  hadir  dalam  setiap  saat  menguatkan pemahaman agama  agar siswa tidak  terjangkiti virus LGBT terutama peran guru Bimbingan dan Konseling menjadi tempat konsultasi pemecahan masalah  psikologis  kecenderungan berpotensi  LGBT.  Untuk mencapai hasil yang  maksimal perlu  kiranya  perumusan yang  tepat dalam teknik pendekatan konseling penanganan siswa berpotensi  LGBT  yang harus dikuasai oleh para guru Bimbingan dan Konseling. Tetapi sebelum melangkah ke arah yang lebih jauh, kita kembali mengupas penyegaran praktek konseling  itu sendiri.

Dalam kesempatan di awal Prof. Partino, guru besar BK di Universitas Cenderawasih menyampaikan perlu menggalakan penelitian keefektifan konseling dengan berbagai dasar teori, karena masih banyak dijumpai di lapangan, para guru BK belum menguasai praktek konseling secara maksimal. Pendapat beliau didukung oleh Guru Besar BK dari UPI Bandung dan menjabat sebagai duta besar di Uzbekistan, Prof. Sunaryo, menurutnya ada kemungkinan tidak semua mahasiswa di kampus memperoleh pelatihan praktek konseling dengan baik. Bagaimanapun juga praktek konseling tidak mungkin berjalan baik tanpa memahami teori konseling dengan benar.

Proses konseling bukan hanya sekedar “tanya jawab” antara konselor-konseli. Konselor harus memiliki grand design tentang apa dibalik komunikasi tersebut untuk mempengaruhi cara berpikir konseli. Salah satu hal yang dikuasai adalah bahasa dalam konseling dan selama ini hampir tidak pernah dipelajari secara khusus oleh para calon konselor. Di sisi lain tidak ada  teori  konseling  lepas  konteks. Praktek konseling berdasarkan teori yang  ada,  harus beranjak dari pemahaman konseli dalam konteks kekinian. Perkembangan kognitif ala Piaget mungkin sudah perlu kita riview dalam konteks kekinian di era disruption dan multitasking.

Guru besar UPI Prof. Suherman menambahkan argumen pendukung dalam penekanan perbedaan konseling dan wawancara, dalam hal membedakan perlu dilihat dari tujuan dan tahapan yang dilalui. Tahapan dalam  konseling  perorangan  juga  berbeda-beda untuk setiap pendekatan. Secara umum tahapan dalam konseling perorangan menurut beliau ada lima, yaitu pengantaran, penjelajahan, penafsiran, pembinaan, dan penilaian.  Setiap konseling perorangan harus mengikuti tahapan tersebut secara berurutan, sementara wawancara biasanya tidak seperti itu.

Diawal tahun 19  Januari  2018  terdapat berita  heboh  yang  dilansir  oleh  media  koran terkenal  di Jawa Barat, Pengakuan Gay Kota Bandung Dapat Teman Berkencan Cukup Lima Menit Chat. Perkembangan pergerakan mereka di medsos sungguh sangat memprihatinkan, di mana perkembangan pesat tersebut tidak disertai belum maksimalnya kemampuan dan kepedulian para pendidik dalam hal pencegahan penyebaran virus LGBT di kalangan pelajar. Sehingga perlu penekanan dan rumusan yang tepat menciptakan dalam menghasilkan formula antisipasi dampak LGBT. Khusus dalam hal ini memaksimalkan peran guru Bimbingan dan Konseling, pertama melalui pengembangan metode  pencegahan di layanan  klasikal  (tatap muka di kelas) tentang dampak terburuk  yang  akan diterima jika masuk pada ranah pergaulan bebas tersebut. Kedua mengaktifkan fungsi layanan kolaborasi dengan orangtua ataupun pihak terkait  dalam rangka mencegah virus menular penyakit masyarakat ini masuk di dunia pendidikan. Ketiga dalam fungsi pembinaan siswa yang berpotensi LGBT sendiri  dapat ditempuh  melalui layanan konsultasi maupun konseling.

Guru Besar  BK  dari Universitas Negeri Malang, Prof. Andi Mapiare terkait  alternatif  pendekatan konseling untuk siswa berpotensi LGBT dapat melalui pendekatan Eksistensialisme. Pendekatan ini dicetuskan pemikiran Soren Kiekegaard, Nietzche, dan Karl Japers. Kemudian seiring waktu dikembangkan oleh Martin Heidegger dan Jean Paul Sartre.  Pendekatan ini menentang upaya apapun untuk melihat  manusia sebagai objek, namun  Kiekegaard sebagai pencetus, dia juga menentang bahwa persepsi subjektif hanya satu-satunya realitas manusia. Kiekegaard dan para pengikutnya, menekankan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Dalam ranah Bimbingan dan Konseling mengarahkan pada pendekatan yang menghargai prinsip-prinsip demokrasi, fokus pad dialogis, dan sebuah kebebasan dikategorikan sebagai sebuah pilihan.

Dalam kesempatan  diskusi  Prof Sunaryo, mencoba mencari  ketegasan usulan yang dilontarkan oleh  Prof Andi.  Kiekegaard atau Nietzche apakah eksistensialisme theistic atau atheistic. Menurut beliau pilihan tersebut normatif, terikat konsekuensi, persoalan nilai baik atau buruk dan benar atau salah. Sehingga ketika dikaitkan dengan LGBT akan muncul paham yang salah bahwa LGBT adalah sebuah pilihan. Justeru sekarang yang hendaknya di kedepankan adalah pandangan filosofis tentang manusia Indonesia seutuhnya. Jika dipandang LGBT sebagai pilihan hidup, maka perlu bingkai dasar secara Islami (agama) itu adalah sebuah kesalahan maka hal ini dapat diterjemahkan sebagai pilihan terkait nilai dan tanggung jawab.

Jika kita ketahui  secara  garis  besar, eksistensialisme  mempunyai ciri, pertama penolakan untuk  dimasukan  dalam  aliran filsafat tertentu; kedua tidak ada pengakuan adekuasi sistem filsafat dan ajaran kenyakinan (agama),  dan ketiga menganggap sistem tradisional bersifat dangkal akademis dan jauh dari kehidupan. Pada dasarnya  jika  kita  analisis, respon reaktif  yang disampaikan oleh Prof Sunaryo terletak pada point kedua, dimana agama lebih dikesampingkan. Menanggapi pertimbangan yang  diatas Prof andi dengan uraian singkat  bahwa dalam pendekatan ini masih terdapat juga tokoh-tokoh yang mengedepankan religius dalam proses berpikir seperti misal Rollo May.  Kesepakatan tercapai antara pemikiran  dari kedua Guru Besar di atas, jika menggunakan pendekatan eksistensialisme untuk penanganan siswa berpotensi  LGBT  maka  dalam hal ini konselor harus siap bertanggung jawab terhadap  sistem  nilai  yang  di anut  oleh konseli, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip moral masyarakat dan nilai religius. Sehingga konselor dituntut untuk berperilaku etis, berperilaku rasional, dan memabangun nilai keagamaan yang kuat  dan  mendorong konseli bertanggung jawab atas pilihannya.

Dukungan penguatan nilai keagamaan dalam penanganan siswa berpotensi LGBT juga disampaikan oleh  Guru Besar UPI  Prof.  Syamsu, Jika  konseling  hanya  didasarkan pada filsafat dan tidak menyertakan nilai-nilai primodial insani sebagai mahkluk  beragama, maka pemilihan kepada corak hidup manapun menjadi suatu pembenaran. Sekarang tinggal berpulang kepada kita semua, mau kemana arah konseling yang akan diprogramkan. Apakah pancasila (yang didalamnya terkandung nila-nilai illahiyah dan insaniyah) masih  menjadi dasar rujukan, atau  liberalisme, sekulerisme, dan LGBTisme. Prof Sunaryo secara teknis menambahkan ada pesan khusus yang harus dilakukan oleh konselor pada konseli, dengan mengatakan “Bagi saya LGBT itu sebuah kesalahan, perilaku tidak sehat, dan perilaku tidak sesuai norma”. Dan tidak membawa konseli kepada dunia berpikir bahwa LGBT sebagai pilihan. Perkara konseli  tetap  lebih  memilih  hidup  ke arah LGBT itu resiko dan tanggung jawab sendiri. Tetapi secara prinsip dan filosofis konselor harus berangkat dari prinsip diatas.

Prof Sunaryo menegaskan, jika konseling bertujuan  membawa  manusia ke hidup yang lebih baik dan benar, maka perlu ditanyakan dari mana sumber kebaikan dan kebenaran. Jawabannya adalah filsafat, Seorang konselor harus punya filsafat konseling  yang  berdasarkan pada filsafat manusia yang dipegangnya dengan seperti itu konselor akan memahami tujuan universal dan mengetahui apa yang terbaik (what is the best) untuk konseli, walaupun banyak aliran filsafat pada ahkirnya pilihan kembali pada konselor harus memiliki filsafat  sendiri yang dipegang.

Dalam penutup diskusi Prof. Syamsu menceritakan ketika diminta bicara di Makamah Kontitusi (MK) yang terkait dengan yudical  review terhadap pasal KHUP mengenai ke LGBT an, beliau mengatakan Gerakan LGBT ini adalah gerakan pemusnah spesies manusia, yang secara akal sehat apalagi agama harus dihadapi serius. Yudical review yang diusulkan adalah perluasan rumusan klausul-klausul dari beberapa pasal yang memiliki kepastian hukum jelas, terutama bagi pelaku homo/lesbi, dan free seks baik orang dewasa (umum), mahasiswa atau siswa (remaja). Sebab sekarang di negara tercinta yang dasarnya Pancasila ini, menurut beliau belum ada delik hukum bagi pelaku homo/lesbian dan free seks. Kecuali ada delik aduan dalam kasus pemerkosaan misalnya, sementara bagi  pelaku yang suka sama suka, aman-aman saja. Yudicial review yang disajikan oleh kelompok beliau, ternyata kalah dengan orang-orang yang membela LGBT. Menurut beliau sebagai pendidik, baik secara bersama-sama organisasi profesi ISPI, ABKIN, dan PGRI harus  sepakat  menghadapi mafia LGBT, karena virusnya tidak berbeda dengan mafia narkoba. Yang terpenting juga untuk para guru BK atau konselor dalam melaksanakan layanan bk di sekolah sebaiknya menerapkan “Large group guidance, Classroom guidance, atau small group guidance” sebagai primadona layanan  yang berfungsi sebagai preventif dan pengembangan.

Menurut  beliau untuk  sementara  kasus-kasus yang akut lebih baik direferal ke ahlinya, seperti kasus pecandu narkoba atau pelaku homo/lesbi. Dari pengalaman beliau ngobrol dengan seorang  homo  yang  sudah akut, ternyata pelaku homo sudah canggih berhomo, yaitu melalui cybersex. Nampak dari obrolan, perilaku homo tersebut  sudah  menjadi keyakinan atau jalan hidupnya, tidak nampak pula perasaan bersalah atau berdosa. Beliau tidak ada niatan pada saat itu untuk melakukan konseling karena hanya batasan ngobrol sesaat. Pelaku homo tersebut juga menceritakan berkembangnya komunitas homo di Indonesia sangat pesat. Menurutnya untuk menghentikan gerakan LGBT ini sepertinya harus  ada suara dari langit atau dari dalam bumi, sebab suara dari atas bumi ini sudah tidak ada yang didiengar, wallahu’alam bishshawaab.

Prof Sunaryo, dalam  kesempatan terahkir diskusi menyampaikan kalau sikap LGBT dianggap melanggar HAM dan LGBT sebagai pilihan atas nama HAM, maka pada saat ini generasi bangsa Indonesia tengah menghadapi dan berada dalam asymetric war, perang ideologi yang akan menghancurkan Pancasila yang menempatkan agama sebagai salah satu sumber kebenaran yang diyakini semua agama, menyatu dalam Pancasila menolak LGBT. Dan sekarang LGBT sudah menjadi ideologi dan kita sedang perang ideologi.

Bimbing Aku dengan Kasihmu

Sore itu secara tidak sengaja saya membaca sebuah share tulisan di grup WhatsApp, biasanya saya akan membaca kemudian meletakkan kembali karena model copy paste memang mudah mampir ke komunikasi lewat WhatsApp kadang berisi informasi tentang kesehatan, religi, pola asuh dan sekedar bercanda,  namun sore itu ada share yang menarik hatiku, beginilah isi pesan tersebut:

PEMBINAAN KEDISIPLINAN DENGAN CARA DIJEMUR DAN TELANJANG DADA

Disalah satu sekolah menengah atas.

Tampak puluhan lebih anak laki-laki dibariskan dengan bertelanjang dada plus 1 siswa perempuan dengan hanya membuka jas almamaternya. Habis upacara bendera hari senin kemaren didampingi oleh bapak tentara.

Niatnya sih pembinaan bagi anak yang point pelanggarannya 50 keatas diakumulasi mulai dari kelas X dengan sekalian menjemur anak-anak itu dengan meminjam halaman lapangan milik sekolah yang lain yang kebetulan berdekatan.

Ada anak yang pernah melakukan pelanggaran keterlambatan masuk sekolah dikelas sebelumnya. Sekarang anak tersebut sudah berubah tapi masih mendapatkan sanksi.

Dipanaskan di bawah terik matahari sampai jam 10.00 WIB tanpa mengenakan baju. Apakah ini bentuk pendidikan karakter yang kita gembargemborkan dan himbauan sekolah ramah anak?

Apakah ini termasuk kekerasan fisik dan psikologis

Pada hari ke-2 program “pembinaan” di lapangan perkampungan yang jauh dari sekolahnya anak-anak, bukan hanya dijemur tapi sudah terjadi aktifitas fisik push up, lari dengan tetap tanpa memakai baju.

Bagaimana tanggapan bapak ibu pendidik?

Membaca tulisan ini ada rasa berdesir di dada. ada rasa marah, kecewa, sedih dan beragam tanya, selanjutnya terjadi diskusi panjang di grup WhatsApp, berbagai pendapat bermunculan. Saya tidak tahu siapa penulis awal tulisan ini dan juga sekolah yang dimaksud, tapi yang pasti penulisnya adalah orang yang peduli pada pendidikan.

Akhir-akhir ini dunia pendidikan memang banyak disoroti, guru dan lembaga pendidikan sebaiknya perlu berhati-hati dalam menerapkan proses yang disebut dengan  “pembinaan” apalagi yang melibatkan pihak lain.

Memang tulisan di atas diberi nama pembinaan, menurut KBBI pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang baik.  Pada pembinaan ini yang dikumpulkan adalah anak-anak yang pernah melakukan kesalahan dilihat dari akumulasi point. darimana akumulasi point, tentunya dari rekam jejak kesalahan yang sudah dia lakukan. Anak yang bersalah diperlakukan berbeda tentunya mereka merasa “saya salah saya dihukum”. Yang pasti apapun namanya mereka akan menganggap itu adalah “hukuman” karena akumulasi kesalahan yang sudah dihargai dengan point oleh sekolahnya.

Dalam buku karya Dr. Charles Schaefer yang berjudul Cara Efektif Mendidik dan Mendisiplinkan Anak, menyebutkan bahwa hukuman berarti suatu bentuk kerugian atau kesakitan yang ditimpakan kepada seseorang yang berbuat kesalahan. Tujuan jangka pendek adalah menghentika prilaku yang salah, tujuan jangka panjang ialah untuk mengajar dan mendorong anak menghentikan sendiri tingkah laku yang salah dan mengarahkan diri sendiri.

Masih dalam buku karya Dr. Charles Schaefer, kunci untuk disiplin yang efektif ialah membuat hukuman-hukuman layak, menentukan besar kecilnya bentuk hukuman bukan merupakan pilihan yang diukur dengan gejolak perasaan marah orang dewasa. Suatu hukuman yang logis, pelanggaran yang baru pertama kali dilakukan haruslah seimbang besar atau kerasnya hukuman. Hukuman yang berlebihan akan menyebabkan anak lebih memusatkan pikirannya pada ketidakadilan daripada kesalahan yang mereka lakukan.

Karena itulah hukuman harus direncanakan sebelumnya, hindari menentukan hukuman ketika dalam kondisi marah dan emosional. Anak akan menerima hukuman yang diterima kalau mereka memiliki hubungan yang positif dengan orang yang menghukum, dia bisa membedakan respon ketika berbuat baik dan ketika melakukan kesalahan. Penelitian sudah menunjukkan bahwa hukuman itu umumnya sangat efektif dalam pengembangan pelajaran bila segera dilakukan sesudah perbuatan salah dilakukan. Penundaan dapat menyebabkan seorang anak melupakan apa yang dilakukannya. Sehingga ketika menerima hukuman dia akan sulit menyadari kesalahannya. Dan yang penting hukuman hendaknya bersifat pribadi tidak seorangpun mau dikritik dan dihukum di depan umum. Orang tua atau guru harus memperlakukan anak sebagaimana kita ingin diperlakukan orang lain.

Orang tua dan guru perlu mengembangkan suatu hubungan yang bersifat kasih sayang, anak akan menerima hukuman itu lebih baik kalau mereka mempunyai hubungan yang positif dengan orang tua atau guru. Anak akan merasa dia dihukum karena prilakunya yang salah bukan dihukum karena merasa dibenci.

Karena hukuman itu umumnya menyatakan kegagalan seorang anak dan bila terlalu sering dihukum maka dapat merendahkan harga diri, kepercayaan diri dan semangat, maka lebih baik memusatkan usaha terhadap alat penguat (reinforcement) yang positif  dari tingkah laku yang bisa diterima, daripada penekanan tingkah laku yang salah dengan ancaman hukuman.

Sekolah adalah lembaga yang sangat dibutuhkan anak untuk belajar dan bersosialisasi, dan setiap sekolah punya tujuan yang mulia terhadap anak muridnya. Tempat seorang anak berproses dan memahami pentingnya kerja keras, disiplin dan akhlak yang baik, maka bapak ibu guru bimbinglah mereka dengan kasih sayang. Jika memang harus ada hukuman pastikan yang “cela” adalah kesalahannya bukan karena guru benci mereka. Tetaplah menerima dan menyayanginya dengan kondisi yang terkadang berbuat kesalahan, karena dari situlah pertalian kasih sayang antara guru dan murid akan terjalin.

By: Ninik Trimariya, S.Psi (Guru BK MTs N 1 Malang)

 

Merumuskan Kebijakan Anti LGBT di Kalangan Dunia Pendidikan

Dwi Atmaja, S.Pd, M.Psi (Ketua Bidang BK APKS PGRI Prov Jawa Timur)

Pemikiran konteks Jihad Terhadap Pemikiran Pro LGBT dikemukakan oleh guru besar Bimbingan dan Konseling Prof. Andi Mapiare dari Universitas Negeri Malang. Gerakan penolakan pemikiran yang pro terhadap LGBT mendapat dukungan dari berbagai pihak kalangan praktisi Bimbingan dan Konseling, dengan harapan agar generasi bangsa dijauhakan dari perbuatan keji yang dimurkai  Allah SWT. Dari sudut pandang umum aktivitas serupa terkait pencegah arus perkembangan propaganda LGBT disuarakan oleh bupati Cianjur, Instruksi yang diberikan Pemkab melalui  seluruh Camat itu tercantum dalam Surat Edaran Bupati Cianjur Nomor 400/5368/Kesra Tentang Penyampaian Khutbah Jum’at.  Surat  itu  ditandatangani oleh Wakil  Bupati Cianjur  Herman Suherman  atas  nama  Bupati  Cianjur  Irvan  Rivano  Muchtar  tertanggal  15  Oktober 2018. Selain berisi instruksi, surat edaran itu juga melampirkan enam halaman naskah khutbah berjudul “Bahaya LGBT, Sodomi dan Pencabulan  dalam Kehidupan Beragama, Berbangsa dan bernegara dalam Perspektif Hukum Islam”.

Prof. Andi menegaskan  kaum LGBT kurang atau belum  sadar  bahwa  dari  mereka  pula  penularan penyakit  seksual dan dampak  azab  Allah  yang  bisa  mengenai  orang  baik-baik,  Naudzubillah summa naudzubillah. Pendapat mendukung  dari sisi dunia  di sampaikan oleh Dr. Titik  selaku aktivis  komisi perlindungan anak dan perempuan, kerusakan di PFC  (Pre Frontal Cortex) sehingga tidak  bisa lagi mengontrol  diri  padahal  mereka mengetahui  akibat  buruk bagi dirinya sendiri, bahkan ada  yang sudah  HIV/AIDS tetapi tetap melakukan hubungan seks dengan  sejenis. Narkoba, Pornografi, Homo, lesbi,  mengakibatkan  kecanduan  karena  sistem  lymbic  dalam otak  tidak  berfungsi  dengan  baik, sehingga  dopamin  yang  aktif.

Masih adanya pola pemikiran di sebagian masyarakat, mengatakan prihatin ketika  hak  mereka  tidak dipedulikan  dan  dipaksa  berubah  sementara  sang penciptaNya  menghadirkan  mereka  didunia. Seandainya  Tuhan  itu  bodoh  maka  pasti  DIA  tidak  menghadirkan  mereka.  Menjadi  laki laki  atau perempuan  atau  banci  bukanlah  pilihan  mereka.  Tapi  takdir  mereka.  Kita  boleh  merasa  terganggu dengan  kehadiran  mereka  namun  tetap  membantu  mereka  menjadi  PKIA  (Produktif,kreatif,inovatif Dan afektif ) bukan  seperti  mencuci  cawan  yang  dibersihkan  hanya  bagian  luarnya  saja.  Solusi yang manusiawi  dan  berkeTuhanan  yang  mereka  boleh  terima. Pemikiran yang demikian muncul sebenarnya akan mendorong  semangat mereka, seolah kita mengaminkan bahwa menjadi LGBT adalah kehendak Tuhan, tentu saja hal ini sejalan dengan propoganda yang sedang mereka lakukan.

Jika melihat ketentuan keagamaan di Indonesia, tidak ada satupun yang memperbolehkan adanya ketentuan LGBT di dalam ajaran masing-masing agama, patut ditanyakan Tuhan agama manakah yang dimaksud dalam propganda mereka. Seharusnya sebagai masyarakat kita perlu lebih jeli agar tidak terpengaruhi  pada  kepentingan  terselubung  mereka dalam mencari  kepuasan nafsu biologis  semata. Justru solusi yang diberikan bukan memberikan pengakuan adanya mereka, melainkan solusi untuk disembuhkan  kembali  kepada  fitrah  sebagai  mahluk  Tuhan  yang  menciptakan hanya manusia menjadi laki-laki dan perempuan. Karena pola  asuh dan lingkungan  yang  salah  tidak  sesuai dengan kodratnya  sehingga  menyimpang  dan hal ini harus disembuhkan. Untuk itu tugas Bimbingan dan Konseling   adalah memberikan layanan  prima  dalam  pencegahan dan penyembuhan.

Temuan kasus yang di paparkan Dr Titik sangat  menarik, beberapa  banci  yang beliau jumpai dan ada wawancara mengatakan  tidak ada keinginan menjadi  jadi  banci  tetapi karena  sudah  menjadi  habit dan nyaman makanya lebih memilih banci walaupun kadang hatinya menjerit. Begitu pula  yang  wanita karena penampilannya tidak  feminis  lebih  maskulin  sehingga  lebih  tertarik  jadi laki-laki  walaupun  perempuan sehingga  memilih  lebih  tertarik  dengan  sejenis  yang  perempuan disebut lesbian. Kasus sama  mereka tidak  ingin  seperti itu  tetapi karena  habit  dan  rasa nyaman  sehingga  penyimpangan perilaku  terus  berlanjut. Maka  Negara  Belanda  yang  menjadi  pilihan  untuk  hidup  mereka  bebas , inggris  yang  semula  menolak  akhirnya  gereja  menerima  juga  dengan  menikahkan  pasangan  sejenis  laki-laki  yaitu  Elton Jones  orang  pertama  kemudian  menyusul  negara  lain  termasuk Thailand,  Singapora  dan  di Indonesia sendiri  yang  jumlahnya  semakin  besar dan terang-terangan  mengatakan bahwa I am Gay, I am Lesbi.

Berbicara tentang takdir Tuhan, ada hal kajian unik penanganan LGBT  di Aceh, yang termuat dalam media online  https://m.merdeka.com/peristiwa/12-waria-ditangkap-di-aceh-disuruh-lari-teriak-sampai-keluar-suara-pria.html. Dengan cara sederhana diminta untuk lari hingga keluar suara asli dapat membuat mereka kembali menjadi normal. Dalam hal ini membuktikan pernyataan yang disampaikan oleh Dr Titik bahwa pola asuh, pergaulan, kenyamanan, dll dan bukan  berdasarkan takdir Tuhan, dan beliau menyatakan bahwa banyak juga kasus temuan penderita yang sembuh, sadar  kembali pada fitrahNYA  dan menikah punya anak bahkan jadi motivator untuk yang lain kembali ke jalan benar.

Sepertinya dalam hal ini  perlu ditekankan  lagi  masukan  dari  prof Sunaryo  dan prof Syamsu, agar BK dalam penanganan memegang  prinsip pendekatan mendasari konteks pilihan hidup yang berbasis moral  religius  dan  kaidah  norma masyarakat. Dalam hal ini BK mengutamakan pemahaman pada siswa agar mengidentifikasi pilihan hidupnya sesuai kodrat illahi, bukan bebas begitu saja harus menjadi lelaki atau perempuan. Khusus untuk yang memiliki kecenderungan potensi LGBT maka BK harus mengembalikan pada tataran yang benar. Makna pilihan hidup yang sesuai dengan kodrat manusia diciptakan oleh Tuhan. karena  sekarang mulai terjadi pergeseran  memaknai  budaya  dan  filsafat kehidupan  manusia, lebih pada  suka-suka  hati  tidak  memperhatikan  nilai-nilai  agama, moral, dan susila.

Melirik sekilas pada kajian psikologi, sejak  tahun  1973, homoseksual  dihapuskan  dari  daftar Diagnostic  and  Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) sebagai penyakit jiwa. Namun tidak banyak yang  mengetahui latar belakang penghapusan itu, dipaparkan oleh  Psikolog Ihshan Gumilar pada  seminar  bertema  ‘LGBT  dari  Prespektif  Neurosains’ di UHAMKA kampus Limau, Kebayoran Baru, Jakarta. Homoseksual, jelas  Ihshan, awalnya  termasuk  kedalam kategori penyakit jiwa, hingga semenjak DSM II  cetakan  ketujuh  tidak  lagi dianggap  sebagai  mental  disorder. “Kalau Anda buka di DSM yang  sekarang  tidak  ada,  tapi kalau buka di DSM I itu masih ada. DSM II kalau cetakan ke 1 sampai  6  itu  juga  masih  ada,” jelasnya. Hal itu, kata dia, disebabkan karena adanya  gerakan politik  dan demonstrasi  besar-besaran  yang  merupakan  rentetan dari pergerakan warga Amerika kulit hitam pada tahun 1950-an, yang kemudian  berlanjut  pada  pergerakan feminis dan aktivis homoseksual. Yang lebih mengerikan  sekaligus  banyak yang  belum  mengetahui, lanjut  Ihshan, bahwa  setelah dihapusnya homoseksual dari DSM, salah seorang ketua  penyusun DSM langsung  mendeklarasikan kalau dirinya adalah seorang homoseksual.

Melihat propaganda penyebaran LGBT ini telah melebarkan sayap secara global maka hendaknya kita harus lebih maksimal sebagai seorang pendidik mencegah terjadi di kalangan dunia pendidikan di Indonesia, walaupun dalam hal ini tidak ada niatan mengesampingkan peran orangtua dan masyarakat dalam mensukseskan terlaksananya gerakan anti LGBT di kalangan pelajar. Dr Latipun, dosen Universitas Muhamaddiyah Malang menyampaikan literatur barat tentang konseling LGBT lebih berfokus  pada  penanganan  atas  problem  psikologis  dan  interpersonal  yang  dialami mereka.  Literatur  itu  umumnya tidak  sesuai  dengan  nilai dan budaya kita. Sehingga perlu kajian dan telaah dari sudut pandang BK dalam hal ini motor penggerak adalah para akademisi senior yang harusnya merumuskan formula  sendiri.

Prof. Herman dalam  diskusi  Forum  Rembuk  BK mengemukakan  ketika  ilmu  tidak  bias  menjelaskan sesuatu,  maka  filsafat  bias  menjelaskannya.  Dan  ketika  filsafat  mengalami  kebuntuan,  maka  agama bisa  menjelaskannya. Terkait dengan LGBT,  menurut  saya  itu  bukan  pilihan, tetapi  akibat lingkungan/pendidikan. Sebagaimana  dikemukakan  anggota forum, semua  agama  tidak  membenarkan  LGBT.  Tugas  kita  adalah  mengajak  mereka  ke jalan  yang  benar,  dan  mencegah  anak  didik  kita  dari  LGBT. Ketika ada sebuah pertanyaan mengarah pada teknis, apakah  yang perlu di ambil  dalam  sikap  untuk  praktisi  maupun  akademisi  BK  terkait  LGBT. Prof Herman menjawab tugas kita  menjelaskan  bahwa LGBT itu tidak baik dan dilarang oleh semua agama. Tentu  kita harus yakin dulu bahwa LGBT itu dilarang. Menurut saya, tugas kita sebagai konselor  adalah  menyampaikan kebenaran.  Apakah  klien kita menerima kebenaran atau tidak, itu hidayah dari Tuhan. Keputusan terakhir terletak  pada  klien sendiri. Orangtua  juga  punya  peranan  yang sangat  besar.  Semua  teori pendidikan dan teori konseling menjelaskan bahwa peletak dasar pendidikan pada anak adalah pengasuhnya.  Dalam  pemahaman  saya,  tugas  para  nabi  dan  rasul  adalah  menyampaikan  kebenaran. Begitu  juga  guru,  konselor,  dan  pendidik  lainnya, tugasnya  adalah  menyampaikan kebenaran  kepada anak didik atau kliennya.

Secara teknis Prof. Alimuddin Mahmud Guru Besar BK di Universitas Negeri Makasar  menambahkan  pendapat Rasional  konseling LGBT: 1).  Konseling  untuk semua 2). LGBT dari  perspektif  agama, sesuatu tindakan yang tidak diharapkan. 3). Perilaku LGBT potensial  jadi  penyebab  penyakit  bio-psiko-sosiologis.  4). BK bertanggung jawab untuk mencegah & menanggulangi dampak  negatif  perilaku LGBT.  5). BK  bertanggung jawab  menumbuh  kembangkan setiap individu  ke arah  well  being  person. Dukungan  pernyataan  Prof  Herman dan Prof Ali dalam diskusi  tersampaikan  oleh anggota group  dengan ungkapan  persetujuan  dengan  pendapat-pendapat beliau, hal  ini  terutama  dengan kaitannya  agama  sangat  berperan  penting  dalam  pengentasan  kasus ini, karena  dasar  agama  yang  kuat,  apapun  agamanya   diyakini dapat   menjauhakan  dari  perilaku LGBT, akan tetapi  untuk keterkaitan  tanggung jawab  BK  maka  perlu  diperluas  dengan  menjalin kerjasama dengan orang tua,  guru mapel , dinas  pendidikan  bahkan dinas  kesehatan  dan  pemuka agama.  Karena  target kita  adalah  anak  didik  yang  kita asuh, mungkin perlu ada materi  khusus  tentang  hal ini yang  wajib diberikan pada anak didik  kita  dan formula apa  yang  bisa mendeteksi,  apakah  anak kita tersebut terkena dampak, kemudian  bagaimana  kita  mesti mengatasinya. Karena ternyata hal ini  sangat sensitif sekali dan sangat pribadi sekali bagi  murid kita

Guru Besar dari Universitas Negeri Medan, Prof Abdul mencoba  menguraikan pernyataan  Prof. Sunaryo  dan  Prof.  Syamsu  tentang  topik yang sudah  amat  jelas dan  bagaimana  kita bersikap. LGBT   ini  melanggar  nilai-nilai agama  dan  otomatis  tidak  pancasilais.  Jangan didrible lagi bolanya  sudah  offside. Justru  kita  memberikan  konseling  for all,   yang  megatasi   tidak sesuai  atau menabrak  nilai-nilai  agama  dan  budaya  sebagai  sebagai  sumber  substansi  dalam Pancasila, seperti  sila  pertama. Praktisi  pendidikan  Sugiarto, mengatakan  penanganan  LGBT harus  komprehensif sebagai  bentuk  tanggung jawab  bersama  atas  ancaman  bersama dan hendaknya hasil diskusi ini bisa menjadi embrio kebijakan para penentu kebijakan, perlu dikristalkan, ,dirumuskan, ,dibuat kajian, diseminarkan  dan  dikemas  dalam  sebuah  ide ke BK an yang bisa di usulkan  dari  lembaga ke lembaga, dan hal ini  bisa menjadi sumbangsih BK untuk mengatasi bahaya LGBT.

Ucapan terima kasih di sampaikan Prof Andi  Mapiare  pada rekan sejawat yang telah urun rembuk  dalam  bahasan LGBT, beliau sampaikan secara pribadi  memetik banyak manfaat dari diskusi, menambah  kepakaan,   menambah  informasi  teknis, memunculkan  ide-ide teoretik,  membuka wawasan  baru. Namun demikian, saya pribadi masih merasa kurang, Ketika kita melihat postingan LGBT  itu  sebagai  data  kualitatif  untuk  kita  petakan secara teoretik  maka  rasanya theoretical saturation  masih  jauh  dan  kita  tidak  perlu mengharap adanya kesepakatan substansial entah konseptual  ataupun  teknikal dari diskusi.

Allah berfirman

وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖۤ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ  بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika  dia  berkata  kepada  kaumnya, Mengapa kamu melakukan  perbuatan  keji, yang belum  pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 80)

Ayat  Allah diatas mulai memunculkan usulan teknik tentang  Konseling  eksistensialisme  Islam sudah dibahas diawal diskusi  sebagai  salah  satu  pendekatan  yang  dapat  dikembangkan lagi, dan mengadakan pengukuran sejauhmana mampu mengintervensi perilaku LBGT.  Bicara terkait teknis konseling maka  akan  kita  uraikan  dalam  kesempatan yang lain, yang jelas konseling  sangat diperlu, fokus pembahasan sekarang  pada perkembangan  yang  semakin  kompleks  masalah, terutama tumbuh kembang  anak  sebagai   generasi  penerus  tentu  guru  BK  harus  bisa  menjadi  garda paling  depan  dan  banyak dibutuhkan eksistensinya di Kemensos, Kemenkes, BNN, Kemedikbud, Kemenag, Kementerian  tenaga  kerja  dll  sehingga  perlu  adanya kolaborasi, hal itu  harus dipelopori  oleh ABKIN agar bisa menembus keseluruh lembaga  sehingga BK  akan  semakin  berjaya  untuk  bangsa  dalam  memberikan   ketahanan  nasional. Melalui  forum  ini, ,berawal dari  diskusi  berlanjut  ke hal lain, syukur  kalau  bias  membuat  usulan  melalui  ABKIN  kepada   pemerintah, DPR,  dsb, untuk melindungi para siswa atau remaja dari dampak yang merugikan khususnya LGBT.

Prof Andi  dalam diskusi mengemukakan pendapat, bahwa LGBT  adalah penyakit  kuno yang  dihidupkan kembali di masa kini, berita terbaru  telah  ditolak  untuk  dibahas  dalam  Sidang  IPU. Sidang Umum Inter-Parliamentary Union (IPU) 139. Sidang ini  berlangsung 14-18 Oktober 2018 di Jenewa. Perwakilan dari Indonesia  dengan  tegas  mengadakan penolakan, Indonesia didukung oleh 36 negara dan 9 negara mendukung. Alasan utama penolakan  berharap  parlemen dunia bersama-sama membangun  peradaban dunia, yang  bermartabat  dengan  penegakan  etika  dan nilai moral universal, termasuk nilai-nilai agama. “Tidak  ada agama apapun di dunia ini yang melegalkan  LGBT karena  efek kerusakan yang  ditimbulkannya  bagi  kemanusiaan. Secara  khusus membuat Indonesia menolak adalah merupakan bagian dari misi Indonesia sebagaimana  diamanatkan oleh dasar negara dan konstitusi. “Dasar negara Pancasila dan UUD 1945 jelas menolak penyebaran apalagi pelegalan LGBT.

Jika dunia sudah tidak menghendaki kehadiran LGBT apakah di Indonesia pergerakan  propaganda komunitas ini akan dibiarkan begitu saja, kita bisa belajar  pada  ketegasan  negara  tetangga seperti Turki, Brunei, dll yang  jelas  melarang LGBT  ada  di negara   mereka. Bahkan yang  terjadi di Indonesia sungguh  membahayakan, penggunaan medsos untuk transaksi ber LGBT, komik berisi porno dan kontens  LGBT mulai  menyasar  pada anak-anak,  tayangan  film  lolos  sensor  yang mengandung konten LGBT, beberapa tayangan sinetron, dan lain-lain.

Sebagai  penutup  artikel  bahasan  ini, disampaikan renungan untuk  kita bersama, oleh Prof Prayitno, Guru  Besar  di Universitas  Negeri  Padang.

  1. Lima kebutuhan manusia : kebutuhan fisik, teknik,  sosial,  selera, dan  iman- takwa. Pemenuhan  kelima kebutuhan  itu  saling  terkait  dan terintegrasikan,  untuk  mencapai  kehidupan  yang  DBMSB-DA  (damai,  berkembang,  maju,  sejahtera, dan bahagia  di dunia dan akhirat)
  2. DBMSB-DA dicapai melalui pendidikan, dengan  prinsip  TJS  (“tiga jadi satu”: ilmiah, amaliah, dan imaniah). Jika kaidah  imaniah  tidak jalan maka  kehidupan menjadi sekuler, yang  menomor-satu-kan  dunia dan me-nol- kan akhirat. LGBT dan Z (zina)  serta  narkoba misalnya  termasuk  sekuler, yang  non- imaniah.
  3. BK adalah  pendidikan,   dengan  prinsip  TJS  untuk  penuhi  lima  kebutuhan dasar dan  capai  DBMSB- DA.  Lakukan  layanan  BK  tepat,  efektif  dan berhasil.  Untuk  itu  jadilah  konselor
  4. Konselor profesional  kuasai  dan  laksanakan empat  kompetensi  dasar,  yaitu  kompetensi  pedagogik, kepribadian,  sosial,  dan  profesi   Untuk itu pahami, kuasai dan laksanakan rumusan pendidikan tertulis di UU No 20 th 2003.
  5. Rumusan  pendidikan  dalam  Undang- undang  tersebut,  berdasarkan  Pancasila, benar-benar sesuai prinsip TJS, arah  pemenuhan  lima  kebutuhan dasar, dan DBMSB-DA. Dan pelayanan  BK  termasuk di dalamnya.