Bimbing Aku dengan Kasihmu

Sore itu secara tidak sengaja saya membaca sebuah share tulisan di grup WhatsApp, biasanya saya akan membaca kemudian meletakkan kembali karena model copy paste memang mudah mampir ke komunikasi lewat WhatsApp kadang berisi informasi tentang kesehatan, religi, pola asuh dan sekedar bercanda,  namun sore itu ada share yang menarik hatiku, beginilah isi pesan tersebut:

PEMBINAAN KEDISIPLINAN DENGAN CARA DIJEMUR DAN TELANJANG DADA

Disalah satu sekolah menengah atas.

Tampak puluhan lebih anak laki-laki dibariskan dengan bertelanjang dada plus 1 siswa perempuan dengan hanya membuka jas almamaternya. Habis upacara bendera hari senin kemaren didampingi oleh bapak tentara.

Niatnya sih pembinaan bagi anak yang point pelanggarannya 50 keatas diakumulasi mulai dari kelas X dengan sekalian menjemur anak-anak itu dengan meminjam halaman lapangan milik sekolah yang lain yang kebetulan berdekatan.

Ada anak yang pernah melakukan pelanggaran keterlambatan masuk sekolah dikelas sebelumnya. Sekarang anak tersebut sudah berubah tapi masih mendapatkan sanksi.

Dipanaskan di bawah terik matahari sampai jam 10.00 WIB tanpa mengenakan baju. Apakah ini bentuk pendidikan karakter yang kita gembargemborkan dan himbauan sekolah ramah anak?

Apakah ini termasuk kekerasan fisik dan psikologis

Pada hari ke-2 program “pembinaan” di lapangan perkampungan yang jauh dari sekolahnya anak-anak, bukan hanya dijemur tapi sudah terjadi aktifitas fisik push up, lari dengan tetap tanpa memakai baju.

Bagaimana tanggapan bapak ibu pendidik?

Membaca tulisan ini ada rasa berdesir di dada. ada rasa marah, kecewa, sedih dan beragam tanya, selanjutnya terjadi diskusi panjang di grup WhatsApp, berbagai pendapat bermunculan. Saya tidak tahu siapa penulis awal tulisan ini dan juga sekolah yang dimaksud, tapi yang pasti penulisnya adalah orang yang peduli pada pendidikan.

Akhir-akhir ini dunia pendidikan memang banyak disoroti, guru dan lembaga pendidikan sebaiknya perlu berhati-hati dalam menerapkan proses yang disebut dengan  “pembinaan” apalagi yang melibatkan pihak lain.

Memang tulisan di atas diberi nama pembinaan, menurut KBBI pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang baik.  Pada pembinaan ini yang dikumpulkan adalah anak-anak yang pernah melakukan kesalahan dilihat dari akumulasi point. darimana akumulasi point, tentunya dari rekam jejak kesalahan yang sudah dia lakukan. Anak yang bersalah diperlakukan berbeda tentunya mereka merasa “saya salah saya dihukum”. Yang pasti apapun namanya mereka akan menganggap itu adalah “hukuman” karena akumulasi kesalahan yang sudah dihargai dengan point oleh sekolahnya.

Dalam buku karya Dr. Charles Schaefer yang berjudul Cara Efektif Mendidik dan Mendisiplinkan Anak, menyebutkan bahwa hukuman berarti suatu bentuk kerugian atau kesakitan yang ditimpakan kepada seseorang yang berbuat kesalahan. Tujuan jangka pendek adalah menghentika prilaku yang salah, tujuan jangka panjang ialah untuk mengajar dan mendorong anak menghentikan sendiri tingkah laku yang salah dan mengarahkan diri sendiri.

Masih dalam buku karya Dr. Charles Schaefer, kunci untuk disiplin yang efektif ialah membuat hukuman-hukuman layak, menentukan besar kecilnya bentuk hukuman bukan merupakan pilihan yang diukur dengan gejolak perasaan marah orang dewasa. Suatu hukuman yang logis, pelanggaran yang baru pertama kali dilakukan haruslah seimbang besar atau kerasnya hukuman. Hukuman yang berlebihan akan menyebabkan anak lebih memusatkan pikirannya pada ketidakadilan daripada kesalahan yang mereka lakukan.

Karena itulah hukuman harus direncanakan sebelumnya, hindari menentukan hukuman ketika dalam kondisi marah dan emosional. Anak akan menerima hukuman yang diterima kalau mereka memiliki hubungan yang positif dengan orang yang menghukum, dia bisa membedakan respon ketika berbuat baik dan ketika melakukan kesalahan. Penelitian sudah menunjukkan bahwa hukuman itu umumnya sangat efektif dalam pengembangan pelajaran bila segera dilakukan sesudah perbuatan salah dilakukan. Penundaan dapat menyebabkan seorang anak melupakan apa yang dilakukannya. Sehingga ketika menerima hukuman dia akan sulit menyadari kesalahannya. Dan yang penting hukuman hendaknya bersifat pribadi tidak seorangpun mau dikritik dan dihukum di depan umum. Orang tua atau guru harus memperlakukan anak sebagaimana kita ingin diperlakukan orang lain.

Orang tua dan guru perlu mengembangkan suatu hubungan yang bersifat kasih sayang, anak akan menerima hukuman itu lebih baik kalau mereka mempunyai hubungan yang positif dengan orang tua atau guru. Anak akan merasa dia dihukum karena prilakunya yang salah bukan dihukum karena merasa dibenci.

Karena hukuman itu umumnya menyatakan kegagalan seorang anak dan bila terlalu sering dihukum maka dapat merendahkan harga diri, kepercayaan diri dan semangat, maka lebih baik memusatkan usaha terhadap alat penguat (reinforcement) yang positif  dari tingkah laku yang bisa diterima, daripada penekanan tingkah laku yang salah dengan ancaman hukuman.

Sekolah adalah lembaga yang sangat dibutuhkan anak untuk belajar dan bersosialisasi, dan setiap sekolah punya tujuan yang mulia terhadap anak muridnya. Tempat seorang anak berproses dan memahami pentingnya kerja keras, disiplin dan akhlak yang baik, maka bapak ibu guru bimbinglah mereka dengan kasih sayang. Jika memang harus ada hukuman pastikan yang “cela” adalah kesalahannya bukan karena guru benci mereka. Tetaplah menerima dan menyayanginya dengan kondisi yang terkadang berbuat kesalahan, karena dari situlah pertalian kasih sayang antara guru dan murid akan terjalin.

By: Ninik Trimariya, S.Psi (Guru BK MTs N 1 Malang)

 

Merumuskan Kebijakan Anti LGBT di Kalangan Dunia Pendidikan

Dwi Atmaja, S.Pd, M.Psi (Ketua Bidang BK APKS PGRI Prov Jawa Timur)

Pemikiran konteks Jihad Terhadap Pemikiran Pro LGBT dikemukakan oleh guru besar Bimbingan dan Konseling Prof. Andi Mapiare dari Universitas Negeri Malang. Gerakan penolakan pemikiran yang pro terhadap LGBT mendapat dukungan dari berbagai pihak kalangan praktisi Bimbingan dan Konseling, dengan harapan agar generasi bangsa dijauhakan dari perbuatan keji yang dimurkai  Allah SWT. Dari sudut pandang umum aktivitas serupa terkait pencegah arus perkembangan propaganda LGBT disuarakan oleh bupati Cianjur, Instruksi yang diberikan Pemkab melalui  seluruh Camat itu tercantum dalam Surat Edaran Bupati Cianjur Nomor 400/5368/Kesra Tentang Penyampaian Khutbah Jum’at.  Surat  itu  ditandatangani oleh Wakil  Bupati Cianjur  Herman Suherman  atas  nama  Bupati  Cianjur  Irvan  Rivano  Muchtar  tertanggal  15  Oktober 2018. Selain berisi instruksi, surat edaran itu juga melampirkan enam halaman naskah khutbah berjudul “Bahaya LGBT, Sodomi dan Pencabulan  dalam Kehidupan Beragama, Berbangsa dan bernegara dalam Perspektif Hukum Islam”.

Prof. Andi menegaskan  kaum LGBT kurang atau belum  sadar  bahwa  dari  mereka  pula  penularan penyakit  seksual dan dampak  azab  Allah  yang  bisa  mengenai  orang  baik-baik,  Naudzubillah summa naudzubillah. Pendapat mendukung  dari sisi dunia  di sampaikan oleh Dr. Titik  selaku aktivis  komisi perlindungan anak dan perempuan, kerusakan di PFC  (Pre Frontal Cortex) sehingga tidak  bisa lagi mengontrol  diri  padahal  mereka mengetahui  akibat  buruk bagi dirinya sendiri, bahkan ada  yang sudah  HIV/AIDS tetapi tetap melakukan hubungan seks dengan  sejenis. Narkoba, Pornografi, Homo, lesbi,  mengakibatkan  kecanduan  karena  sistem  lymbic  dalam otak  tidak  berfungsi  dengan  baik, sehingga  dopamin  yang  aktif.

Masih adanya pola pemikiran di sebagian masyarakat, mengatakan prihatin ketika  hak  mereka  tidak dipedulikan  dan  dipaksa  berubah  sementara  sang penciptaNya  menghadirkan  mereka  didunia. Seandainya  Tuhan  itu  bodoh  maka  pasti  DIA  tidak  menghadirkan  mereka.  Menjadi  laki laki  atau perempuan  atau  banci  bukanlah  pilihan  mereka.  Tapi  takdir  mereka.  Kita  boleh  merasa  terganggu dengan  kehadiran  mereka  namun  tetap  membantu  mereka  menjadi  PKIA  (Produktif,kreatif,inovatif Dan afektif ) bukan  seperti  mencuci  cawan  yang  dibersihkan  hanya  bagian  luarnya  saja.  Solusi yang manusiawi  dan  berkeTuhanan  yang  mereka  boleh  terima. Pemikiran yang demikian muncul sebenarnya akan mendorong  semangat mereka, seolah kita mengaminkan bahwa menjadi LGBT adalah kehendak Tuhan, tentu saja hal ini sejalan dengan propoganda yang sedang mereka lakukan.

Jika melihat ketentuan keagamaan di Indonesia, tidak ada satupun yang memperbolehkan adanya ketentuan LGBT di dalam ajaran masing-masing agama, patut ditanyakan Tuhan agama manakah yang dimaksud dalam propganda mereka. Seharusnya sebagai masyarakat kita perlu lebih jeli agar tidak terpengaruhi  pada  kepentingan  terselubung  mereka dalam mencari  kepuasan nafsu biologis  semata. Justru solusi yang diberikan bukan memberikan pengakuan adanya mereka, melainkan solusi untuk disembuhkan  kembali  kepada  fitrah  sebagai  mahluk  Tuhan  yang  menciptakan hanya manusia menjadi laki-laki dan perempuan. Karena pola  asuh dan lingkungan  yang  salah  tidak  sesuai dengan kodratnya  sehingga  menyimpang  dan hal ini harus disembuhkan. Untuk itu tugas Bimbingan dan Konseling   adalah memberikan layanan  prima  dalam  pencegahan dan penyembuhan.

Temuan kasus yang di paparkan Dr Titik sangat  menarik, beberapa  banci  yang beliau jumpai dan ada wawancara mengatakan  tidak ada keinginan menjadi  jadi  banci  tetapi karena  sudah  menjadi  habit dan nyaman makanya lebih memilih banci walaupun kadang hatinya menjerit. Begitu pula  yang  wanita karena penampilannya tidak  feminis  lebih  maskulin  sehingga  lebih  tertarik  jadi laki-laki  walaupun  perempuan sehingga  memilih  lebih  tertarik  dengan  sejenis  yang  perempuan disebut lesbian. Kasus sama  mereka tidak  ingin  seperti itu  tetapi karena  habit  dan  rasa nyaman  sehingga  penyimpangan perilaku  terus  berlanjut. Maka  Negara  Belanda  yang  menjadi  pilihan  untuk  hidup  mereka  bebas , inggris  yang  semula  menolak  akhirnya  gereja  menerima  juga  dengan  menikahkan  pasangan  sejenis  laki-laki  yaitu  Elton Jones  orang  pertama  kemudian  menyusul  negara  lain  termasuk Thailand,  Singapora  dan  di Indonesia sendiri  yang  jumlahnya  semakin  besar dan terang-terangan  mengatakan bahwa I am Gay, I am Lesbi.

Berbicara tentang takdir Tuhan, ada hal kajian unik penanganan LGBT  di Aceh, yang termuat dalam media online  https://m.merdeka.com/peristiwa/12-waria-ditangkap-di-aceh-disuruh-lari-teriak-sampai-keluar-suara-pria.html. Dengan cara sederhana diminta untuk lari hingga keluar suara asli dapat membuat mereka kembali menjadi normal. Dalam hal ini membuktikan pernyataan yang disampaikan oleh Dr Titik bahwa pola asuh, pergaulan, kenyamanan, dll dan bukan  berdasarkan takdir Tuhan, dan beliau menyatakan bahwa banyak juga kasus temuan penderita yang sembuh, sadar  kembali pada fitrahNYA  dan menikah punya anak bahkan jadi motivator untuk yang lain kembali ke jalan benar.

Sepertinya dalam hal ini  perlu ditekankan  lagi  masukan  dari  prof Sunaryo  dan prof Syamsu, agar BK dalam penanganan memegang  prinsip pendekatan mendasari konteks pilihan hidup yang berbasis moral  religius  dan  kaidah  norma masyarakat. Dalam hal ini BK mengutamakan pemahaman pada siswa agar mengidentifikasi pilihan hidupnya sesuai kodrat illahi, bukan bebas begitu saja harus menjadi lelaki atau perempuan. Khusus untuk yang memiliki kecenderungan potensi LGBT maka BK harus mengembalikan pada tataran yang benar. Makna pilihan hidup yang sesuai dengan kodrat manusia diciptakan oleh Tuhan. karena  sekarang mulai terjadi pergeseran  memaknai  budaya  dan  filsafat kehidupan  manusia, lebih pada  suka-suka  hati  tidak  memperhatikan  nilai-nilai  agama, moral, dan susila.

Melirik sekilas pada kajian psikologi, sejak  tahun  1973, homoseksual  dihapuskan  dari  daftar Diagnostic  and  Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) sebagai penyakit jiwa. Namun tidak banyak yang  mengetahui latar belakang penghapusan itu, dipaparkan oleh  Psikolog Ihshan Gumilar pada  seminar  bertema  ‘LGBT  dari  Prespektif  Neurosains’ di UHAMKA kampus Limau, Kebayoran Baru, Jakarta. Homoseksual, jelas  Ihshan, awalnya  termasuk  kedalam kategori penyakit jiwa, hingga semenjak DSM II  cetakan  ketujuh  tidak  lagi dianggap  sebagai  mental  disorder. “Kalau Anda buka di DSM yang  sekarang  tidak  ada,  tapi kalau buka di DSM I itu masih ada. DSM II kalau cetakan ke 1 sampai  6  itu  juga  masih  ada,” jelasnya. Hal itu, kata dia, disebabkan karena adanya  gerakan politik  dan demonstrasi  besar-besaran  yang  merupakan  rentetan dari pergerakan warga Amerika kulit hitam pada tahun 1950-an, yang kemudian  berlanjut  pada  pergerakan feminis dan aktivis homoseksual. Yang lebih mengerikan  sekaligus  banyak yang  belum  mengetahui, lanjut  Ihshan, bahwa  setelah dihapusnya homoseksual dari DSM, salah seorang ketua  penyusun DSM langsung  mendeklarasikan kalau dirinya adalah seorang homoseksual.

Melihat propaganda penyebaran LGBT ini telah melebarkan sayap secara global maka hendaknya kita harus lebih maksimal sebagai seorang pendidik mencegah terjadi di kalangan dunia pendidikan di Indonesia, walaupun dalam hal ini tidak ada niatan mengesampingkan peran orangtua dan masyarakat dalam mensukseskan terlaksananya gerakan anti LGBT di kalangan pelajar. Dr Latipun, dosen Universitas Muhamaddiyah Malang menyampaikan literatur barat tentang konseling LGBT lebih berfokus  pada  penanganan  atas  problem  psikologis  dan  interpersonal  yang  dialami mereka.  Literatur  itu  umumnya tidak  sesuai  dengan  nilai dan budaya kita. Sehingga perlu kajian dan telaah dari sudut pandang BK dalam hal ini motor penggerak adalah para akademisi senior yang harusnya merumuskan formula  sendiri.

Prof. Herman dalam  diskusi  Forum  Rembuk  BK mengemukakan  ketika  ilmu  tidak  bias  menjelaskan sesuatu,  maka  filsafat  bias  menjelaskannya.  Dan  ketika  filsafat  mengalami  kebuntuan,  maka  agama bisa  menjelaskannya. Terkait dengan LGBT,  menurut  saya  itu  bukan  pilihan, tetapi  akibat lingkungan/pendidikan. Sebagaimana  dikemukakan  anggota forum, semua  agama  tidak  membenarkan  LGBT.  Tugas  kita  adalah  mengajak  mereka  ke jalan  yang  benar,  dan  mencegah  anak  didik  kita  dari  LGBT. Ketika ada sebuah pertanyaan mengarah pada teknis, apakah  yang perlu di ambil  dalam  sikap  untuk  praktisi  maupun  akademisi  BK  terkait  LGBT. Prof Herman menjawab tugas kita  menjelaskan  bahwa LGBT itu tidak baik dan dilarang oleh semua agama. Tentu  kita harus yakin dulu bahwa LGBT itu dilarang. Menurut saya, tugas kita sebagai konselor  adalah  menyampaikan kebenaran.  Apakah  klien kita menerima kebenaran atau tidak, itu hidayah dari Tuhan. Keputusan terakhir terletak  pada  klien sendiri. Orangtua  juga  punya  peranan  yang sangat  besar.  Semua  teori pendidikan dan teori konseling menjelaskan bahwa peletak dasar pendidikan pada anak adalah pengasuhnya.  Dalam  pemahaman  saya,  tugas  para  nabi  dan  rasul  adalah  menyampaikan  kebenaran. Begitu  juga  guru,  konselor,  dan  pendidik  lainnya, tugasnya  adalah  menyampaikan kebenaran  kepada anak didik atau kliennya.

Secara teknis Prof. Alimuddin Mahmud Guru Besar BK di Universitas Negeri Makasar  menambahkan  pendapat Rasional  konseling LGBT: 1).  Konseling  untuk semua 2). LGBT dari  perspektif  agama, sesuatu tindakan yang tidak diharapkan. 3). Perilaku LGBT potensial  jadi  penyebab  penyakit  bio-psiko-sosiologis.  4). BK bertanggung jawab untuk mencegah & menanggulangi dampak  negatif  perilaku LGBT.  5). BK  bertanggung jawab  menumbuh  kembangkan setiap individu  ke arah  well  being  person. Dukungan  pernyataan  Prof  Herman dan Prof Ali dalam diskusi  tersampaikan  oleh anggota group  dengan ungkapan  persetujuan  dengan  pendapat-pendapat beliau, hal  ini  terutama  dengan kaitannya  agama  sangat  berperan  penting  dalam  pengentasan  kasus ini, karena  dasar  agama  yang  kuat,  apapun  agamanya   diyakini dapat   menjauhakan  dari  perilaku LGBT, akan tetapi  untuk keterkaitan  tanggung jawab  BK  maka  perlu  diperluas  dengan  menjalin kerjasama dengan orang tua,  guru mapel , dinas  pendidikan  bahkan dinas  kesehatan  dan  pemuka agama.  Karena  target kita  adalah  anak  didik  yang  kita asuh, mungkin perlu ada materi  khusus  tentang  hal ini yang  wajib diberikan pada anak didik  kita  dan formula apa  yang  bisa mendeteksi,  apakah  anak kita tersebut terkena dampak, kemudian  bagaimana  kita  mesti mengatasinya. Karena ternyata hal ini  sangat sensitif sekali dan sangat pribadi sekali bagi  murid kita

Guru Besar dari Universitas Negeri Medan, Prof Abdul mencoba  menguraikan pernyataan  Prof. Sunaryo  dan  Prof.  Syamsu  tentang  topik yang sudah  amat  jelas dan  bagaimana  kita bersikap. LGBT   ini  melanggar  nilai-nilai agama  dan  otomatis  tidak  pancasilais.  Jangan didrible lagi bolanya  sudah  offside. Justru  kita  memberikan  konseling  for all,   yang  megatasi   tidak sesuai  atau menabrak  nilai-nilai  agama  dan  budaya  sebagai  sebagai  sumber  substansi  dalam Pancasila, seperti  sila  pertama. Praktisi  pendidikan  Sugiarto, mengatakan  penanganan  LGBT harus  komprehensif sebagai  bentuk  tanggung jawab  bersama  atas  ancaman  bersama dan hendaknya hasil diskusi ini bisa menjadi embrio kebijakan para penentu kebijakan, perlu dikristalkan, ,dirumuskan, ,dibuat kajian, diseminarkan  dan  dikemas  dalam  sebuah  ide ke BK an yang bisa di usulkan  dari  lembaga ke lembaga, dan hal ini  bisa menjadi sumbangsih BK untuk mengatasi bahaya LGBT.

Ucapan terima kasih di sampaikan Prof Andi  Mapiare  pada rekan sejawat yang telah urun rembuk  dalam  bahasan LGBT, beliau sampaikan secara pribadi  memetik banyak manfaat dari diskusi, menambah  kepakaan,   menambah  informasi  teknis, memunculkan  ide-ide teoretik,  membuka wawasan  baru. Namun demikian, saya pribadi masih merasa kurang, Ketika kita melihat postingan LGBT  itu  sebagai  data  kualitatif  untuk  kita  petakan secara teoretik  maka  rasanya theoretical saturation  masih  jauh  dan  kita  tidak  perlu mengharap adanya kesepakatan substansial entah konseptual  ataupun  teknikal dari diskusi.

Allah berfirman

وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖۤ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ  بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika  dia  berkata  kepada  kaumnya, Mengapa kamu melakukan  perbuatan  keji, yang belum  pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 80)

Ayat  Allah diatas mulai memunculkan usulan teknik tentang  Konseling  eksistensialisme  Islam sudah dibahas diawal diskusi  sebagai  salah  satu  pendekatan  yang  dapat  dikembangkan lagi, dan mengadakan pengukuran sejauhmana mampu mengintervensi perilaku LBGT.  Bicara terkait teknis konseling maka  akan  kita  uraikan  dalam  kesempatan yang lain, yang jelas konseling  sangat diperlu, fokus pembahasan sekarang  pada perkembangan  yang  semakin  kompleks  masalah, terutama tumbuh kembang  anak  sebagai   generasi  penerus  tentu  guru  BK  harus  bisa  menjadi  garda paling  depan  dan  banyak dibutuhkan eksistensinya di Kemensos, Kemenkes, BNN, Kemedikbud, Kemenag, Kementerian  tenaga  kerja  dll  sehingga  perlu  adanya kolaborasi, hal itu  harus dipelopori  oleh ABKIN agar bisa menembus keseluruh lembaga  sehingga BK  akan  semakin  berjaya  untuk  bangsa  dalam  memberikan   ketahanan  nasional. Melalui  forum  ini, ,berawal dari  diskusi  berlanjut  ke hal lain, syukur  kalau  bias  membuat  usulan  melalui  ABKIN  kepada   pemerintah, DPR,  dsb, untuk melindungi para siswa atau remaja dari dampak yang merugikan khususnya LGBT.

Prof Andi  dalam diskusi mengemukakan pendapat, bahwa LGBT  adalah penyakit  kuno yang  dihidupkan kembali di masa kini, berita terbaru  telah  ditolak  untuk  dibahas  dalam  Sidang  IPU. Sidang Umum Inter-Parliamentary Union (IPU) 139. Sidang ini  berlangsung 14-18 Oktober 2018 di Jenewa. Perwakilan dari Indonesia  dengan  tegas  mengadakan penolakan, Indonesia didukung oleh 36 negara dan 9 negara mendukung. Alasan utama penolakan  berharap  parlemen dunia bersama-sama membangun  peradaban dunia, yang  bermartabat  dengan  penegakan  etika  dan nilai moral universal, termasuk nilai-nilai agama. “Tidak  ada agama apapun di dunia ini yang melegalkan  LGBT karena  efek kerusakan yang  ditimbulkannya  bagi  kemanusiaan. Secara  khusus membuat Indonesia menolak adalah merupakan bagian dari misi Indonesia sebagaimana  diamanatkan oleh dasar negara dan konstitusi. “Dasar negara Pancasila dan UUD 1945 jelas menolak penyebaran apalagi pelegalan LGBT.

Jika dunia sudah tidak menghendaki kehadiran LGBT apakah di Indonesia pergerakan  propaganda komunitas ini akan dibiarkan begitu saja, kita bisa belajar  pada  ketegasan  negara  tetangga seperti Turki, Brunei, dll yang  jelas  melarang LGBT  ada  di negara   mereka. Bahkan yang  terjadi di Indonesia sungguh  membahayakan, penggunaan medsos untuk transaksi ber LGBT, komik berisi porno dan kontens  LGBT mulai  menyasar  pada anak-anak,  tayangan  film  lolos  sensor  yang mengandung konten LGBT, beberapa tayangan sinetron, dan lain-lain.

Sebagai  penutup  artikel  bahasan  ini, disampaikan renungan untuk  kita bersama, oleh Prof Prayitno, Guru  Besar  di Universitas  Negeri  Padang.

  1. Lima kebutuhan manusia : kebutuhan fisik, teknik,  sosial,  selera, dan  iman- takwa. Pemenuhan  kelima kebutuhan  itu  saling  terkait  dan terintegrasikan,  untuk  mencapai  kehidupan  yang  DBMSB-DA  (damai,  berkembang,  maju,  sejahtera, dan bahagia  di dunia dan akhirat)
  2. DBMSB-DA dicapai melalui pendidikan, dengan  prinsip  TJS  (“tiga jadi satu”: ilmiah, amaliah, dan imaniah). Jika kaidah  imaniah  tidak jalan maka  kehidupan menjadi sekuler, yang  menomor-satu-kan  dunia dan me-nol- kan akhirat. LGBT dan Z (zina)  serta  narkoba misalnya  termasuk  sekuler, yang  non- imaniah.
  3. BK adalah  pendidikan,   dengan  prinsip  TJS  untuk  penuhi  lima  kebutuhan dasar dan  capai  DBMSB- DA.  Lakukan  layanan  BK  tepat,  efektif  dan berhasil.  Untuk  itu  jadilah  konselor
  4. Konselor profesional  kuasai  dan  laksanakan empat  kompetensi  dasar,  yaitu  kompetensi  pedagogik, kepribadian,  sosial,  dan  profesi   Untuk itu pahami, kuasai dan laksanakan rumusan pendidikan tertulis di UU No 20 th 2003.
  5. Rumusan  pendidikan  dalam  Undang- undang  tersebut,  berdasarkan  Pancasila, benar-benar sesuai prinsip TJS, arah  pemenuhan  lima  kebutuhan dasar, dan DBMSB-DA. Dan pelayanan  BK  termasuk di dalamnya.

MGMP Kota Sabang Aktif Lakukan Pembinaan

,

Sabang – Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru guru Madrasah di wilayah kerja kota Sabang, sejumlah guru yang tergabung dalam kelompok MGMP mengadakan workshop peningkatan kompetensi guru madrasah dan kepala madrasah dalam hal Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan penilaian kinerja Berkelanjutan (PKB) peserta terdiri dari guru guru madrasah dan kepala madrasah bertempat di Komplek Aula Madrasah terpadu (Madu) Sabang  dengan jumlah peserta 60 orang. Sabtu (20/10/2018)

Acara ini dibuka oleh Kabid Pendidikan madrasah kanwil Kemenag Aceh, Muntasyir yang didampingi oleh Kasi Pendidikan madrasah Provinsi Aceh, Zulkifli dan Kasi Pendidikan Madrasah kota Sabang Munawar.

Dalam sambutannya, Muntasyir menyampaikan tiga hal:

  1. Guru Madrasah adalah tumpuan masyarakat melenial yang harus siap dalam mendidik dan membimbing baik di dalam maupun diluar madrasah.
  2. Guru adalah tenaga pendidik Profesional yang mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi sebagaimana amanat undang-undang no. 14 thn 2005 Tentang guru dan dosen.
  3. Kita memiliki moto baru yaitu: ” Guru Hebat, Madrasah Hebat dan Bermartabat”.

Menyikapi perkembangan generasi millennial, Muntasyir juga menekankan agar guru memiliki literasi digital yang baik dan mampu mengimbangi perkembangan anak didik.

“anak-anak sudah melek digital, guru juga harus menguasai digital” Kata  Muntasyir.

Ia juga mengutip lima kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru berdasarkan pada deklarasi PBB, yaitu memiliki keterampilan literasi, kritis, memecahkan masalah dengan cepat, mampu berkomunikasi dengan baik dan melakukan kerjasama.

Kasi Pendidikan Madrasah, Zulkifli juga menyampaikan pada peserta bahwa ada empat komponen dalam penilaian kinerja guru yaitu Kepala Madarasah, Siswa, Wali siswa, dan sesama guru. Serta mempertimbangkan pula absesnsi kehadiran.

“Berarti penilaian kinerja guru betul betul komprehensif. Oleh sebab itu kepada kita semua bekerjalah dengan ikhlas dan penuh semangat. Insyaallah guru guru madrasah pasti hebat” kata Zulkifli yang langsung disambut tepuk tangan oleh para peserta.

Salah satu peserta Hasbi, dalam penyampaian pesan dan kesan mengakui sangat senang dengan kegiatan ini karena dapat menambah wawasan baru ilmu pengetahuan baru sehingga akan mengusulkan kembali pangkatnya yang sudah lama terhenti.

Kanwil Kemenag Aceh Terapkan Aplikasi UKG Berbasis Android

,

Banda Aceh – Kanwil Kemenag Provinsi Aceh melalukan pemeteaan kompetensi guru melalui penerapan Uji Kompetensi Guru (UKG) lewat aplikasi berbasis android.

Hal ini disampaikan oleh Zulkifli selaku Kasi Pendidikan Madrasah Provinsi Aceh pada saat melakukan sosialisasi penerapan UKG berbasis aplikasi android di MAN 3 Kota Banda Aceh. Kamis, (18/10/2018).

“Kami mencoba setiap tahun itu ada inovasi, yg tujuannya adalah adanya perubahan bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk tahun ini kami mulai UKG berbasis aplikasi dan akan diterapkan secara menyeluruh tahun 2019.” Kata Zulkifli.

Menurut Zul, penggunaan UKG berbasis aplikasi memudahkan pemetaan dan pendataan guru untuk menunjang RPJMDaerah Provinsi Aceh.

“Kita jadi lebih, mana guru yang kualifikasinya A, B, C. Siapa guru yang memang membutuhkan diklat, atau program lain. Intinya programnya akan lebih tepat sasaran”. Ujar Zul.

Bulqiyah selaku pengelola aplikasi mengatakan bahwa pengguaan aplikasi UKG bukan untuk menghukum guru. Ia menganalogikan UKG ini sebagai cermin agar bisa menilai kompetensi diri.

“Rencananya UKG ini dilakukan 6 bulan sekali, dan ketika sudah mengerjakan soal, seketika pula diketahui nilainya.” kata Bulqiyah.

Ke depan, Zulkifli juga mengajakan akan mengembangkan sistem olimpiade terintegrasi yang diperuntukan bagi guru madrasah. Hasil dari olimpiade terintegrasi ini bisa digunakan sebagai acuan penunjukan pendamping tim olimiade yang akan dikirim ke Kompetisi Sains Madrasah. (ASR)

18 Guru Madrasah Berhasil Lolos ke Grand Final Anugerah Konstitusi

,

Jakarta – Kementerian Agama umumkan 18 nama yang berhasil lolos menuju tahap grand final Anugerah Konstitusi yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi. Kegiatan Anugerah Konstitusi diperuntukan bagi guru sekolah dan guru madrasah yang memiliki dedikasi tinggi dalam menanamkan nilai-nilai pancasila dan konstitusi pada anak didiknya.

Berikut nama-nama yang berhasil lolos ke grand final Anugerah Konstitusi:

Kategori Guru Madrasah Ibtidaiyah

1 Alpirudiwan / MIN 3 Kota Padang Sumatera Barat
2 Rokhman / MIN 4 Jakarta Selatan DKI Jakarta
3 Khasbi Istanto / MI Ma’arif NU 02 Tangkisan Jawa Tengah
4 Etik Fadhillah Ihsanti / MI Ma’arif Sangon Yogyakarta
5 Kaldah / MI Cokroaminoto 2 Badamita Jawa Tengah
6 Abd. Azis Tatapangarsa / MI Miftahul Abror Jawa Timur

Kategori Guru Madrasah Tsanawiyah
1 Hartoyo Mugiraharjo / MTsN 1 Yogyakarta DI. Yogyakarta
2 Muhammad Yakub Asis / MTs Al-Falah Arungkeke Sulawesi Selatan
3 Anna Tri Rusmiati / MTsN 1 Kota Malang Jawa Timur
4 Sri Aslam / MTs 2 Bukit Tinggi Sumatera Barat
5 Sugeng Riyanto / MTsN 2 Wonogiri Jawa Tengah
6 Hermansyah / MTs Negeri 2 Lombok Barat Nusa Tenggara Barat

Kategori Guru Madrasah Aliyah
1 Baik Nursukyalaili / MAN 1 Mataram Nusa Tenggara Barat
2 Barlian / MAN 3 Barabai Kalimantan Selatan
3 Mulayana Nur / MAN 1 Kota Tasikmalaya Jawa Barat
4 Nurokhmah / MAN 3 Bantul DI. Yogyakarta
5 Saddiah. T / MAN Pangkajene Kepulauan Sulawesi Selatan
6 Saheb / MAN 2 Kota Malang Jawa timur

Wakili Menag, Direktur GTK Madrasah Hadiri Anugerah Pendidikan Indonesia 2018

, ,

Jakarta – Direktur GTK Madrasah, Suyitno menghadiri acara pemberian Anugerah Pendidikan Indonesia 2018 di Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta 28 September 2018.

Acara yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) turut dihadiri oleh Mendikbud, Muhadjir Effendy, Dirjen GTK Kemendikbud, Supriano dan Direktur GTK Madrasah yang mewakili menteri agama.

merujuk pada situs resmi IGI (igi.or.id) Ada 2 Gubernur, 3 Walikota, 20 Bupati, 15 Birokrat, 9 Legislator, 20 Profesional, Enterpreneur dan Tokoh Masyarakat yang menerima Anugerah Guru Indonesia 2018. berikut daftar penerima API 2018 :

Gubernur Lampung : Muhammad Ridho Ficardo, S.Pi, Msi
Gubernur SulSel : Prof. Dr. Ir. H. Muh. Nurdin Abdullah, M.Agr (Diwakili Kadisdik Sulsel)

Walikota Jayapura : Dr. Benhur Tomi Mano, MM.
Walikota Parepare : Dr. H. M. Taufan Pawe, SH., MH.
Walikota Makassar : Ir. H. Moh. Ramdhan Pomanto

Bupati Kab. Banggai : Ir. H. Herwin Yatim, MM.
Bupati Kolaka Utara : Drs. H. Nur Rahman Umar, MH.
Bupati Barito Timur : Ampera A.Y Mebas, SE., MM.
Bupati Tana Tidung : Dr. H. Undunsyah, MH., M.Si.
Bupati Barito Selatan : H. Eddy Raya Samsuri, ST.
Bupati Way Kanan Lampung : Raden Adipati Surya, SH., MH.
Bupati Aceh Besar : Ir. Mawardi Ali
Bupati Luwu Utara : Hj. Indah Putri Indriani, S.I.P., M.Si.
Wakil Bupati Indragiri Hilir Provinsi Riau : H. Samsudin Uti
Bupati Parigi Moutong : H. Samsurizal Tombolotutu
Bupati Takalar : H. Syamsari Kitta, S.Pt., MM.
Bupati Kabupaten Sigi : Mohamad Irwan, S.Sos., M.Si.
Bupati Aceh Jaya : Drs. H. T. Irfan TB
Bupati Sumedang : H. Doni Ahmad Munir, ST., M.Si.
Bupati Donggala : Drs. Kasman Lassa, SH.
Bupati Barru : Ir. H. Suardi Saleh, M.Si.
Bupati Minahasa Selatan : Dr. HC. Christiany Eugenia Paruntu, S.E.
Bupati Fakfak Papua Barat : Drs. Mohammad Uswanas, M.Si.
Wakil Bupati Bandung Barat : Hengki Kurniawan

Anggota DPR RI : Dr. H. Rahmat Nasution Hamka, SH., M.Si.
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara : Herman, S.Pi.
Ketua Komisi I, DPRD Kota Denpasar : I Ketut Sutja Kuma RA, ST.
Anggota DPRD Provinsi Riau : Ir. H. Mansyur HS, MM.
Ketua Komisi C DPRD Sulawesi Selatan : A. M. Irwan Patawari
Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan : Andi Muhammad Irfan AB
Ketua Komisi D DPRD Provinsi Maluku : Saadiah Uluputty, ST.
Anggota DPRD Kab. Maluku Tengah : Irawadi, SH.
Anggota DPRD Provinsi Maluku : Ridwan Ellys, S.Pd.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Lubuklinggau : H. Tamri, MM.
Kepala Dinas Pendidikan Kab. Sidenreng Rappang : Nurkanaah, SH., M.Si.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tana Tidung : Jafar Siddik., SE.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Selatan : Dr. Manat Simanjuntak, M.Pd.
Kasie Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan : Sri Hartati, S.Sos., MM.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Seram Bagian Timur : Sidik Rumalowak, S.Pd., M.MP.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang : Yustinus J. S.Pd., M.AP.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolitoli : Rudy Bantilan, S.Sos., M.Si.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parigi Moutong : Adrudin Nur, S.Pd., M.Si.
Kepala Dinas Pendidikan Kab. Indragiri Hilir Prov. Riau : Drs. H. Rudiansyah, M.Si.
Kepala Dinas Provinsi Sulawesi Selatan Birokrat Provinsi Besar : H. Irman Yasin Limpo
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang : Drs. Sonson Mukhamad Nurikhsan, M.Si.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Timur : Hardi Musa, S.Pd., MA.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tual : Muhammad Zein Renhoat, S.Pd.I.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar : Dr. H. Hasbi, M.Pd.

Kadis Pendidikan Minahasa Selatan : Dr. Fietber S. Raco, S.Pd., M.Si.
Kasi Kurikulum Disdikpora Kota Denpasar : Ni Made Tirta Ariantini, S.Pd., M.Pd.

Kepala Bidang Diklat dan Pengembangan Kompetensi Aparatur : Hj. Indotang, S.Sos.

Kepala Pusat Jaminan Mutu Universitas Pendidikan Ganesha : Prof. Dr. Anak Agung Gede Agung, M.Pd.
Rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk : Dr. Farid Haluti, S.Ag., M.Pd.
Rektor IAIN Fattahul Muluk Papua: Dr. H. Idrus Al Hamid, S.Ag., M.Si.

Lembaga Psikologi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Media : Nurul Indah Susanti, M.Si., Psi.

Owner dan pengajar, Sanggar Seni Pakapur : S Purwanto
Sekretaris Kabupaten Parigi Moutong : H. Ardi, S.Pd., M.M.

Politisi : Hambali L. Tanara, AnEka., M.AP.
Direktur LPK Eltibiz: Rizky Mahendra Nihin, M.M

Wakil Ketua VII Dewan Pimpinan Pusat Partai Aceh : Ir. H. Azhar Abdurrahman
Komisaris PT. Paragon Technology and Innovation ( Wardah Kosmetik) : Subakat Hadi
Ketua Dewan Pembina Yayasan Sembilan Putra Manunggal Karsa : H. Raden Budhi Sugiharto Entrepreneur : Wisnu Wahyudin Pettalolo, SE., MM.
Profesional : Dr. Heri Wahyudi, S.Sos, M.Si
Entrepreneur : Indra Kharismaji
Tokoh Pemerhati Pendidikan Pendidikan : H. Kosam Erawan

 

sumber: igi.or.id

Kemenag Bekali Guru Madrasah Terdampak Gempa, Metode Trauma Healing

,

Lombok (Kemenag) — Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah mengadakan pelatihan metode trauma healing bagi guru madrasah yang terkena dampak gempa lombok. Kegiatan ini berlangsung tiga hari,  11 – 13 September 2018 di Lombok.

Direktur GTK Madrasah, Suyitno menyampaikan peran penting direktoratnya yang khusus menangani SDM madrasah. “Peran GTK (direktorat) gimana memberikan pembekalan pada guru-guru,” kata Suyitno.

Pembekalan yang dimaksud Guru Besar UIN Palembang ini adalah metode trauma healing yang bisa diberikan pada anak didik.

“Tentu agak naif apabila guru tidak mendapatkan pembekalan, padahal yang berdampingan langsung dengan anak-anak, walaupun peran para relawan juga penting,” jelas Suyitno.

Suyitno juga menyampaikan bahwa Kemenag akan membantu guru-guru melalui bantuan pemberdayaan KKG dan MGMP yang ada di Lombok.

Trauma Healing ini menghadirkan Guru BK (Bimbingan-Konseling) MAN 2 Bandung Siti Kulsum,S.Psi. Kepada peserta,  Siti Kulsum mengajari metode Expresive Art Theraphy untuk melakukan trauma healing bagi guru madrasah pasca gempa di lombok. Metode tersebut menggunakan media sederhana yang terdapat di alam sekitar seperti batu, pasir, daun, ranting dan lain sebagainya.

 

Menurut salah satu peserta, Moh. Nurul Wathani dari Kabupaten Lombok Utara metode yang diberikan sangat menarik dan tepat untuk proses pembelajaran.

“Kalau anak-anak, bosan juga kalau cuma nyanyi-nyanyi saja. Mudah-mudahan materi ini bisa dipakai,” kata Nurul.

Hal senada disampaikan Ati Astuti dari Lombok Tengah yang sehari-hari masih tidur di tenda. “Sangat bermanfaat, nanti kita terapkan ke anak-anak,” kata Ati.

Ati juga menceritakan anak-anak juga masih trauma. Bahkan kalau ada anak yang menggoyang-goyangkan jendela, ada di antara mereka yang langsung kabur keluar kelas.

Kegiatan trauma healing ini diikuti oleh 60 orang peserta yang terdiri dari guru dan pengawas madrasah yang tekena dampak gempa. (FK)

Direktur GTK Madrasah Tinjau Proses Belajar Mengajar di Tenda Darurat NTB

,

Lombok (Kemenag) — Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Suyitno meninjau proses belajar mengajar di ruang kelas darurat MTs N 1 Mataram, Rabu (12/9).

Kegiatan belajar mengajar MTs N 1 Mataram dilakukan di tenda-tenda darurat dan sebagian di mushala.

Suyitno juga ikut menyampaikan materi IPA kelas VIII tentang gaya di tenda darurat. Hal ini disambut antusias oleh para siswa.

“Luar biasa, di tengah-tengah kita yang sedang terkena musibah, kita tetap belajar seperti biasa.” kata Suyitno di ruang kelas tenda darurat hasil bantuan dari Kementerian Agama.

Guru Besar UIN Palembang ini juga mengapresiasi semangat segenap unsur madrasah yang tetap gigih melaksakan kegiatan belajar mengajar di tengah musibah gempa yang menimpa lombok.

“Ini menandakan madrasah tetap hebat, madrasah tetap tangguh termasuk gurunya juga tetap hebat,” sebut Suyitno.

Di akhir kesempatan, ia juga berpesan dan memberikan motivasi pada para siswa untuk tetap konsisten dan belajar maksimal. “anak-anak harus tetap konsisten, tetap belajar maksimal,” katanya di hadapan siswa kelas VIII.

Menurut Wakil Kepala Madrasah MTs N 1 Mataram, Mohammad Rifai siswa sempat mengalami trauma akibat gempa yang terjadi. “Baru beberapa hari setelah gempa, anak-anak ada yang trauma. Semua pembelajaran dilakukan di tenda dan mushola,” kata Rifai.

Rifai berharap kegiatan belajar mengajar bisa kembali seperti sedia kala. “Harapannya pembelajaran kembali normal, dari total 26 ruang kelas ada 10 kelas yang terdampak serius,” pungkasnya

Direktorat GTK Madrasah Lepas Keberangkatan Alumni Madrasah ke IKIM Malaysia

, ,

Jakarta – Direktorat GTK Madrasah melepas alumni madrasah yang akan mengenyam pendidikan vokasi di Institut Kemahiran Industri Melaka  (IKIM) Malaysia selama satu tahun.

Rombongan yang berjumlah 12 orang, terdiri dari 10 peserta, 1 orang tua dan 1 pendamping dari Tazakka Foundation  diterima langsung oleh Direktur GTK Madrasah di ruangannya di Jakarta. Hari ini, Rabu (15/8).

Direktur GTK Madrasah, Suyitno mengatakan ini merupakan langkah awal dari tindak lanjut kerjasama yang sudah terjalin dengan IKIM pada bulan mei yang lalu. Baca juga: https://kemenag.go.id/berita/read/507814

“Ini tindak lanjut kunjungan ke IKIM, kelebihannya bisa lingmatch dengan perusahan/industri langsung.  harapanya ke depan kita bisa mengirimkan guru-guru kita.” Kata Suyitno.

Ia juga menambahkan bahwa sertifikat profesi yang dikeluarkan oleh IKIM diakui tangkat ASEAN. Sehingga meningkatkan daya saing di era Masyarakat Ekonomi Asean sekarang ini.

Ketua Tazakka Fundation, Khozin yang ikut bersama rombongan mengatakan bahwa program ini untuk memfasilitasi anak didik dalam menghadapi persaingan global. Sehingga IKIM Malaysia dipilih karena ada pengalaman langsung di dunia industri.

“Ada sentuhan vokasinya. Anak kita sudah mulai punya wawasan global. MEA sekarang.” Kata Khozin sesaat setelah pertemuan dengan jajaran Direktorat GTK Madrasah.

Khozin menambahkan peserta berasal dari berberapa daerah yaitu Aceh, Jakarta, Brebes dan Samarinda. Ia juga berharap melalui program ini menghasilkan generasi yang gemilang.

“Mereka akan menjadi generasi yang punya kompetensi yang cukup, karena kita ingin madrasah tidak hanya menguasai agama tapi juga teknologi.” Jelas Khozin.

Salah satu peserta asal Samarinda Irfan Rifqiawan mengatakan alasan mengikuti program ini agar mengetahui lebih dalam dunia industri. “Menjadi lebih baik, pengen mendalami dunia industri.” Kata Irfan.

Hadir juga dalam pertemuan ini Kasubdit Bina GTK RA, Siti Sakdiyah, Kasubdit Bina GTK MI/MTs, Kidup Supriyadi, Kasi Bina Guru MI/MTs, Mustofa Fahmi, Kasi Bina Tendik MI/MTs, Sahrul Shobirin dan Kasubbag Tata Usaha, Sidik Sisdiyanto.

Kemenag dan Pemkab Lombok Utara Jajaki Kerjasama Pendidikan Dengan IKIM Malaysia

, ,

Malaysia (Kemenag) — Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) menjajaki kerjasama dalam pengembangan pendidikan madrasah dengan Institut Kemahiran Industri Melaka  (IKIM) Malaysia. Hal itu terungkap dalam kunjungan Direktur GTK Madrasah Suyitno bersama Pemkab Lombok ke IKIM Malaysia.

Menurut Suyitno, kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari MoU antara Direktorat GTK Madrasah dengan Pemkab Lombok Utara, NTB yang sudah ditandatangani pada 31 Januari 2018. “Kerjasama ini difokuskan pada pengiriman alumni Madrasah Aliyah dan short course bagi guru madrasah untuk penguatan di bidang industri,” tutur Suyitno di Malaysia, Rabu (23/05).

Menurut Suyitno, kerjasama mencakup pengembangan kompetensi guru madrasah. Kemitraan akan dimulai dengan pelatihan guru madrasah oleh IKIM Malaysia. Pelatihan ini sekaligus  menjadi sarana transfer of knowledge and transfer of technology.

“Alhamdulilah usulan disambut baik oleh CEO IKIM. Mereka menyanggupi untuk memberikan pelatihan pada 50 guru madrasah tanpa dikenakan kewajiban tuition fee,” ujar Suyitno.

CEO IKIM Datuk Regu mengatakan, IKIM berada di bawah Kementerian Tenaga Kerja Malaysi. Kampus ini berlokasi di areal yang menyatu dengan 11.000 pabrik dalam satu Kawasan industri. IKIM sudah menjalin sinergi dengan 21 perusahaan.

“Pola perkuliahan memiliki keunggulan dengan 30% teori dan 70% praktek langsung di Industri sesuai dengan jurusan yang dipilih mahasiswa,” jelas Datuk Regu.

Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar, antusias dengan rencana kerjasama ini. Pihaknya akan melakukan perencanaan lebih teknis terhadap dua pendekatan yang ditawarkan IKIM. Pendekatan pertama, kuliah dengan sistem full time di mana persiapan calon mahasiswa dilakukan di IKIM selama 1 semester,  selanjutnya semester kedua baru praktek di industri. Pada pendekatan ini, selama semester pertama, siswa belum mendapatkan allowance sehingga biaya menjadi beban yang harus ditanggung mahasiswa.

Pendekatan kedua, persiapan dilakukan di Lombok Utara. Guru-guru akan dilatih melalui kerjasama IKIM bersama Direktorat GTK Madrasah. “Selanjutnya kami akan menyiapkan calon mahasiswa di madrasah, pesantren, dan juga SMK setempat,” ujar Nazmul.

Selain Direktur GTK dan Bupati Lombok Utara, dalam pertemuan tersebut hadir juga Kasubdit MA/MAK Kastolan, Kasubag TU GTK Madrasah Sidik Sisdiyanto dan Konsultan PPKB Abdul Munir, serta jajaran Pemkab Lombok Utara.

sumber: kemenag.go.id