Guru Cerminan Prestasi Siswa

Bogor – Syair Alaalaa Tanalul Ilma yang akrab dibaca saat masa kecil dulu mengajarkan syarat memperoleh ilmu pengetahuan ada 6. Dua diantaranya adalah hirshun (semangat) dan Irsyadul Ustadz (petunjuk dari guru). Hasil riset menunjukan ada keterkaitan antara karakteristik dan pembawaan guru terhadap hasil belajar siswa.

Menurut Dekan FITK UIN Malang, Agus Maimun mengatakan guru yang baik dan disiplin berpengaruh siswa setidaknya dalam 5 aspek, antara lain :

  1. 68% berpengaruh pada tingkat motivasi siswa dalam belajar
  2. 73% berpengaruh pada nilai kreativitas siswa
  3. 81% meningkatkan rasa percaya diri siswa
  4. 84% berpengaruh pada peningkatan harga diri siswa
  5. 98% berpengaruh pada peningkatan kecakapan hidup siswa.

“Kalau gurunya disiplin dan baik biasanya siswanya juga akan lebih percaya diri, kreatif dan semangat belajarnya juga tinggi” Kata Agus.

Menurut Agus, definisi pendidikan bisa diartikan dengan sederhana yaitu pendidikan sebagai media perubahan, pendidikan sebagai cerminan masa depan bangsa dan pendidikan sebagai identitas harga diri bangsa.

“Pendidikan memegang peran penting dalam realisasi program Indonesia Emas 2045 atau 100 tahun Indonesia merdeka” tambahnya.

Oleh karena itu, program dan anggaran yang disusun oleh pemerintah harus memerhatikan target prioritas dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Hal ini disampaikan pada acara Pembuatan Pagu Anggaran 2020 Direktorat GTK Madrasah di Bogor, 23-25 September 2019.  (ASR)

 

Ditjen Pendis Latih 40 Calon Instruktur Guru Kimia MA

Malang (Pendis) – Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah melatih empat puluh (40) calon instruktur provinsi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) untuk Guru Kimia Madrasah Aliyah, di Malang 17-20 September 2019.

Kasi Bina Tendik MA/MAK Direktorat GTK Madrasah, Rusdi menuturkan, tahun 2020-2024 World Bank akan membiayai project PKB Guru melalui pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Oleh sebab itu, diperlukan ketersediaan Instruktur Nasional, Instruktur Provinsi dan fasilitator daerah kabupaten/kota yang dapat memfasilitasi kegiatan KKG dan MGMP tersebut.

“Direktorat GTK Madrasah melalui Subdit Bina GTK MA/MAK pada tahun 2018 dan 2019 telah melakukan pelatihan kepada instruktur nasional untuk mapel matematika, fisika, kimia, biologi dan ekonomi. Selanjutnya Instruktur Nasional tersebut di tahun 2019 melakukan pelatihan calon Instruktur Provinsi,” terang Rusdi di Malang, Selasa (17/09).

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, guru besar dan dosen Kimia UM Malang serta instruktur nasional Guru Kimia. Selama kegiatan akan didamping oleh tim Technical Asistency by System Strengthening (TASS) dan tim Pokjawas Provinsi.

Direktur GTK Madrasah, Suyitno mengajak peserta guru-guru kimia untuk memingkatkan mutu dengan mengembangkan potensi dan kompetensi. “Menjadi guru dengan panggilan jiwa merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan,” ujarnya.

Suyitno menjelaskan, bahwa sebagaimana Permen PAN RB No.16/2019 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit, mengamanahkan bahwa PKB merupakan unsur utama bagi guru dalam mengembangkan kompetensi.

“Dalam peraturan ini ada tiga komponen pengembangan keprofesian berkelanjutan, yaitu pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif,” sambung Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang.
(Rusdy/ M Yani)

sumber : pendis.kemenag.go.id

Direktur GTK Serukan Guru BK MAN Insan Cedekia Kawal Karakter Siswa

Batam (Pendis) – Dewasa ini dunia pendidikan sedang dihadapkan dengan isu trans nasional dimana tidak ada batasan antar Negara. Derasnya arus informasi merupakan buah dari revolusi industry 4.0. Banyak hal-hal positif yang dapat diambil dari era terbuka saat ini, namun banyak juga hal negatif yang menyertainya.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Suyitno, mengatakan, di tengah derasnya arus informasi, guru Bimbingan dan Konseling (BK) Madrasah memiliki peran penting untuk membina dan mengarahkan peserta didik dalam menyaring informasi tersebut.

Suyitno juga menegaskan bahwa tantangan guru BK pada era ini begitu kompleks, mengingat kini mereka menghadapi peserta didik yang memiliki mindset serba instan. Guru BK dituntut untuk merespon hal tersebut dengan cepat.

“Dahulu guru memiliki peran centre sebagai sumber ilmu pengetahuan, namun sekarang peran-peran tersebut sudah diambil alih oleh media sosial, seperti facebook dan youtube, karena siswa dapat dengan mudah mengakses berbagai macam informasi yang mereka butuhkan pada media tersebut, perlahan guru akan ditinggalkan oleh para siswa,” ujar Suyitno saat memberikan arahan pada Kegiatan Pengembangan Keprofesian Guru BK MAN Insan Cendekia di Batam, Rabu (04/09).

Dikatakan Suyitno, ketika siswa belajar dari media sosial mereka tidak memiliki filter sehingga dapat dengan mudah terkena paham radikalisme, mengingat belakangan ini banyak sekali akun media social yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, akun tersebut hanya berisi konten-konten hoax, provokatif, yang syarat akan paham radikalisme.

“Guru BK MAN IC sebagai madrasah unggulan, harus mengisi ruang-ruang pada media social yang sebelumnya belum tersentuh oleh Guru MAN IC, jika tidak sumber pembelajaran murid akan diambil alih oleh sumber yang tidak dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Guru Besar UIN Raden Fatah tersebut juga mengatakan bahwa tugas guru BK bukan hanya memenuhi jam tatap muka saja, namun jauh lebih dari itu tugas guru BK adalah mengawal karakter siswa. “Setelah kegiatan ini saya ingin guru BK MAN Insan Cendekia harus menjadi garda terdepan dalam mengawal karakter siswa madrasah, khususnya siswa MAN Insan Cendikia,” himbaunya.

Kasubdit Bina GTK MA/MAK, Kastolan, mengatakan bahwa dengan adanya kegiatan seperti ini dapat menstimulus guru Bimbingan dan Konseling untuk mengembangkan diri dalam menghadapi tantangan pada era trans nasional. “Kedepan diharapkan guru BK dapat menggunakan aplikasi ataupun metode konseling dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dalam membimbing siswa madrasah,” harapnya.
(Ridho/syd/ M Yani)

sumber : pendis.kemenag.go.id

Kemenag Berangkatkan 23 Guru BK MAN IC Ke Nanyang Technological University Of Singapore

Batam (Pendis) – Sebanyak 23 guru Bimbingan dan Konseling (BK) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia melakukan kunjungan ke Nanyang Technological University Of Singapore. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pengembangan Keprofesian Guru BK MAN Insan Cendekia, yang diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenega Kependidikan (GTK) Madrasah di Batam, 3-6 September 2019 .

Kasubdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan MA/MAK, Kastolan, mengatakan, kegiatan tersebut dikemas dalam One Day NTU Visit Tours. “Kegiatan kunjungan guru BK MAN IC ke NTU ini merupakan upaya untuk menstimulus guru BK agar mengarahkan para siswanya dapat melanjutkan study ke luar negeri,” ungkap di Batang, Kamis (5/9).

Dikatakan Kastolan, dalam revolusi industry 4.0 ini berkembang isu era multi nasional, dimana tidak ada batasan antar Negara. Sehingga siswa MAN Insan Cedekia yang merupakan MAN unggulan dan menjadi salah satu core business Kementerian Agama harus didorong untuk melanjutkan study ke luar negeri.

“Pemilihan Nanyang Technological University ini didasarkan, karena kampus tersebut merupakan salah satu Top 15 Ranked Universities In The World, sehingga guru-guru BK dapat memberikan gambaran bagaimana suasana belajar mengajar pada universitas disalahsatu universitas terbaik di dunia,” tambah Kastolan.

Kastolan berharap dengan diberangkatkannya guru BK MAN IC ke NTU dapat menstimulus guru BK memperluas jejaring agar dapat memberikan opsi yang lebih banyak bagi siswa untuk melanjutkan study di Universitas terbaik dunia. (Syd/ M Yani)

sumber : pendis.kemenag.go.di

Kemenag Bekali Kepala MAN IC Materi Deradikalisasi

Solo (Pendis) – Radikalisme saat ini menjadi issu panas yang menyita perhatian dalam dunia pendidikan. Pasalnya hasil penelitian Maarif Institute dan Wahid Foundation pada tahun 2017 menemukan bahwa paham radikalisme telah menyusup dalam dunia pendidikan. Penelitian tersebut memaparkan bahwa paham radikalisme dapat masuk kedalam institusi pendidikan melalui alumni, guru dan kebijakan institusi pendidikan.

Untuk mengantisipasi penyebaran faham radikalisme di lingkungan madrasah, Direktorat GTK Madrasah sengaja menyisipkan materi deradikasi dalam kegiatan Pengembangan Keprofesian Kepala MAN Insan Cendekia.

Acara diikuti oleh seluruh kepala MAN Insan Cendekia seluruh Indonesia, berlangsung di Solo, 27-30 Agustus 2019. Dalam kesempatan tersebut, Direktorat GTK Madrasah menghadirkan narasumber, Ali Fauzi Manzi.

Ali Fauzi merupakan mantan napiter yang kini menjadi Direktur Yayasan Lingkar Perdamaian Indonesia. NGO yang mewadahi terpidana dan napiter untuk kembali kepada NKRI dan menaungi para anak-anak mantan napiter. Misi utama Ali Fauzi lewat yayasan yang ia dirikan adalah memutus mata rantai berkembangnya virus negatif faham radikalisme. Selain itu Yayasan ini mengorganisir para korban teror bom untuk menyuarakan kehidupan yang damai.

Pada kesempatan ini Ali Fauzi bercerita tentang pengalamannya saat awal mula direkrut dalam jaringan terorisme hingga akhirnya menemukan titik balik untuk kembali kepada NKRI dan membentuk Yayasan Lingkar Perdamaian Indonesia.

Ali Fauzi mengatakan bahwa terorisme ini merupakan gerakan radikalisme yang diaktualisasikan. “Sebenarnya perbedaan antara radikalisme dan terorisme ini ada pada pada tindakan, karena untuk radikalisme mereka hanya sebatas konsep pemikiran saja, belum sampai tindakan,” kata Ali di Solo, Selasa (28/8).

Ali Fauzi menghimbau kepada para peserta bahwa jangan terjebak dalam stereotype sehingga menimbulkan kekeliruan dalam mengidentifikasi siswa ataupun guru yang terkena paham terorisme karena terdapat perbedaan-perbedaan dalam konsep ajarannya.

“Perbedaan antara faham salafi dan terorisme ini dapat dilihat dari ajaranya seperti tauhid hikmiyah, jihad yang hanya bermakna perang, membenarkan terror, demokrasi haram dan pelakunya kafir serta diperbolehkan memberontak terhadap penguasa yang dzholim,” tambah Direktur YLP tersebut.

Kasubdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, Kastolan mengungkapkan bahwa pemilihan Ali Fauzi sebagai mantan pelaku terorisme sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan PKB Kepala MAN IC diharapkan dapat menambah wawasan tentang eksistensi paham terorisme sehingga dapat membentengi siswa dari penyebaran virus radikalisme.

“Menanamkan nilai-nilai moderat di madrasah menjadi hal yang urgent untuk membentengi terhadap tumbuhkembangnya paham radikalisme, penanaman nilai moderasi beragama merupakan tanggungjawab kita bersama,” ujar Kastolan.

Menurut Kastolah, Kepala Madrasah sebagai leader dan manajerial yang bersentuhan langsung dengan peserta didik dapat menangkal paham radikalisme dengan pengembangan nilai-nilai moderasi. (Ridha /M Yani)

sumber : pendis.kemenag.go.id

Profesi Guru Menuntut Passion

Ciamis – Kementerian Agama Kabupaten Ciamis mengadakan pembinaan bagi guru dan tenaga kependidikan madrasah. Sabtu (14/9/19) di aula Kementerian Agama Kab. Ciamis Jawa Barat.

Pembinaan disampaikan langsung oleh Direktur GTK Madrasah, Suyitno. Menurutnya profesi guru sebagaimana profesi lainnya menuntut passion sebagai kunci kesuksesan ujar Suyitno.

“Guru harus memiliki passion, sungguh-sungguh dalam mengajar, dan akan terus mengejar target yang dicita-citakan” Kata Suyitno.

Kunci dari passion adalah enjoy dalam mengerjakan sesuatu, seperti Bill Gates yang awalnya enjoy dengan “mengulik” komputer di garasi hingga akhirnya menjadi perusahaan besar Microsoft.

Pentingnya passion bagi seorang guru agar dia enjoy menjadi seorang pendidik sampai rela berkorban demi tanggungjawabnya sebagai seorang guru. Memaknai profesi guru sebagai panggilan jiwa sejalan dengan tagline Kementerian Agama Ikhlas Beramal.

Passion erat kaitannya dengan kompetensi diri, jadi bisa sejalan antara passion dan kompetensi diri. Terus meningkatkan kemampuan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman” Jelas Suyitno.

Acara pembinaan ini dihadiri 400 peserta yang terdiri dari guru madrasah, kepala madrasah dan pengawas madrasah se kabupaten Ciamis.

Kemenag Latih Kewirausahaan Kepala Madrasah

FotoPalembang (Pendis) – Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam mengadakan pelatihan kewirausahaan kepala madrasah di Palembang, 5-7 September 2019.

Direktur GTK Madrasah, Suyitno mengungkapkan salah satu kompetensi kepala madrasah sesuai dengan PMA 58/2017 adalah kompetensi kewirausahaan. “Kewirausahaan bagian penting dari tusi (tugas fungsi) kepala madrasah,” kata Suyitno di Palembang, Jumat (06/09).

Suyitno mengakui pengembangan kewirausahaan bukan perkara mudah dan sebentar, perlu usaha dan ketekunan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha.

“Tidak ada contoh pengusaha tiba tiba hebat. Perlu proses panjang, nah harapannya kepala madrasah mampu menjadi driver kewirausahaan di lingkungan madrasah,” jelas Suyitno.

Beberapa materi yang dibahas antara lain design thinking, inovasi manajemen madrasah, dan inovasi pembelajaran era digital.

Kasubbag Tata Usaha, Sidik Sisdiyanto mengungkapkan bahwa design thinking penting dikuasai oleh kepala madrasah.

“Design thinking melatih berfikir sistematis, memetakan masalah kemudian menghadirkan solusi baru di lingkungan madrasah,” ujar Sidik.

Praktisi yang dihadirkan antara lain Ari Pratiwi Software Architect IBM dan Miftahul Huda CEO dari Edupongo software manajemen sekolah.

Acara ini diikuti oleh 50 kepala madrasah perwakilan dari beberapa provinsi di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan NTB. (asro)

sumber : pendis.kemenag.go.id

Perkuat Budaya Literasi, Kemenag Latih Pustakawan Madrasah

Yogyakarta (Kemenag) — Tingkat literasi anak di Indonesia masih rendah. Hal ini  merujuk pada hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015. Indonesia menempati rangking 62 dari 70 negara yang disurvei.

Fenomena ini direspon Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama dengan melatih para pustakawan madrasah. Pelatihan ini berlangsung tiga hari, 19 – 21 Agustus 2019, di Yogyakarta.

Kasubbag Tata Usaha, M. Sidik Sisdiyanto menggarisbawahi pentingnya peningkatan dan pengembangan literasi di madrasah. Menurutnya, literasi merupakan salah satu indikator utama kesuksesan pendidikan dan menjadi modal utama untuk mencetak sumberdaya manusia yang unggul dan berkualitas.

“Literasi di madrasah adalah suatu keharusan, mencakup kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, para siswa. Dengan peningkatan kompetensi pustakawan dan kualitas perpustakaan diharapkan madrasah akan memiliki budaya literasi yang kuat,” kata Sidik di Yogyakarta, Rabu (21/08).

peserta mengacungkan salam literasi

Sebelumnya, salah satu narsumber, Imas Maesaroh, mengungkapkan siswa yang memiliki kemampuan membaca secara kritis dan selektif terhadap informasi yang didapatkan, berpeluang lebih besar meraih kesuksesan.

“Anak bisa membaca baik, tapi kita harus melatih anak membaca kritis dan menganalisis informasi, terlebih era sekarang era digital. Informasi bertebaran di mana-mana, sehingga siswa harus diajarkan memfilter informasi mana yang hoax mana yang fakta, termasuk berita atau opini,” ungkap master perpustakaan lulusan University of New South Wales Australia dan S3 dari Curtin University Singapore.

Menurutnya, ada banyak faktor penyebab rendahnya literasi anak di Indonesia. Selain kurangnya bahan bacaan, minimnya persiapan guru dalam membuat program peningkatan membaca juga sangat berpengaruh. Apalagi, jika guru kurang tertarik dengan program membaca.

Lemahnya pengelolaan perpustakaan atau bahkan tidak ada perpustakaan menjadi faktor lainnya.  Termasuk juga rendahnya kemampuan Bmbahasa, tidak adanya kebiasaan membaca di keluarga dan perkembangan gadget yang mempengaruhi minat baca anak. Semua itu menjadi tantangan yang harus diselesaikan dalam peningkatan literasis siswa.

Narasumber lain yang dihadirkan dalam pelatihan ini adalah Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya Nur Kholis dan dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Qowim. Pelatihan ini diikuti 50 pustakawan madrasah perwakilan dari beberapa provinsi di pulau Jawa dan Sumatera. (GTK)

sumber : kemenag.go.id

Pentingnya Inovasi Pembelajaran Bagi Guru di Tengah Pergeseran Generasi

Lampung – Usia anak yang sedang mengenyam pendidikan mulai pra sekolah sampai pendidikan menengah atas termasuk generasi z dan generasi alpha. Sedangkan tenaga pengajar di madrasah mayoritas generasi Y, generasi X bahkan generasi baby boomers. Hal ini disampaikan Kasubdit Bina GTK RA, Siti Sakdiyah pada acara pelatihan kewirausahaan guru di Lampung, 12-14 Agustus 2019.

“Generasi kita berbeda dengan generasi anak-anak, karakternya pun berbeda. Anak-anak sekarang sudah digital native, gimana kalau anak-anak sudah digital native sedangkan gurunya kurang akrab dengan penggunaan teknologi digital untuk menunjang pembelajaran?” Kata Sakdiyah.

Dalam menghadapi perubahan generasi, perlu diimbangi dengan inovasi pembelajaran. Seperti pemanfaatan audio visual secara optimal untuk pembelajaran, pemahaman literasi digital bagi anak-anak sehingga mampu memfilter arus informasi yang bertebaran di internet, pemanfaatan aplikasi dan lain sebagainya.

“Untuk mendukung penerapan HOTS, bisa juga anak-anak diajarkan akuntansi menggunakan aplikasi tidak hanya fokus menuliskan debet kredit tapi lebih fokus pada pemahaman dan penafsiran laporan keuangan pada kinerja usaha”. Sambung Sakdiyah.

Menurutnya inovasi pembelajaran ini bisa link and match dengan dunia kerja atau industri. Terlebih jika guru mampu menangkap potensi anak dalam dunia usaha, guru bisa menjadi mentor bagi anak yang sedang merintis usaha.

“Guru kan bisa juga jadi mentor bisnis bagi anak, karena ternyata banyak juga sekarang anak-anak yang sudah memulai bisnis terutama bisnis online. Untuk itu kemampuan kewirausahaan bagi guru juga penting untuk diperkuat” sambungnya.

Sebagai tambahan kompetensi kewirausahaan mengacu pada Permendiknas No. 13 Tahun 2007, salah satu kompetensinya adalah kompetensi kewirausahaan. Serta dalam PMA 58 Tahun 2017 juga disebutkan kepala madrasah bertugas mengembangkan kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa Madrasah sebagai sumber pembelajaran bagi peserta didik. (ASR)

admin

Direktur GTK Madrasah Sampaikan Pesan Ukhuwah dari Arafah

 

Makkah – Tepat pada tanggal 9 Dzulhijjah 1440 H rombongan jamaah haji menjalankan ritual wukuf di Arafah.

Pada kesempatan ini, Direktur GTK Madrasah, Suyitno menyampaikan khutbah dihadapan para jamaah. Isi khutbah yang disampaikan terkait dengan penguatan ukhwuah.

“Ukhuwah atau persaudaraan membawa kedamaian harmoni dalam kehidupan sosial ke masyarakatan” Kata Suyitno.

Ia menjelaskan ukhuwah dibagi menjadi tiga, yaitu ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sebangsa dan se tanah air), ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

“Ukhuwah Islamiyah seharusnya mendorong umat Islam bersaudara walau berbeda pandangan, tidak mudah menyalahkan. Karena sejatinya bersaudara tidak mesti sama tapi persaudaraan untuk saling menguatkan” jelas guru besar UIN Palembang.

Lebih lanjut, Suyitno memberi contoh sederhana ukhuwah wathaniyah dalam hal olahraga, memberi support terhadap atlit yang sedang bertanding tanpa memandang suku, agama dan ras.

Sedangkan ukhuwah basyariah persaudaraan universal sesama manusia. Prinsip ini dilandasi fakta bahwa manusia berasal dari keturunan yang sama yaitu Adam dan Hawa.

Untuk menguatkan ukhuwah basyariah, Suyitno mengutip dari perkataan Ali bin Abi Thalib yang berbunyi “dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan.”