Profesi Guru Menuntut Passion

Ciamis – Kementerian Agama Kabupaten Ciamis mengadakan pembinaan bagi guru dan tenaga kependidikan madrasah. Sabtu (14/9/19) di aula Kementerian Agama Kab. Ciamis Jawa Barat.

Pembinaan disampaikan langsung oleh Direktur GTK Madrasah, Suyitno. Menurutnya profesi guru sebagaimana profesi lainnya menuntut passion sebagai kunci kesuksesan ujar Suyitno.

“Guru harus memiliki passion, sungguh-sungguh dalam mengajar, dan akan terus mengejar target yang dicita-citakan” Kata Suyitno.

Kunci dari passion adalah enjoy dalam mengerjakan sesuatu, seperti Bill Gates yang awalnya enjoy dengan “mengulik” komputer di garasi hingga akhirnya menjadi perusahaan besar Microsoft.

Pentingnya passion bagi seorang guru agar dia enjoy menjadi seorang pendidik sampai rela berkorban demi tanggungjawabnya sebagai seorang guru. Memaknai profesi guru sebagai panggilan jiwa sejalan dengan tagline Kementerian Agama Ikhlas Beramal.

Passion erat kaitannya dengan kompetensi diri, jadi bisa sejalan antara passion dan kompetensi diri. Terus meningkatkan kemampuan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman” Jelas Suyitno.

Acara pembinaan ini dihadiri 400 peserta yang terdiri dari guru madrasah, kepala madrasah dan pengawas madrasah se kabupaten Ciamis.

Kemenag Latih Kewirausahaan Kepala Madrasah

FotoPalembang (Pendis) – Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam mengadakan pelatihan kewirausahaan kepala madrasah di Palembang, 5-7 September 2019.

Direktur GTK Madrasah, Suyitno mengungkapkan salah satu kompetensi kepala madrasah sesuai dengan PMA 58/2017 adalah kompetensi kewirausahaan. “Kewirausahaan bagian penting dari tusi (tugas fungsi) kepala madrasah,” kata Suyitno di Palembang, Jumat (06/09).

Suyitno mengakui pengembangan kewirausahaan bukan perkara mudah dan sebentar, perlu usaha dan ketekunan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha.

“Tidak ada contoh pengusaha tiba tiba hebat. Perlu proses panjang, nah harapannya kepala madrasah mampu menjadi driver kewirausahaan di lingkungan madrasah,” jelas Suyitno.

Beberapa materi yang dibahas antara lain design thinking, inovasi manajemen madrasah, dan inovasi pembelajaran era digital.

Kasubbag Tata Usaha, Sidik Sisdiyanto mengungkapkan bahwa design thinking penting dikuasai oleh kepala madrasah.

“Design thinking melatih berfikir sistematis, memetakan masalah kemudian menghadirkan solusi baru di lingkungan madrasah,” ujar Sidik.

Praktisi yang dihadirkan antara lain Ari Pratiwi Software Architect IBM dan Miftahul Huda CEO dari Edupongo software manajemen sekolah.

Acara ini diikuti oleh 50 kepala madrasah perwakilan dari beberapa provinsi di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan NTB. (asro)

sumber : pendis.kemenag.go.id

Perkuat Budaya Literasi, Kemenag Latih Pustakawan Madrasah

Yogyakarta (Kemenag) — Tingkat literasi anak di Indonesia masih rendah. Hal ini  merujuk pada hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015. Indonesia menempati rangking 62 dari 70 negara yang disurvei.

Fenomena ini direspon Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama dengan melatih para pustakawan madrasah. Pelatihan ini berlangsung tiga hari, 19 – 21 Agustus 2019, di Yogyakarta.

Kasubbag Tata Usaha, M. Sidik Sisdiyanto menggarisbawahi pentingnya peningkatan dan pengembangan literasi di madrasah. Menurutnya, literasi merupakan salah satu indikator utama kesuksesan pendidikan dan menjadi modal utama untuk mencetak sumberdaya manusia yang unggul dan berkualitas.

“Literasi di madrasah adalah suatu keharusan, mencakup kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, para siswa. Dengan peningkatan kompetensi pustakawan dan kualitas perpustakaan diharapkan madrasah akan memiliki budaya literasi yang kuat,” kata Sidik di Yogyakarta, Rabu (21/08).

peserta mengacungkan salam literasi

Sebelumnya, salah satu narsumber, Imas Maesaroh, mengungkapkan siswa yang memiliki kemampuan membaca secara kritis dan selektif terhadap informasi yang didapatkan, berpeluang lebih besar meraih kesuksesan.

“Anak bisa membaca baik, tapi kita harus melatih anak membaca kritis dan menganalisis informasi, terlebih era sekarang era digital. Informasi bertebaran di mana-mana, sehingga siswa harus diajarkan memfilter informasi mana yang hoax mana yang fakta, termasuk berita atau opini,” ungkap master perpustakaan lulusan University of New South Wales Australia dan S3 dari Curtin University Singapore.

Menurutnya, ada banyak faktor penyebab rendahnya literasi anak di Indonesia. Selain kurangnya bahan bacaan, minimnya persiapan guru dalam membuat program peningkatan membaca juga sangat berpengaruh. Apalagi, jika guru kurang tertarik dengan program membaca.

Lemahnya pengelolaan perpustakaan atau bahkan tidak ada perpustakaan menjadi faktor lainnya.  Termasuk juga rendahnya kemampuan Bmbahasa, tidak adanya kebiasaan membaca di keluarga dan perkembangan gadget yang mempengaruhi minat baca anak. Semua itu menjadi tantangan yang harus diselesaikan dalam peningkatan literasis siswa.

Narasumber lain yang dihadirkan dalam pelatihan ini adalah Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya Nur Kholis dan dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Qowim. Pelatihan ini diikuti 50 pustakawan madrasah perwakilan dari beberapa provinsi di pulau Jawa dan Sumatera. (GTK)

sumber : kemenag.go.id

Pentingnya Inovasi Pembelajaran Bagi Guru di Tengah Pergeseran Generasi

Lampung – Usia anak yang sedang mengenyam pendidikan mulai pra sekolah sampai pendidikan menengah atas termasuk generasi z dan generasi alpha. Sedangkan tenaga pengajar di madrasah mayoritas generasi Y, generasi X bahkan generasi baby boomers. Hal ini disampaikan Kasubdit Bina GTK RA, Siti Sakdiyah pada acara pelatihan kewirausahaan guru di Lampung, 12-14 Agustus 2019.

“Generasi kita berbeda dengan generasi anak-anak, karakternya pun berbeda. Anak-anak sekarang sudah digital native, gimana kalau anak-anak sudah digital native sedangkan gurunya kurang akrab dengan penggunaan teknologi digital untuk menunjang pembelajaran?” Kata Sakdiyah.

Dalam menghadapi perubahan generasi, perlu diimbangi dengan inovasi pembelajaran. Seperti pemanfaatan audio visual secara optimal untuk pembelajaran, pemahaman literasi digital bagi anak-anak sehingga mampu memfilter arus informasi yang bertebaran di internet, pemanfaatan aplikasi dan lain sebagainya.

“Untuk mendukung penerapan HOTS, bisa juga anak-anak diajarkan akuntansi menggunakan aplikasi tidak hanya fokus menuliskan debet kredit tapi lebih fokus pada pemahaman dan penafsiran laporan keuangan pada kinerja usaha”. Sambung Sakdiyah.

Menurutnya inovasi pembelajaran ini bisa link and match dengan dunia kerja atau industri. Terlebih jika guru mampu menangkap potensi anak dalam dunia usaha, guru bisa menjadi mentor bagi anak yang sedang merintis usaha.

“Guru kan bisa juga jadi mentor bisnis bagi anak, karena ternyata banyak juga sekarang anak-anak yang sudah memulai bisnis terutama bisnis online. Untuk itu kemampuan kewirausahaan bagi guru juga penting untuk diperkuat” sambungnya.

Sebagai tambahan kompetensi kewirausahaan mengacu pada Permendiknas No. 13 Tahun 2007, salah satu kompetensinya adalah kompetensi kewirausahaan. Serta dalam PMA 58 Tahun 2017 juga disebutkan kepala madrasah bertugas mengembangkan kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa Madrasah sebagai sumber pembelajaran bagi peserta didik. (ASR)

admin

Direktur GTK Madrasah Sampaikan Pesan Ukhuwah dari Arafah

 

Makkah – Tepat pada tanggal 9 Dzulhijjah 1440 H rombongan jamaah haji menjalankan ritual wukuf di Arafah.

Pada kesempatan ini, Direktur GTK Madrasah, Suyitno menyampaikan khutbah dihadapan para jamaah. Isi khutbah yang disampaikan terkait dengan penguatan ukhwuah.

“Ukhuwah atau persaudaraan membawa kedamaian harmoni dalam kehidupan sosial ke masyarakatan” Kata Suyitno.

Ia menjelaskan ukhuwah dibagi menjadi tiga, yaitu ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sebangsa dan se tanah air), ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

“Ukhuwah Islamiyah seharusnya mendorong umat Islam bersaudara walau berbeda pandangan, tidak mudah menyalahkan. Karena sejatinya bersaudara tidak mesti sama tapi persaudaraan untuk saling menguatkan” jelas guru besar UIN Palembang.

Lebih lanjut, Suyitno memberi contoh sederhana ukhuwah wathaniyah dalam hal olahraga, memberi support terhadap atlit yang sedang bertanding tanpa memandang suku, agama dan ras.

Sedangkan ukhuwah basyariah persaudaraan universal sesama manusia. Prinsip ini dilandasi fakta bahwa manusia berasal dari keturunan yang sama yaitu Adam dan Hawa.

Untuk menguatkan ukhuwah basyariah, Suyitno mengutip dari perkataan Ali bin Abi Thalib yang berbunyi “dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan.”

Sibuk Jalankan Ibadah Haji, Direktur GTK Madrasah Sempatkan Jenguk Guru Madrasah di Tanah Suci

Makkah – Di tengah kesibukan menjalankan rangkaian ibadah haji, Direktur GTK Madrasah, Suyitno menyempatkan diri menjenguk salah satu guru MTsN Tunggangri Kabupaten Tulungagung yang bernama Kambali. Di salah satu pemondokan di Makkah (31/7/19).

Kejadian ini terekam disaat Suyitno beserta istri sedang menjalankan ibadah haji mendengar kabar salah satu guru madrasah yang sedang menjalankan ibadah haji jatuh sakit.

“Kita do’akan semoga pak Kambali sehat dan bisa menjalankan rangkaian ibadah haji dengan lancar dan menjadi haji mabrur”. Kata Suyitno

Ia juga menambahkan pelayanan yang diberikan petugas haji semakin baik dan responsif terhadap kondisi yang dialami oleh jamaah.

“Respon yang diberikan petugas haji Kementerian Agama bagus dan dibutuhkan oleh jamaah terlebih haji tahun ini kondisinya cukup panas dan usia jamaah banyak yang sudah sepuh” tambah Suyitno.

Merujuk pada Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama per Selasa, 30 Juli 2019 pukul 19.00 waktu Arab Saudi, sebanyak 170.430 jemaah haji Indonesia telah tiba di Kota Makkah.

“Sebanyak 9.264 orang di antaranya merupakan kelompok lanjut usia (lansia). Mereka adalah jemaah yang berusia 75 tahun ke atas,” jelas Kepala Seksi Data dan Informasi Daker Makkah Nurhanuddin, Selasa (30/07).

Nurhan menuturkan, saat ini masih tersisa 106 kloter lagi yang belum tiba di Makkah.

Sementara, Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah Imran mengatakan hingga saat ini terdapat 195 jemaah yang harus dirawat inap di Kota Makkah. Masing-masing sebanyak  87 jemaah dirawat di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dan 108 jemaah dirawat di RSAS Makkah.

Asr

Workshop Peningkatan Kompetensi Kepala MI Angkatan I Tahun 2019

Direktur GTK Madrasah, Suyitno, memberikan materi dalam Workshop Peningkatan Kompetensi Kepala MI Angkatan I Tahun 2019 didampingi Kasubbag TU GTK Madrasah, Sidik Sisdiyanto dan Kasi Bina Tendik Subdit MI/MTs Direktorat GTK Madrasah, Sahrul Sobirin (16/7/19).

Para peserta mengikuti Workshop Peningkatan Kompetensi Kepala MI Angkatan I Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Subdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah (16/7/19).

Para peserta mengikuti Workshop Peningkatan Kompetensi Kepala MI Angkatan I Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Subdit Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah (16/7/19).

Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

,

foto : ilustrasi

Oleh : Zaki Fahrizal

Kasus kekerasan siswa oleh guru yang terjadi di Kota Pangkalpinang beberapa waktu lalu menjadi tamparan bagi dunia pendidikan Indonesia. Aksi pembenturan dan pemukulan yang dilakukan guru secara membabi-buta hanya karena keisengan siswa yang berbuah penganiayaan. Akibat penganiayaan itu, korban (siswa) sampai dirawat. Bagimana tidak meresahkan para orangtua, kasus seperti itu ternyata masih terjadi di dunia pendidikan kita.

Selain kasus di atas, beberapa waktu lalu Polisi menangkap seorang pelaku pencabulan berinisial WS di Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang. Pria yang berprofesi sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar, mencabuli puluhan bocah laki-laki. Rata-rata usia anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh tersangka antara 10-15 tahun dan semua berjenis kelamin laki-laki. Kapolresta Tangerang Kombes Sabilul Alif mengatakan peristiwa tersebut berawal saat pelaku ditinggal istrinya yang bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) sejak April 2017. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku diduga mempunyai ilmu hitam yang membuat anak-anak berusia 10-15 tahun menghampirinya.

Semua contoh kasus tersebut bermuara di satu masalah utama, yaitu pendidikan. Lantas apa dan bagaimana model pendidikan yang tepat bagi Indonesia? bukankah Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan berupa Pendidikan Karakter di sekolah? Namun mengapa masih terjadi kasus-kasus kekerasan dan pelecehan terhadap siswa di sekolah? bukakah sekolah tempat mencetak generasi yang baik? Ada sistem yang salahkah dengan pendidikan Indonesia? Siapa saja yang bertanggung jawab terhadap pendidikan di Indonesia? Dua kasus di atas bentuk pendidikan karakter atau karakter pendidikan Indonesia?

Pendidikan dapat dipandang sebagai proses penting untuk memenuhi janji kemerdekaan. Tidak peduli di mana pun. “Mencerdaskan kehidupan bangsa” adalah sebuah janji yang harus dilunasi untuk setiap anak bangsa Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan telah memegang peranan penting bagi perubahan negeri ini. Pendidikan yang berkualitas akan mencetak generasi masa depan yang juga berkualitas. Pemerintah dari hari waktu ke waktu berusaha memperbaiki khualitas layanan pendidikan baik dari segi sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini pendidikan dan tenaga kependidikannya, infrastruktur layanan pendidikannya, serta rumusan-rumusan  pendidikan nasional yang sudah diatur sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Rumusan pendidikan nasional secara keseluruhan telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang tersebut, dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional ialah mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kemampuan kognitif bukanlah satu-satunya yang dibutuhkan seorang siswa. Ada faktor lain yang lebih berpotensi dikembangkan  yakni kemampuan afektif (moral). Kemampuan moral ini berhubungan dengan karakter seseorang. Pendidikan karakter harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan harus terintegrasikan dengan tujuan pendidikan nasional.

Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran.  Sekolah menjalankan perannya dengan baik, peran tersebut misalnya sekolah mempersiapkan peserta didiknya memiliki  pengetahuan, keterampilan dasar, dan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan untuk masa depan peserta didiknya.

Nilai-nilai luhur merupakan bentuk dari kearifan lokal yang sudah diwariskan dari generasi ke genarasi secara turun temurun. Menurut Keraf (2010: 369) kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Jadi kearifan lokal ini bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik di antara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan bagaimana relasi di antara semua penghuni komunitas ekologis ini harus dibangun. Seluruh kearifan tradisional ini dihayati, dipraktikkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lain yang sekaligus membentuk pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam dan Yang Gaib.

Bentuk akhir dari kearifan lokal yang berkembang di masyarakat kemudian menjadi sebuah tradisi. Dalam masyarakat kita, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, mantra, petuah, semboyan, kitab-kitab kuno, tarian, sistem mata pencahariaan, sistem kepercayaan dan  yang perilaku manusia sehari-hari. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari.

Sebagai contoh, masyarakat Baduy yang ada di Provinsi Banten secara tradisi terus berpegang pada nilai-nilai lokal yang diyakini kebenarannya dan menjadi pegangan hidup yang diwariskan secara turun temurun. Sebagai   kesatuan   hidup,   masyarakat  Baduy memiliki nilai sosial-budaya yang layak dikembangkan  dalam dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat kota zaman ini. Nilai sosial-budaya seperti kesetiakawanan  (solidaritas)   dalam melakukan aktivitas hidupnya. Selain memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, masyarakat adat juga memiliki budaya luhur lain yang berupa gotong-royong, rendah hati (sederhana), musyawarah, dan kerukunan, serta menghargai alam sebgai sumber kehidupan.

Perhatikan pepatah  Baduy  berikut ini.

Gunung teu beunang dilebur

Lebak teu beunang dirakrak

Buyut teu beunang dirobah

Larangan aya di darat di cai

Gunung aya maungan, lebak aya badakan

Lembur aya kokolota, leuwi aya buayaan

Pepatah-pepatah tersebut diperuntukkan dari berbagai segi dan aspek kehidupan, isinya lebih cendrung pada mengingatkan, menasehati, gambaran berupa ajakan serta simbol-simbol kehidupan dan bukan berupa perintah ataupun larangan apalagi berupa ancaman atau hukuman. Saya memperkirakan pepatah tersebut merupakan undang-undang tidak tertulis mereka yang dijadikan sebagai penuntun dan pedoman hidup mereka dan itu tercermin dalam perilaku kehidupa sehar-hari sejak nenek moyang mereka lahir sampai anak cucunya sekarang. Nilai budaya tersebutlah yang kemudian diyakini sebagai cara paling ampuh dalam mengelola alam.

Kemudian legenda Danau Tasikardi dari Kota Serang. Tasikardi berasal dari kata ‘tasik’ yang artinya danau dan ‘ardi’ yang artinya buatan. Asal mula tempat yang disebut dengan Tasikardi memeunculkan nama tokoh, yaitu ‘Siti Badriyah’ yang dianggap oleh masyarakat sebagai penunggu atau  penguasa Danau Tasikardi. Riwayat tentang Siti Badriyah tidak diketahui secara  pasti namun kemungkinan besar merupakan salah satu puteri dari keraton atau puteri sultan.

Keberadaan Siti Badriyah diakui oleh masyarakat karena dapat dibuktikan dengan kemunculan penampakan seorang puteri yang kecantikannya luar biasa dengan ciri fisik berambut panjang sepinggang, apabila air danau surut kadang Siti Badriyah terlihat berjalan dari kampung Kenari menuju Danau Tasikardi, kemudian mengontrol saluran air dari Danau Tasikardi, kadang menampakkan diri dengan menunggang kuda atau macan.

Di dalam cerita rakyat terkandung nilai-nilai yang dapat kita pelajari. Nilai-nilai itu dapat berbentuk nilai hormat mengormati, sikap saling menghargai, nilai toleransi, dan nilai peduli akan lingkungan alam serta nilai religius. Nilai rasa hormat, yaitu sikap dan sifat menghargai orang lain. Nilai toleransi, nilai peduli lingkungan alam, dan nilai religius, yaitu perilaku yang berpedoman kepada syariat Islam atau keyakinan bahwa selain manusia, Allah SWT juga menciptakan jin, setan, iblis (mahluk gaib).

Sistem budaya lokal merupakan modal  yang  besar,  telah  tumbuh  dan  berkembang secara turun-temurun yang hingga kini kuat berurat-berakar di masyarakat. Oleh karena itu,  penting  untuk  menjaga kearifan lokal, mengingat peranannya  dalam  membantu  penyelamatan sikap, dan sebagai sumber pembelajaran bagi siswa di lingkungan sekolah. (*)

Tulisan ini dimuat di Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten edisi April 2019

Guru Adalah Manusia Pembelajar

,

foto ilustrasi

 

25 November merupakan hari sakral bagi pendidikan Indonesia. Tanggal di mana ditetapkannya sebagai Hari Guru Nasioal bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia. Sebagai seorang guru, rasanya saya termotivasi ingin menulis artikel tentang guru. Saking luasnya tema guru saya jadi bingung sendiri topik apa yang cocok dan menarik bagi artikel saya. Saya sudahi kebingungan memilih tema dengan topik “Guru adalah Manusia Pembelajar”.
Saya teringat akan moto guru di Finlandia yang berbunyi “Kalau saya gagal dalam mengajar siswa, itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya”. Ya memang benar, negara dan rakyat Finlandia menempatkan guru sebagai profesi terhormat dan mereka yang menyandang profesi guru mendapat sebuah prestise tersendiri.  Tidak mudah menjadi guru di Finlandia. Untuk dapat berkuliah di jurusan pendidikan saja calon mahasiswa harus bersaing ketat dengan satu sama lain.
Berkat penghargaan yang besar dari negara dan masyarakat, profesi guru di Finlandia menjadi primadona karena diganjar dengan gaji yang sangat besar. Hampir semua guru di Finlandia menjadi penulis. Selain merancang strategi mengajar dan merancang strategi mengajar mereka juga membuat model evaluasi yang tepat, mereka juga menulis buku-buku teks yang beragam.
Kasus di atas hanya contoh dari negara dan sekolah yang konsen terhadap kualitas pendidikan bagi siswanya.  Guru-guru Finlandia sangat bertanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan siswanya. Bagaimana dengan Indonesia?
Guru-guru di Indonesia memiliki potensi besar menjadi seperti guru-guru di Finlandia. Tinggal bagaimana ada niat, kemauan dan komitmen serta mentalitas yang tinggi untuk memajukan keberhasilan pendidikan siswanya. Tidak ada guru yang tidak mampu mengajar. Semua guru mampu mengajar. Namun sedikit sekali guru yang berkonsentrasi untuk belajar dan mengajar dengan baik. Sehari-hari waktu bekerja guru hanya fokus pada menentukan bagaimana ilmu yang diajarkan dapat diterima dengan mudah oleh setiap siswa. Guru-guru model seperti ini merupakan guru-guru konvensional dan tidak kekinian. guru yang hanya mau bekerja setelah ada perintah dan selalu menuntut hak sebelum menunaikan kewajibannya. Guru zaman sekarang harus siap mental dan harus siap dilatih dengan mengembangkan profesi keguruannya.
Menurut Rohmadi, dkk. (2008:36) guru ideal memang harus menguasi empat kompetensi utama, yakni pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Untuk mendukung empat kompetensi utama tersebut, seorang guru harus memiliki tiga pilar utama agar menjadi guru berkarakter kuat dan cerdas dalam mengemban tugas mulianya. Tiga pilar tersebut antara lain (1) guru harus mempunyai tujuan atau visi yang jelas dalam mengajar dan mendidik siswanya di sekolah; (2) guru harus memiliki ilmu atau kompetensi pedagogik yang memadai agar mampu membimbing dan mengajar siswanya dengan benar dan jujur; (3) guru harus memiliki akhlak yang untuk menjadi guru yang berkarakter kuat dan cerdas. Apabila tiga pilar tersebut sudah menjadi pegangan bagi para guru, insyaallah pendidikan di Indonesia akan dapat tercapai sesuai harapan masyarakat.
Guru adalah mahluk yang tidak boleh berhenti belajar. Tetapi pertanyaannya, kapan dan di mana seorang guru dapat belajar?. Chatib (2013:32) mengusulkan saran agar guru tetap punya waktu dan semangat belajar. Pertama, sekolah harus membentuk Divisi Guardian Anggel (GA), sang malaikat penyelamat. Guardian Angeladalah divisi khusus untuk pelatihan dan pengembangan guru di setiap sekolah.Guardian Angel kelak akan menjadi jantung sekolah. Tim GA terdiri dari kepala sekolah dan beberapa guru inti bidang studi. Tugas GA yakni mendesain program pelatihan, memberikan konsultasi lesson plan, membuat dan menerbitkan rapor kualitas lesson planguru, serta mengikuti pelatihan-pelatihan dan meneruskannya kepada para guru. Kedua, program bedah buku secara reguler. Setiap buku-buku pendidikan yang baru, para guru di sekolah harus membedah buku itu. Setiap guru harus membedah satu bab, namun dalam waktu yang singkat banyak guru membedah secara bersamaan. Ketiga, program tamu minggu ini. Program tamu minggu ini yaitu sebuah program guru bidang studi atau guru gabungan beberapa bidang studi untuk membicarakan “tamu” seorang siswa yang mungkin dalam kurun waktu tertentu sering menghadapi masalah.
Selain tiga saran dari Chatib di atas, agar para guru tetap belajar dan menjadi seorang pembelajar, para guru dapat mengikuti komunitas sesuai dengan bidang studi yang diampunya. Komunitas seperti Forum Guru, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Guru (KKG), dan komunitas lain yang bersifat mengembangkan keprofesian guru. Selain mengikuti komunitas, saran yang paling murah dan mudah dan dapat dilakukan kapan saja untuk guru belajar yakni membaca.
Membaca dapat dilakukakan kapan dan di mana saja. Selain murah, mudah, dan dapat dilakukan kapan dan di mana saja, membaca juga dapat menambah khazanah keilmuan guru. Guru juga harus menjadi roll model dalam membaca di lingkungan sekolah. Membaca berkaitan erat dengan menulis. Setelah para guru membaca dan mendapatkan wawasan ilmu yang luas, para guru dapat menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Sebaik-baiknya guru adalah guru yang tidak hanya mengajar, melainkan guru yang membagi ilmunya dengan karya tulisannnya. Jika guru hanya mengajar di kelas maka ilmu yang disebarkan hanya kebeberapa murid yang ada di kelas dan pahala yang didapatpun terbatas. Sedangkan Jika guru dapat mengajar ditambah mampu menulis maka ilmu yang disebarkan akan semakin luas dan pahala yang didapatpun tidak terhitung jumlahnya.
Dengan demikian, guru zaman sekarang harus siap mental dan harus siap dilatih dengan mengembangkan profesi keguruannya. Guru adalah mahluk yang tidak boleh berhenti belajar. Guru menginstruksikan siswa untuk belajar, sedang dia (guru) tidak belajar. Kalau seorang guru berhenti belajar, lebih baik berhenti saja menjadi guru!. Apabila para guru sudah menjadi guru pembelajar, insyaallah pendidikan di Indonesia akan dapat tercapai sesuai harapan masyarakat. Amin
Oleh Zaki Fahrizal (Guru di MTs Negeri 4 Tangerang dan Sekretaria AGBSI Provinsi Banten)

Pola Pendidikan yang Tepat Bagi Generasi Z dan Generasi Alfa

,

Foto : TfQ Ridlo

oleh : Asep Saepurrohman & Yulia Paranoan (Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina)

Fenomena kemunculan Generasi Z dan Generasi Alfa menggantikan masa Generasi Y atau lebih dikenal Generasi Milenial terbilang sangat cepat. Saat ini Generasi Milenial yang berada pada usia produktif antara usia 23-37 tahun jumlahnya berkisar 1,8 miliar di seluruh dunia. Secara sederhana roda perekonomian saat ini ada di tangan Generasi Milenial. Indikatornya sederhana, Generasi Milenial berada pada usia produktif dan dapat dilihat juga dari kemunculan tokoh-tokoh yang mempengaruhi dunia mulai dari pendiri Facebook Mark Zuckerberg (34 tahun), Nadiem Makarim CEO Gojek (34 tahun), William Tanuwijaya CEO Tokopedia (37 tahun), Achmad Zaky CEO Bukalapak (32 tahun) dan berbagai kisah sukses Generasi Milenial lainnya.

 

Sedangkan Generasi Z yang lahir antara tahun 1996-2010 sedang mengenyam dunia pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi dan sebagian sudah mulai masuk dunia kerja. Artinya dengan kemajuan pesat dunia teknologi seperti sekarang ini, Generasi Z diprediksi menjadi generasi terpelajar dan lebih pintar jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Bahkan diprediksi perbandingan sarjana di Generasi Z adalah 1 banding 2, sedangkan perbandingan sarjana Generasi Milenial 1 banding 3 dan Generasi X 1 banding 4. (tirto.id)

 

Generasi Alfa diisi oleh anak-anak kelahiran 2010 sampai sekarang. Artinya secara rata-rata Generasi Alfa berada di tengah kemajuan teknologi informasi pada saat usia emas (golden age). Maka tidak heran jika Generasi Alfa sudah sejak kecil akrab dengan dunia teknologi dan internet atau dikenal juga sebagai generasi digital native.   Fenomena kemunculan Generasi Z dan Generasi Alfa di tengah kemajuan dunia teknologi informasi perlu disikapi dan mendapat respon khususnya oleh dunia pendidikan. Sebab konsep pendidikan yang diterapkan pada Generasi Milenial diprediksi tidak akan lagi cocok mengingat karakteristik Generasi Z dan Generasi Alfa yang berbeda dengan Generasi Milenial.

 

Pola kepemimpinan di tengah perubahan karakter dari Generasi Milenial ke Generasi Z dan Generasi Alfa menarik untuk dikaji. Jika berkaca pada pengalaman generasi sebelumnya dalam menjalani dunia pendidikan, menempatkan guru sebagai sosok yang perlu dihormati dan semua perintah bahkan hukuman yang diberikan akan diterima dan dianggap sebagai hal yang wajar. Lain halnya dengan Generasi Z dan Generasi Alfa yang dari awal memang memiliki karakter kritis dan berfikir lebih rasional dibandingkan generasi sebelumnya.

 

Karakteristik Generasi Z

Istilah Generasi Alfa pertama kali dikenalkan oleh Mark McCrindle seorang analis sosial dari grup peneliti McCrindle dalam makalahnya yang berjudul Beyond Z : Meet Generaion Alfa. Vickie S. Cook direktur eksekutif The Center For Online Learning, Research & Service (COLRS) mengklasifikasikan paling tidak ada 3 skill yang harus dimiliki oleh generasi abad 21 yaitu technical skill, conceptual skill dan interpersonal skill.

 

Masih menurut Vickie, karakteristik yang dibawa oleh Generasi Z berbeda dengan generasi sebelumnya, dimana silent generation (1927-1945) cukup mendapat value untuk apa yang dikuasai dan dilakukan. Sedangkan Baby Boomers (1946-1964) menginginkan penghargaan yang bisa menunjang masa depannya seperti kenaikan pangkat dan lain sebagainya. Generasi X (1965-1980) cenderung mengharapkan pengakuan dari pihak eksternal tidak hanya pengakuan dari internal tempat kerja. Generasi Milenial (1981-1995) memiliki karakter menghargai nilai kebebasan, fleksibilitas dan auotmasi. Efeknya bisa dilihat dari fleksibiltas waktu kerja, berkerja dari rumah dan peraturan kantor yang tidak kaku dengan konsep interior yang nyaman dan unik.

 

Sedangkan Generasi Z yang hidup di tengah kemajuan teknologi akan menuntut pada penyempurnaan teknologi, serta penyempurnaan berbagai sistem sosial mulai dari pendidikan, kerja dan interaksi sosial. Menurut survei yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2017 menunjukan penetrasi internet pada generasi z mencapai 75.5% lebih tinggi dibanding dengan generasi sebelumnya. Dan merujuk pada riset tirto.id pada Juni 2017, rata-rata Generasi Z mengakses 3-5 jam internet per hari (34%) dan 7.3% diantaranya bahkan mengakses internet lebih dari 12 jam per hari.

 

Karakteristik Generasi Alfa

Generasi Alfa yang dilahirkan dari orang tua milenial juga memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Novita Tandry seorang prikolog anak dan remaja mengatakan mendidik Generasi Alfa berbeda dengan generasi sebelumnya, dan orang tua perlu beradaptasi. Anak-anak Generasi Alfa yang sudah akrab dengan teknologi bahkan sejak sebelum mereka dilahirkan memicu ketergantungan penggunaan teknologi yang lebih tinggi. Kemajuan teknologi yang secara bersamaan membawa efek negatif dan positif secara bersamaan. Masih menurut Novita, efek negatif ketergantungan teknologi mengakibatkan anak-anak menjadi telat berbicara dan telat berbicara, tidak punya skill keterampilan untuk berinteraksi dengan orang lain, kurang percaya diri dan penghargaan diri.

 

Belum ada kriteria pasti berapa usia yang tepat untuk memberikan gadget kepada anak-anak. Namun jika melihat tindakan Steve Jobs dan Bill Gates yang baru memberikan gadget dan teknologi pada anaknya, maka usia yang tepat memberikan gadget dan teknologi pada anak di usia 14 tahun. Sebab usia 0-14 tahun digunakan untuk mendidik daya juang, tatakrama, moral, kemandirian, emapati, respek, hargadiri dan percaya diri pada anak yang semua nilai ini tidak bisa diberikan oleh teknologi.

 

Pengenalan teknologi kepada anak memang baik dilakukan sejak dini, namun orang tua berperan penting untuk mengarahkan anak menggunakan sisi positif dan membatasi diri dari pengaruh negatif tekologi. Pembatasan usia diperuntukan untuk memberikan kepemilikan penuh seorang anak terhadap teknologi seperti smartphone, laptop dan lain sebagainya. Generasi Alfa memang belum terlihat langsung karakteristik yang dibawa, namun menurut Christine Carter seorang ahli strategi pemasaran memprediksi Generasi Alfa akan berdampak signifikan terhadap kondisi ekonomi dunia. Generasi Alfa yang merupakan anak dari Generasi Milenial merasakan hidup sejahtera sejak kecil. Sehingga walaupun usianya masih belia, Generasi Alfa menghabiskan 18 juta dollar per tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya mulai makan, pakaian sampai teknologi baru yang mereka gunakan.

 

Menemukan Pola Pendidikan yang Tepat

Satu permasalahan yang mungkin tak kunjung usai bagi pendidikan Indonesia adalah desain kurikulum yang berubah-ubah. Saat ini masih mengacu pada kurikulum 2013, itu artinya desain kurikulum dirumuskan 6-7 tahun yang lalu. Tentu hal ini paradoks dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan berpengaruh pada karakteristik dan cara pandang siswa di sekolah/madrasah.

Penyesuaian kurikulum dan pola pembelajaran perlu mengimbangi perkembangan seiring dengan perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan, praktis dan cepat penting. Penyesuaian ini bisa memperkaya model pembelajaran yang efektif bagi Generasi Z dan Generasi Alfa.

 

Penyesuaian diperlukan pada jenis pelajaran tertentu yang sudah terbantu lewat hadirnya teknologi, misalnya proses perhitungan yang sudah tergantikan oleh kalkulator atau komputer. Pembelajaran lebih banyak difokuskan pada penerapan teori dalam kehidupan sehari-hari. Jika dilihat, kemampuan eksplorasi Generasi Z melalui teknologi sangat tinggi. Sehingga proses pembelajaran harus lebih didominasi pada kontekstualisasi sebuah teori atau materi pelajaran. Contoh lain seperti konten edukatif yang disajikan channel Youtube “sepulang sekolah” dengan konten studi banding. Konten ini menyajikan teori fisika, ekonomi dan disiplin ilmu lain yang terkesan rumit kemudian diolah dan dijelaskan dengan cara sederhana dan mudah dipahami. Channel edukatif lain yang cocok diikuti seperti “hujan tanda tanya”, “kok bisa”, “sains bro” dan berbagai edukatif lain di Youtube.

 

Pendidikan yang link and match terhadap dunia kerja juga menjadi tujuan sekolah kejuruan. namun faktanya tingkat pengangguran lulusan sekolah kejuruan menjadi tertinggi dibanding dengan lulusan sekolah jenis lain. Kondisi kontradiktif ini menunjukan bahwa pendidikan belum bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja per Februari 2018 tercatat 133,94 juta dan 6,87 juta di antaranya dikategorikan sebagai pengangguran.  Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyumbang 8,92 persen Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) atau tertinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya. Walaupun angka tersebut turun 2,49 persen dibandingkan dengan Agustus 2017. (tirto.id)

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, Vickie S. Cook memprediksi tiga skill yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan abad 21 yaitu technical skill, conceptual skill dan interpersonal skill. Hal ini perlu disadari dan menjadi pijakan penerapan pola pendidikan Generasi Z dan Generasi alfa. Tentunya agar tidak gagap menghadapi persaingan abad 21.

 

Active learning menjadi model pembelajaran menarik dengan strategi 5M (menanya, mengamati, mencoba, menalar, mengkomunikasi). Karakteristik Generasi Z yang diprediksi memiliki multitasking membutuhkan kesempatan dan media aktualisasi diri.  Termasuk dalam hal pendampingan Generasi Z, menurut penelitian konseling untuk Generasi Z yang disusun Caraka Putra Bhakti dan Nindiya Eka Safitri menunjukan bahwa teknik konseling yang tepat diskusi, FGD, problem solving dan simulation games, serta adanya layanan e-counseling atau cyber counseling. Dan penggunaan media audio visual juga berpengaruh penting pada kelancaran program konseling.

 

Peran Guru di Tengah Generasi Z dan Generasi Alfa

Pendidikan yang ideal dimana guru dapat mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didiknya di dalam lingkungan sekolah. Tantangan menjadi seorang guru bagi Generasi Z dan Generasi Alfa terbilang cukup berat karena guru mempengaruhi keberhasilan sebuah pendidikan dan menjadi contoh bagi anak didiknya. Peran guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga target pembelajaran dapat tercapai yang fokus pada unit of inquiry, keterampilan soft skill dalam kerja kelompok serta dapat berfikir secara kritis. Unit of Inqury merupakan sebuah proses untuk menyelidiki suatu masalah atau kasus. Sekolah yang menerapkan kurikulum unit of inquiry dengan mudah mengarahkan anak didiknya serta diharapkan dapat menyelesaikan sebuah kasus atau masalah dengan cara pandang yang kreatif. Kemampuan berfikir kreatif diharapakan dapat melihat suatu masalah dari perspective yang berbeda. Konten materi pendidikan di sekolah perlu diimbangi dengan keterampilan soft skill sehingga melahirkan anak didik yang siap untuk menghadapi persaingan di luar sekolah. Soft skill terbagi menjadi dua kategori yaitu intrapersonal dan interpersonal. Intrapersonal skill meliputi self-awareness (kepercayaan diri, kesadaran emosional) dan self-skill (control diri, manajemen waktu). Sementara itu interpersonal meliputi social awareness (kerjasama kelompok, empati, komunikasi, kepemimpinan, manajemen konflik).

Perubahan karakteristik antar generasi juga perlu disikapi terbuka oleh guru. Guru harus mampu menerima perubahan dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Sehingga relasi guru dan siswa bisa terjalin dengan baik dan saling melengkapi dan memberi perubahan berarti bagi dunia. Malala Yousafzai pernah berkata “one child, one teacher, one pen and one book can change the world”.