Pentingnya Penanaman Karakter dalam Keluarga

,

Hakim Pengadilan Negeri Sampang akhirnya menjatuhkan vonis bersalah kepada MH (17) pelajar SMAN 1 Torjun Sampang yang menganiaya Ahmad Budi Cahyanto, guru kesenian di sekolah tersebut, hingga tewas, Selasa (6/3/2018). Pelajar itu dijatuhi vonis 6 tahun penjara. Para majelis hakim sepakat menyatakan MH terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan hingga pembunuhan sesuai dengan isi Pasal 338 KUHP. Bhirawa (7/3/2018).

Tulisan ini tentu tidak sedang ingin mendiskusikan apakah vonis tersebut pantas dijatuhkan atau tidak, biarlah itu menjadi wilayah para ahli hukum. Penulis lebih ingin mengajak semua pihak untuk bisa memetik pesan dari kasus tersebut agar tragedi memilukan tersebut tidak kembali terulang.

Kejadian yang menimpa salah seorang guru honorer mata pelajaran seni rupa Ahmad Budi Cahyono, S.Pd. di SMA 1 Torjun, Sampang, Madura pada awal Februari lalu menjadi tragedi kemanusiaan. Bagaimana tidak, guru yang seharusnya dihormati sebagaimana orang tua, meninggal di tangan muridnya sendiri. Sungguh memprihatinkan dan menyentak sisi terdalam hati nurani.

Keberadaan guru di sekolah adalah sebagai pengganti orang tua. Untuk itu hendaknya dihormati dan ditaati selama dalam koridor kebenaran. Namun, apa yang terjadi ketika peserta didik sudah tak menghormati bahkan mengancam jiwa gurunya?

Salah satu tugas dan kewajiban guru adalah menegur ketika muridnya melakukan kesalahan, penyimpangan, atau tidak mengindahkan peraturan di sekolah. Proses demikian mencerminkan tanda sayang. Setiap guru menginginkan muridnya tumbuh menjadi pembelajar sejati. Tidak hanya pintar dalam akademik, tetapi juga memiliki sikap dan sosial yang baik.

Kepergian Pak Guru Budi meninggalkan perih dan kekhawatiran di dunia pendidikan. Apa yang ada di benak murid saat menganiaya gurunya sendiri hingga babak belur? Di mana rasa hormat dan menghargai guru? Apakah dalam keluarganya tidak pernah tertanam bagaimana cara memberlakukan gurunya? Peristiwa ini hendaknya menjadi bahan renungan dan evaluasi bersama sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali. Kejadian demi kejadian kriminal yang menimpa guru, haruskan membuat guru menguasai ilmu bela diri? Bukankah lebih elok jika guru menguasai jurus ikhlas?

Benarkah urusan pendidikan itu selalu menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal, dalma hal ini sekolah? Apakah jika sudah sekolah serta merta anak menjadi pribadi yang baik? Banyak orang tua yang “pasrah bongkokan” nasip anaknya pada sekolah. Seolah jika sudah memilihkan sekolah yang baik, “habis perkara”.

Padahal, rumah adalah basis utama pendidikan. Rumah merupakan tempat pertama kali seorang manusia mendapatkan ilmu dan pengalaman. Hendaklah sebagai orang tua menanyakan kembali pada diri masing-masing sesebanrnya apa alasan menyekolahkan anaknya.

Sekolah memang dapat mengembangkan pengetahuan manusia, karena di sekolah ada banyak guru dengan latar keilmuan yang berbeda-beda. Lain halnya dengan orang tua yang mungkin hanya menguasai satu atau dua mapel bidang ilmu, setidaknya ilmu yang dimiliki kedua orang tuanya. Namun demikian, perihal karakter anak, orang tua haruslah yang pertama kali menanamkannya.

Berikut ini solusi yang bisa ditawarkan untuk menumbuhkembangkan karakter pada diri anak didik. Ada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu keluarga (dalam hal ini keluarga), sekolah, dan masyarakat. Pertama, pihak orang tua hendaknya menyadari peran pentingnya sebagai basis utama pendidikan anaknya. Keberadaan anak adalah sebuah amanah yang kelak dimintai pertangungjawaban oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Keluarga hendaknya menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini bahkan jauh sebelum memasuki bangku sekolah. Orang tua tidak bisa memasrahkan begitu saja pendidikan anaknya kepada pihak sekolah. Bagaimanapun, orang tua adalah guru pertama bagi anaknya.

Istadi (2016: 336-342) dalam buku Mendidik dengan Cinta mengemukakan bahwa orang tua tak bisa menghindarkan diri sebagai pemikul utama tanggung jawab pendidikan. Ini adalah tugas keluarga. Lembaga prasekolah dan sekolah hanya berperan sebagai mitra pembantu. Tugas penting orang tua ini akan sangat terdukung jika mampu menciptakan suasana rumah menjadi tempat tinggal sekaligus basis pendidikan. Tugas berat, memang. Namun, ada banyak cara untuk melakukannya. Rumah sebagai basis pendidikan akan dapat dicapai dengan memperhatikan hal-hal berikut ini. (1) melengkapi fasilitas pendidikan melalui tempat belajar yang menyenangkan, media informasi dalam hal ini melalui surat kabar, majalah, dapat pula denganponsel atau laptop dengan koneksi internet, dan ketersediaan perpustakaan keluarga. (2) budaya ilmiah misalnya budaya belajar semua anggota keluarga, jam baca keluarga, gairah berbagi pengetahuan, dan juga gairah rasa ingin tahu. Tentu saja orang tua harus mencontohkannya. Bukankah guru terbaik adalah keteladanan?

Kedua, pihak sekolah harus bersinergi dengan pihak keluarga dalam hal ini orang tua. Sekolah perlu memikirkan cara agar orang tua proaktif menjalin komunikasi dengan pihak sekolah. Jangan sampai ketika ada masalah pada anak orang tua malah mengintimidasi gurunya. Hendaknya duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Tentunya pihak sekolah berharap agar orang tua jangan sungkan menanyakan kabar anak ke sekolah. Harapan yang ingin diwujudkan adalah apa yang disampaikan guru di sekolah dan orang tua di rumah akan seiring sejalan serta bahu membahu mewujudkan karakter pada anaknya. Jika komunikasi dua arah sudah terjadi dengan baik dan mempunyai pijakan yang sama antara orang tua dan guru maka anak akan memiliki muara karakter yang sama.

Kisah menarik diceritakan oleh Alifi (2017: 121-122) dalam bukunya Rockstar Teacher bahwa walimurid di MIT AR-Roihan, Kabupaten Malang mampu menggerakkan walimurid untuk ambil bagian di kegiatan-kegiatan sekolah. Walimurid datang ke sekolah tidak hanya untuk urusan antar jemput anaknya atau sekadar menghadiri pertemuan orang tua seperti pengambilan rapot atau rapat komite sekolah. Ketika menerima kunjungan studi banding dari luar daerah misalnya, walimurid bahkan bertindak sebagai guide menjelaskan tiap bagian sekolah. Dari cara menjelaskan, walimurid tidak lagi sebagai outsider di sekolah tersebut. Mereka tuntas sekali dalam mengetahui dan memahami seluk-beluk sekolah. Hanya hal-hal yang berurusan dengan istilah-istilah akademik—seperti RPP, silabus, dan metode mengajar—saja yang mereka serahkan kepada guru-guru. Rupanya, ada kiat yang mereka terapkan, yaitu menjalin hubungan yang intens antara guru-karyawan dan orang tua. Hubungan tersebut layaknya keluarga, bukan sekadar seperti wali murid dan sekolah. Aplikasi whatsap dapat diberdayagunakan. Sekolah pun membentuk paguyuban dan sebulan sekali pasti berkumpul entah arisan atau kegiatan lainnya.

Ketiga masyarakat hendaknya dapat bertindak sebagai kontrol atas jalannya pendidikan karakter. Jika terjadi sebuah kasus atau masalah, masyarakat tidak boleh tinggal diam. Justru masyarakat mempunyai kekuatan yang lebih besar. Karena keluarga dan sekolah otomatis menjadi bagian dari sebuah masyarakat. Untuk itu, pihak sekolah perlu menjalin simbiosis mutualisme dengan pihak keluarga dan masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan dalam kegitan-kegiatan di sekolah. Pun keluarga sebagai bagian dari masyarakat harus mendukung apa-apa yang dicanangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat dalam hal ini kumpulan keluarga perlu memikirkan nasib pendidikan warganya. Keberadaan RT, PKK, Dasawisma, Pedukuhan perlu dimaksimalkan untuk berperan secara aktif memikirkan pendidikan dalam rangka menanamkan karakter.

Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga keluarga di rumah. Jika setiap keluarga melakukan perannya dengan baik dalam menanamkan pendidikan karakter, nantinya akan tercipta masyarakat yang berkarakter. Pada tahapan selanjutnya, masyarakat yang berkarakter akan membentuk warga negara yang berkarakter. Semoga generasi penerus bangsa memiliki karakter yang kuat sehingga tidak akan muncul lagi kasus guru Budi yang lain.

(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Bhirawa, edisi 12 Maret 2018)

Penulis : Yeti Islamawati, S.S. Guru di MTsN 9 Bantul. (surel yetiislamawati@gmail.com; IG: @yetiislamawati; FB: Yeti Islamawati)

Indra Ariwibowo Sosok Dibalik Kesuksesan MILB YKTM Budi Asih

,

Semarang – Madrasah Ibtidaiyah Luar Biasa (MILB) YKTM Budi Asih meraih prestasi gemilang pada ajang Lomba Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) 2019) tingkat Provinsi Jawa Tengah. Lomba ini digelar oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah di SLB Negeri Semarang. Rabu (27/2/19)

MILB YKTM Budi Asih memborong 5 piala yang masing-masing diperoleh Decky Maulana Purnomo Juara 2 Literasi Bercerita SDLB tema generasi millennial generasi literasi. Wahyu Dian Artikasari Atmojo Juara 3 Baca Puisi. Ambar Ayu Wismasari Juara 3 Lomba Melukis. M. Fadli Ardiansyah Juara 3 Lomba Lari Putra 80 meter dan Mevika Fajar Kustiono Juara 3 Lomba Menyayi.

Kesuksesan ini tidak lepas dari peran seorang Indra Ariwibowo sebagai kepala madrasah MILB YKTM Budi Asih yang sangat gigih dalam memperjuangkan dan memberikan layanan pendidikan madrasah bagi anak kebutuhan khusus.

Indra yang dinobatkan menjadi salah satu guru inspiratif 2019 oleh Kementerian Agama menegaskan prestasi yang diraih oleh siswa siswinya merupakan wujud dukungan dari semua pihak termasuk dewan guru, dan orang tua murid.

“Terima kasih kami sampaikan kepada segenap guru, pelatih, dan orangtua. Kami bersyukur prestasi luar biasa bisa kita raih, Semoga di tahun depan anak-anak kita bisa meraih juara 1,” tegas Indra

Tanggapan dan harapan yang serupa juga disampaikan oleh para pelatih dan pendamping lomba yang senantiasa mendampingi anak-anak berlatih. Hermawan selaku pelatih lomba menyanyi cukup senang dan bangga karena anak didiknya berani tampil menyanyi di depan panggung dan memotivasi siswa supaya giat berlatih.

Sementara Dwi selaku pendamping lomba melukis sekaligus orang tua dari Ambar Ayu Wismasari.  Dwi berpendapat lukisan Ambar bagus dan tidak kalah dengan lukisan yang juara 1. “Semoga pada kesempatan lain bisa meraih juara 1.” pungkasnya.

Logo Hari Guru Nasional 2018

 

Hari Guru Nasional tahun 2018 mengangkat tagline “menjadi teladan, menata peradaban”

gambar dan vector logo bisa didownload disini

Menag Minta Guru Madrasah Jadi Pionir Deradikalisasi

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin (Foto: Istimewa)

Permintaan itu disampaikan Menag di hadapan ratusan guru madrasah dari seluruh Indonesia di Bekasi

Dream – Menteri Agaman Lukman Hakim Saifuddin mengajak para guru untuk menyampaikan pesan pentingnya menjaga nilai-nilai keberagaman yakni ajaran Islam yang ramah dan rahmatan lilalamin. Ajakan itu disampaikan di hadapan sekitar 200 guru madrasah yang hadir di Jakarta.

Menyambut peringatan hari guru, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Agama diketahui menggelar kegiatan bertema ” Penguatan pendidikan karakter, deradikalisasi, wawasan kebangsaan, dan moderasi Islam bagi guru dan tenaga kependidikan” . Kegiatan  yang diselenggarkan di Bekasi, Jawa Barat ini dihadiri perwakilan guru-guru madrasah di seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Lukman mengatakan jika ajaran Islam yang disampaikan guru madrasah kepada siswanya tidak hanya mencakup syariat-syariat Islam saja.

” Syariat itu penting dan tak bisa ditinggalkan. Tapi mohon jangan berhenti di situ,” kata Lukman dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Minggu 11 November 2018.

Menurutnya, ajaran syariat itu bertujuan untuk mencapai hakekat mengenai beragama. Jika hakekat itu sudah ditempuh, Menag yakin akan muncul moderasi keberagamaan sehingga tidak ada radikalisme dan ekstrimisme.

Untuk itu, Lukman berharap agar guru madrasah dapat menjadi benteng radikalisme, khususnya di lingkungan madrasah.

” Maka para guru harus menjadi pionir dalam menangkap esensi keislaman dan menyebarkan melalui profesinya,” ucap dia.

Ia menegaskan, agama sejatinya hadir untuk memberikan ketenangan bagi umatnya. Tidak ada ajaran agama manapun yang menyuruh umatnya untuk saling membenci satu sama lain.(Sah)

sumber: dream.co.id

Menag Minta Guru Agama Perkuat Wawasan Deradikalisasi

Jakarta – Menteri Agama (Menag) RI, Lukman Hakim Saifuddin memandang perlu memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan para guru agama yang merupakan salah satu kunci dalam mempertahankan keutuhan bangsa yang heterogen.

“Guru adalah sarana utama yang menyampaikan pesan moderasi keberagamaan kepada generasi mendatang,” katanya saat pembekalan kepada guru madrasah dari seluruh Indonesia di Hotel Grand Amarossa Bekasi, Sabtu, 11 November 2018.

Dalam acara yang bertajuk “Penguatan Pendidikan Karakter, Deradikalisasi, Wawasan Kebangsaan, dan Moderasi Islam bagi guru dan tenaga kependidikan” itu, dihadiri ratusan perwakilan guru madrasah dari berbagai wilayah di Indonesia.

Kegiatan itu dilaksanakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) (Madrasah,adm) Kementerian Agama RI dalam rangka meredam pengaruh radikalisasi yang merasuki generasi muda saat ini. Menag tampil sebagai keynote speaker dalam dialog dengan sekitar 200 guru madrasah ini.

Dia meminta agar para guru madrasah menanamkan ajaran Islam ramah yang rahmatan lilalamin dalam setiap mata pelajaran yang disampaikan kepada pelajar. Begitu pula agar pelajaran di madrasah jangan berhenti pada aspek syariat saja.

“Syariat itu penting dan tidak bisa ditinggalkan. Tetapi mohon jangan berhenti di situ,” kata Lukman Hakim seperti dilansir dari Antara.

Beragama Islam itu, lanjut Menag, adalah menjalani syariat untuk mencapai hakekat. Bila langkah menuju hakekat beragama telah ditempuh, niscaya akan muncul moderasi keberagamaan sehingga tidak ada radikalisme dan ekstrimisme di Indonesia.

“Proses deradikalilasi itu pada dasarnya mengembalikan pemahaman dan pengamalan keagamaan menuju titik tengah atau moderat. Inilah hakekat agama,” ujarnya.

Menag menambahkan, Islam hadir untuk kemaslahatan sosial, sehingga ibadah personal harus berdampak pada aspek sosial yang “rahmatan lilalamin”.

“Faktanya saat ini banyak orang yang alim secara keilmuan, tetapi tidak mempunyai kesolehan sosial. Banyak orang yang rajin shalat tetapi juga rajin korupsi, manipulasi, merendahkan sesama, bahkan melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Ada pula orang yang berkali-kali berhaji tetapi tidak tercermin kemabruran dalam dirinya,” ujar dia.

Mengajar dengan Cinta

Lukman juga mengingatkan agar para guru mengajar dengan rasa cinta karena eksistensi guru itulah yang menjadi kekuatan transformasi keilmuan dan karakter.

“Sehebat apapun kualitas materi, jauh lebih penting cara menyampaikannya. Tetapi keberadaan guru jauh lebih penting daripada metodologi karena guru adalah pengguna metodologi,” kata dia.

Namun yang terpenting, menurut dia, adalah jiwa pendidik, karena itulah yang lebih berarti daripada eksistensi guru itu sendiri.

“Maka para guru harus menjadi pionir dalam menangkap esensi keislaman dan menyebarkan melalui profesinya,” tandas Menag.

Sumber : liputan6.com

GTK Madrasah Gelar ToT Trauma Healing Guru Madrasah

Palu – Kementerian Agama melalui Direktorat GTK Madrasah menggelar kegiatan ToT Trauma Healing bagi guru madrasah di tiga tempat berbeda yaitu Palu, Sigi dan Donggala. Kamis – Sabtu (1-3/11/2018)

Kegiatan yang berlangsung di dalam tenda darurat ini dihadiri masing-masing 100 guru madrasah dan dipandu oleh pengurus pusat Guru BK Madrasah.

Ditektur GTK Madrasah, Suyitno mengatakan kegiatan ini bertujuan agar guru madrasah mendapatkan metode yang tepat dalam rangka memberikan trauma healing bagi siswa madrasah.

“Trauma Healing ini juga pernah Kami lakukan di Lombok, tujuannya sama agar guru mendapat metode trauma healing yang tepat untuk anak didiknya” Kata Suyitno

Kegiatan yang berlangsung di dalam tenda darurat ini dihadiri masing-masing 100 guru madrasah. Dan dipandu oleh pengurus pusat Guru BK Madrasah.

Salah satu trainer, Dwi Atmaja menganggap kegiatan ini langkah strategis untuk menghasilkan trainer trauma healing dari unsur guru madrasah.

“Selain memberikan game seputar trauma healing, ada juga inovasi pembelajaran yang pas bagi peserta didik yang terkena dampak bencana” kata pria yang akrab disapa Dwi.

Selain itu, peserta yang hadir juga dibekali ilmu Psikoterapi khusus untuk menangani permasalahan psikis peserta didik.

Kegiatan ini dihadiri juga perwakilan dari Kanwil Kemenag Sulawesi Tengah, tim relawan GTK Madrasah dan beberapa pejabat di lingkungan Direktorat GTK Madrasah.

Kunjungi Palu, Direktur GTK Madrasah Pastikan KBM Kembali Normal

Palu – Direktur GTK Madrasah, Suyitno lakukan kunjungan ke Palu untuk memastikan kegiatan belajar mengajar kembali normal pasca bencana gempa dan tsunami. Jum’at (2/11/2018).

Dalam kunjungannya, Suyitno memantau kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di dalam tenda-tenda darurat. Meski demikian ia berpesan agar kegiatan pembelajaran terus berjalan dalam kondisi apapun.

“Kami turut berduka, namun Palu harus bangkit. Anak-anak perlu mendapatkan haknya untuk mendapatkan layanan pendidikan” kata Suyitno

Guru besar UIN Palembang ini juga mengutip hadits nabi mengenai keutamaan bersabar dalam menghadapi musibah yang diriwayatkan oleh Abu Naim dan Al Khatib.

“As Shabru Nisful Iman, Sabar itu separuhnya Iman”. Jelas Suyitno

Selain itu Suyitno juga berjanji akan membantu guru-guru madrasah melalui program Kementerian Agama. Salah satunya adalah memberikan bantuan bagi Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

“Kita usahakan guru-guru madrasah mendapat bantuan KKG MGMP untuk menjadi stimulus kegiatan pembelajaran kembali normal” sebut Suyitno.

Semarak Lomba HGN 2018

Keterangan lebih lengkap klik disini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MGMP Kota Sabang Aktif Lakukan Pembinaan

,

Sabang – Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru guru Madrasah di wilayah kerja kota Sabang, sejumlah guru yang tergabung dalam kelompok MGMP mengadakan workshop peningkatan kompetensi guru madrasah dan kepala madrasah dalam hal Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan penilaian kinerja Berkelanjutan (PKB) peserta terdiri dari guru guru madrasah dan kepala madrasah bertempat di Komplek Aula Madrasah terpadu (Madu) Sabang  dengan jumlah peserta 60 orang. Sabtu (20/10/2018)

Acara ini dibuka oleh Kabid Pendidikan madrasah kanwil Kemenag Aceh, Muntasyir yang didampingi oleh Kasi Pendidikan madrasah Provinsi Aceh, Zulkifli dan Kasi Pendidikan Madrasah kota Sabang Munawar.

Dalam sambutannya, Muntasyir menyampaikan tiga hal:

  1. Guru Madrasah adalah tumpuan masyarakat melenial yang harus siap dalam mendidik dan membimbing baik di dalam maupun diluar madrasah.
  2. Guru adalah tenaga pendidik Profesional yang mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi sebagaimana amanat undang-undang no. 14 thn 2005 Tentang guru dan dosen.
  3. Kita memiliki moto baru yaitu: ” Guru Hebat, Madrasah Hebat dan Bermartabat”.

Menyikapi perkembangan generasi millennial, Muntasyir juga menekankan agar guru memiliki literasi digital yang baik dan mampu mengimbangi perkembangan anak didik.

“anak-anak sudah melek digital, guru juga harus menguasai digital” Kata  Muntasyir.

Ia juga mengutip lima kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru berdasarkan pada deklarasi PBB, yaitu memiliki keterampilan literasi, kritis, memecahkan masalah dengan cepat, mampu berkomunikasi dengan baik dan melakukan kerjasama.

Kasi Pendidikan Madrasah, Zulkifli juga menyampaikan pada peserta bahwa ada empat komponen dalam penilaian kinerja guru yaitu Kepala Madarasah, Siswa, Wali siswa, dan sesama guru. Serta mempertimbangkan pula absesnsi kehadiran.

“Berarti penilaian kinerja guru betul betul komprehensif. Oleh sebab itu kepada kita semua bekerjalah dengan ikhlas dan penuh semangat. Insyaallah guru guru madrasah pasti hebat” kata Zulkifli yang langsung disambut tepuk tangan oleh para peserta.

Salah satu peserta Hasbi, dalam penyampaian pesan dan kesan mengakui sangat senang dengan kegiatan ini karena dapat menambah wawasan baru ilmu pengetahuan baru sehingga akan mengusulkan kembali pangkatnya yang sudah lama terhenti.

Kanwil Kemenag Aceh Terapkan Aplikasi UKG Berbasis Android

,

Banda Aceh – Kanwil Kemenag Provinsi Aceh melalukan pemeteaan kompetensi guru melalui penerapan Uji Kompetensi Guru (UKG) lewat aplikasi berbasis android.

Hal ini disampaikan oleh Zulkifli selaku Kasi Pendidikan Madrasah Provinsi Aceh pada saat melakukan sosialisasi penerapan UKG berbasis aplikasi android di MAN 3 Kota Banda Aceh. Kamis, (18/10/2018).

“Kami mencoba setiap tahun itu ada inovasi, yg tujuannya adalah adanya perubahan bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk tahun ini kami mulai UKG berbasis aplikasi dan akan diterapkan secara menyeluruh tahun 2019.” Kata Zulkifli.

Menurut Zul, penggunaan UKG berbasis aplikasi memudahkan pemetaan dan pendataan guru untuk menunjang RPJMDaerah Provinsi Aceh.

“Kita jadi lebih, mana guru yang kualifikasinya A, B, C. Siapa guru yang memang membutuhkan diklat, atau program lain. Intinya programnya akan lebih tepat sasaran”. Ujar Zul.

Bulqiyah selaku pengelola aplikasi mengatakan bahwa pengguaan aplikasi UKG bukan untuk menghukum guru. Ia menganalogikan UKG ini sebagai cermin agar bisa menilai kompetensi diri.

“Rencananya UKG ini dilakukan 6 bulan sekali, dan ketika sudah mengerjakan soal, seketika pula diketahui nilainya.” kata Bulqiyah.

Ke depan, Zulkifli juga mengajakan akan mengembangkan sistem olimpiade terintegrasi yang diperuntukan bagi guru madrasah. Hasil dari olimpiade terintegrasi ini bisa digunakan sebagai acuan penunjukan pendamping tim olimiade yang akan dikirim ke Kompetisi Sains Madrasah. (ASR)