Berita Terbaru|

Jakarta (Kemenag) — Kementerian Agama terus berupaya mengembangkan profesi guru dan tenaga kependidikan (GTK) madrasah. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan sehingga disiapkan calon fasilitator daerah.

Mereka diberi pembekalan agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Proses ini dikemas dalam Pelatihan Calon Fasilitator Daerah Jenjang Madrasah Aliyah (MA) Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru dan Tendik Madrasah.

Dirjen Pendidikan Islam M. Ali Ramdhani menyampaikan bahwa pada tahun 2021, Indonesia termasuk negara yang kekuatan ekonominya masuk rangking 16 dunia. “Bukan tidak mungkin seperti prediksi Mc Kenzie bahwa pada tahun 2045 Indonesia akan menjadi rangking keenam atau tujuh dunia,” paparnya di Bogor, Kamis (7/10/2021).

Dalam sebuah timeline yang dikembangkan oleh EOCD Learning Framework, disebutkan bahwa pada 2045 individu dan masyarakat Indonesia harus ada modifikasi dalam perspektif Islamic Learning Framework. Ini harus memperoleh perhatian utama, karena sesungguhnya pendidikan adalah meningkatkan aspek knowledge, skill, attitude, dan values siswa.

“Islamic learning harus dapat menghasilkan individu dan masyarakat 2030 dengan ciri mereka memiliki kekokohan perekonomian, keterampilan yang memadai dan perilaku serta pemahaman terhadap nilai-nilai yang baik,” imbuhnya.

Ali Ramdhani menekankan, guru harus juga bisa berposisi sebagai research guide bagi siswa dalam memilih sumber pembelajaran. Care, compacionate, knowledge, communication, dan competence adalah bagian penting dari guru.

“Kita berharap kepada semua untuk menjadi guru yang betul-betul memiliki pemahaman yang baik dalam pengajaran dan tentu saja dengan melibatkan hal yang essensial dari manusia, yaitu rasa kasih dan sayang,” tegasnya.

Direktur GTK Madrasah Muhammad Zain menyampaikan dua hal penting pada era digital saat ini. Pertama, pentingnya Global Dexterity (ketangkasan global). Misalnya, kemampuan berkomunikasi dan memahami budaya bangsa lain. Dalam konteks ASEAN, anak didik madrasah perlu diberi wawasan regional dan memahami karakter 14 negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, China dan India.

“Gambaran Klause Swab dalam bukunya, Revolusi Industri 4.0,  sebagian pekerjaan telah digantikan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), seperti ATM telah menggeser peran seorang kasir di Bank,” paparnya.

Kedua, pentingnya merencanakan kesejahteraan dan kemakmuran hidup (Plan of Posperity). Sebab, sejatinya semakin terdidik seseorang, maka akan semakin makmur dan sejahtera hidupnya. “Peserta didik kita harus diberikan pengetahuan tentang financial education, apa pun jurusan yang diminatinya,” jelasnya.

Koordinator Komponen 3 MEQR Ainurrofiq berharap peserta kegiatan ini dapat menjadi ujung tombak program Penilaian Kinerja Berkelanjutan (PKB) Madrasah, khususnya piloting pada 21 Provinsi.

Menurut Rofiq, GTK Madrasah memiliki empat kekuatan besar yang dapat mengubah madrasah menjadi kekuatan yang dahsyat pada masa yang akan datang. Keempat hal tersebut adalah SIMPATIKA, Jurnal Madaris, Program GTK Madrasah Berbagi, dan sistem informasi manajemen PKB.

PIC Komponen 3 M. Sidik Sisdiyanto menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini diselenggarakan selama lima hari, dari 7-11 Oktober 2021. Pelatihan dilaksanakan secara mandiri di bawah bimbingan langsung instruktur nasional. Format kegiatan pelatihan kali ini adalah team teaching, dengan tujuan untuk memajukan program PKB daerah masing-masing.

Pelatihan ini dilaksanakan pada 3 zona. Zona pertama sebanyak 316 peserta, terdiri atas: Aceh, Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung dan Sumatera Selatan. Pelatihan dilaksanakan di Aceh, Padang, Medan dan Palembang.

Zona kedua sebanyak 620 peserta, terdiri atas: Jawa Timur, NTB, Jawa tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Pelatihan dilaksanakan di Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.

Zona ketiga sebanyak 243 orang peserta, terdiri atas: Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Pelatihan dilaksanakan di Banjarmasin dan Makassar.

Sumber: kemenag.go.id ( Khodirin ) | GTK Madrasah |

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Close Search Window