Pos

Pola Pendidikan yang Tepat Bagi Generasi Z dan Generasi Alfa

,

Foto : TfQ Ridlo

oleh : Asep Saepurrohman & Yulia Paranoan (Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina)

Fenomena kemunculan Generasi Z dan Generasi Alfa menggantikan masa Generasi Y atau lebih dikenal Generasi Milenial terbilang sangat cepat. Saat ini Generasi Milenial yang berada pada usia produktif antara usia 23-37 tahun jumlahnya berkisar 1,8 miliar di seluruh dunia. Secara sederhana roda perekonomian saat ini ada di tangan Generasi Milenial. Indikatornya sederhana, Generasi Milenial berada pada usia produktif dan dapat dilihat juga dari kemunculan tokoh-tokoh yang mempengaruhi dunia mulai dari pendiri Facebook Mark Zuckerberg (34 tahun), Nadiem Makarim CEO Gojek (34 tahun), William Tanuwijaya CEO Tokopedia (37 tahun), Achmad Zaky CEO Bukalapak (32 tahun) dan berbagai kisah sukses Generasi Milenial lainnya.

 

Sedangkan Generasi Z yang lahir antara tahun 1996-2010 sedang mengenyam dunia pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi dan sebagian sudah mulai masuk dunia kerja. Artinya dengan kemajuan pesat dunia teknologi seperti sekarang ini, Generasi Z diprediksi menjadi generasi terpelajar dan lebih pintar jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Bahkan diprediksi perbandingan sarjana di Generasi Z adalah 1 banding 2, sedangkan perbandingan sarjana Generasi Milenial 1 banding 3 dan Generasi X 1 banding 4. (tirto.id)

 

Generasi Alfa diisi oleh anak-anak kelahiran 2010 sampai sekarang. Artinya secara rata-rata Generasi Alfa berada di tengah kemajuan teknologi informasi pada saat usia emas (golden age). Maka tidak heran jika Generasi Alfa sudah sejak kecil akrab dengan dunia teknologi dan internet atau dikenal juga sebagai generasi digital native.   Fenomena kemunculan Generasi Z dan Generasi Alfa di tengah kemajuan dunia teknologi informasi perlu disikapi dan mendapat respon khususnya oleh dunia pendidikan. Sebab konsep pendidikan yang diterapkan pada Generasi Milenial diprediksi tidak akan lagi cocok mengingat karakteristik Generasi Z dan Generasi Alfa yang berbeda dengan Generasi Milenial.

 

Pola kepemimpinan di tengah perubahan karakter dari Generasi Milenial ke Generasi Z dan Generasi Alfa menarik untuk dikaji. Jika berkaca pada pengalaman generasi sebelumnya dalam menjalani dunia pendidikan, menempatkan guru sebagai sosok yang perlu dihormati dan semua perintah bahkan hukuman yang diberikan akan diterima dan dianggap sebagai hal yang wajar. Lain halnya dengan Generasi Z dan Generasi Alfa yang dari awal memang memiliki karakter kritis dan berfikir lebih rasional dibandingkan generasi sebelumnya.

 

Karakteristik Generasi Z

Istilah Generasi Alfa pertama kali dikenalkan oleh Mark McCrindle seorang analis sosial dari grup peneliti McCrindle dalam makalahnya yang berjudul Beyond Z : Meet Generaion Alfa. Vickie S. Cook direktur eksekutif The Center For Online Learning, Research & Service (COLRS) mengklasifikasikan paling tidak ada 3 skill yang harus dimiliki oleh generasi abad 21 yaitu technical skill, conceptual skill dan interpersonal skill.

 

Masih menurut Vickie, karakteristik yang dibawa oleh Generasi Z berbeda dengan generasi sebelumnya, dimana silent generation (1927-1945) cukup mendapat value untuk apa yang dikuasai dan dilakukan. Sedangkan Baby Boomers (1946-1964) menginginkan penghargaan yang bisa menunjang masa depannya seperti kenaikan pangkat dan lain sebagainya. Generasi X (1965-1980) cenderung mengharapkan pengakuan dari pihak eksternal tidak hanya pengakuan dari internal tempat kerja. Generasi Milenial (1981-1995) memiliki karakter menghargai nilai kebebasan, fleksibilitas dan auotmasi. Efeknya bisa dilihat dari fleksibiltas waktu kerja, berkerja dari rumah dan peraturan kantor yang tidak kaku dengan konsep interior yang nyaman dan unik.

 

Sedangkan Generasi Z yang hidup di tengah kemajuan teknologi akan menuntut pada penyempurnaan teknologi, serta penyempurnaan berbagai sistem sosial mulai dari pendidikan, kerja dan interaksi sosial. Menurut survei yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2017 menunjukan penetrasi internet pada generasi z mencapai 75.5% lebih tinggi dibanding dengan generasi sebelumnya. Dan merujuk pada riset tirto.id pada Juni 2017, rata-rata Generasi Z mengakses 3-5 jam internet per hari (34%) dan 7.3% diantaranya bahkan mengakses internet lebih dari 12 jam per hari.

 

Karakteristik Generasi Alfa

Generasi Alfa yang dilahirkan dari orang tua milenial juga memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Novita Tandry seorang prikolog anak dan remaja mengatakan mendidik Generasi Alfa berbeda dengan generasi sebelumnya, dan orang tua perlu beradaptasi. Anak-anak Generasi Alfa yang sudah akrab dengan teknologi bahkan sejak sebelum mereka dilahirkan memicu ketergantungan penggunaan teknologi yang lebih tinggi. Kemajuan teknologi yang secara bersamaan membawa efek negatif dan positif secara bersamaan. Masih menurut Novita, efek negatif ketergantungan teknologi mengakibatkan anak-anak menjadi telat berbicara dan telat berbicara, tidak punya skill keterampilan untuk berinteraksi dengan orang lain, kurang percaya diri dan penghargaan diri.

 

Belum ada kriteria pasti berapa usia yang tepat untuk memberikan gadget kepada anak-anak. Namun jika melihat tindakan Steve Jobs dan Bill Gates yang baru memberikan gadget dan teknologi pada anaknya, maka usia yang tepat memberikan gadget dan teknologi pada anak di usia 14 tahun. Sebab usia 0-14 tahun digunakan untuk mendidik daya juang, tatakrama, moral, kemandirian, emapati, respek, hargadiri dan percaya diri pada anak yang semua nilai ini tidak bisa diberikan oleh teknologi.

 

Pengenalan teknologi kepada anak memang baik dilakukan sejak dini, namun orang tua berperan penting untuk mengarahkan anak menggunakan sisi positif dan membatasi diri dari pengaruh negatif tekologi. Pembatasan usia diperuntukan untuk memberikan kepemilikan penuh seorang anak terhadap teknologi seperti smartphone, laptop dan lain sebagainya. Generasi Alfa memang belum terlihat langsung karakteristik yang dibawa, namun menurut Christine Carter seorang ahli strategi pemasaran memprediksi Generasi Alfa akan berdampak signifikan terhadap kondisi ekonomi dunia. Generasi Alfa yang merupakan anak dari Generasi Milenial merasakan hidup sejahtera sejak kecil. Sehingga walaupun usianya masih belia, Generasi Alfa menghabiskan 18 juta dollar per tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya mulai makan, pakaian sampai teknologi baru yang mereka gunakan.

 

Menemukan Pola Pendidikan yang Tepat

Satu permasalahan yang mungkin tak kunjung usai bagi pendidikan Indonesia adalah desain kurikulum yang berubah-ubah. Saat ini masih mengacu pada kurikulum 2013, itu artinya desain kurikulum dirumuskan 6-7 tahun yang lalu. Tentu hal ini paradoks dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan berpengaruh pada karakteristik dan cara pandang siswa di sekolah/madrasah.

Penyesuaian kurikulum dan pola pembelajaran perlu mengimbangi perkembangan seiring dengan perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan, praktis dan cepat penting. Penyesuaian ini bisa memperkaya model pembelajaran yang efektif bagi Generasi Z dan Generasi Alfa.

 

Penyesuaian diperlukan pada jenis pelajaran tertentu yang sudah terbantu lewat hadirnya teknologi, misalnya proses perhitungan yang sudah tergantikan oleh kalkulator atau komputer. Pembelajaran lebih banyak difokuskan pada penerapan teori dalam kehidupan sehari-hari. Jika dilihat, kemampuan eksplorasi Generasi Z melalui teknologi sangat tinggi. Sehingga proses pembelajaran harus lebih didominasi pada kontekstualisasi sebuah teori atau materi pelajaran. Contoh lain seperti konten edukatif yang disajikan channel Youtube “sepulang sekolah” dengan konten studi banding. Konten ini menyajikan teori fisika, ekonomi dan disiplin ilmu lain yang terkesan rumit kemudian diolah dan dijelaskan dengan cara sederhana dan mudah dipahami. Channel edukatif lain yang cocok diikuti seperti “hujan tanda tanya”, “kok bisa”, “sains bro” dan berbagai edukatif lain di Youtube.

 

Pendidikan yang link and match terhadap dunia kerja juga menjadi tujuan sekolah kejuruan. namun faktanya tingkat pengangguran lulusan sekolah kejuruan menjadi tertinggi dibanding dengan lulusan sekolah jenis lain. Kondisi kontradiktif ini menunjukan bahwa pendidikan belum bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja per Februari 2018 tercatat 133,94 juta dan 6,87 juta di antaranya dikategorikan sebagai pengangguran.  Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyumbang 8,92 persen Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) atau tertinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya. Walaupun angka tersebut turun 2,49 persen dibandingkan dengan Agustus 2017. (tirto.id)

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, Vickie S. Cook memprediksi tiga skill yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan abad 21 yaitu technical skill, conceptual skill dan interpersonal skill. Hal ini perlu disadari dan menjadi pijakan penerapan pola pendidikan Generasi Z dan Generasi alfa. Tentunya agar tidak gagap menghadapi persaingan abad 21.

 

Active learning menjadi model pembelajaran menarik dengan strategi 5M (menanya, mengamati, mencoba, menalar, mengkomunikasi). Karakteristik Generasi Z yang diprediksi memiliki multitasking membutuhkan kesempatan dan media aktualisasi diri.  Termasuk dalam hal pendampingan Generasi Z, menurut penelitian konseling untuk Generasi Z yang disusun Caraka Putra Bhakti dan Nindiya Eka Safitri menunjukan bahwa teknik konseling yang tepat diskusi, FGD, problem solving dan simulation games, serta adanya layanan e-counseling atau cyber counseling. Dan penggunaan media audio visual juga berpengaruh penting pada kelancaran program konseling.

 

Peran Guru di Tengah Generasi Z dan Generasi Alfa

Pendidikan yang ideal dimana guru dapat mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didiknya di dalam lingkungan sekolah. Tantangan menjadi seorang guru bagi Generasi Z dan Generasi Alfa terbilang cukup berat karena guru mempengaruhi keberhasilan sebuah pendidikan dan menjadi contoh bagi anak didiknya. Peran guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga target pembelajaran dapat tercapai yang fokus pada unit of inquiry, keterampilan soft skill dalam kerja kelompok serta dapat berfikir secara kritis. Unit of Inqury merupakan sebuah proses untuk menyelidiki suatu masalah atau kasus. Sekolah yang menerapkan kurikulum unit of inquiry dengan mudah mengarahkan anak didiknya serta diharapkan dapat menyelesaikan sebuah kasus atau masalah dengan cara pandang yang kreatif. Kemampuan berfikir kreatif diharapakan dapat melihat suatu masalah dari perspective yang berbeda. Konten materi pendidikan di sekolah perlu diimbangi dengan keterampilan soft skill sehingga melahirkan anak didik yang siap untuk menghadapi persaingan di luar sekolah. Soft skill terbagi menjadi dua kategori yaitu intrapersonal dan interpersonal. Intrapersonal skill meliputi self-awareness (kepercayaan diri, kesadaran emosional) dan self-skill (control diri, manajemen waktu). Sementara itu interpersonal meliputi social awareness (kerjasama kelompok, empati, komunikasi, kepemimpinan, manajemen konflik).

Perubahan karakteristik antar generasi juga perlu disikapi terbuka oleh guru. Guru harus mampu menerima perubahan dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Sehingga relasi guru dan siswa bisa terjalin dengan baik dan saling melengkapi dan memberi perubahan berarti bagi dunia. Malala Yousafzai pernah berkata “one child, one teacher, one pen and one book can change the world”.

 

BPKP dan Kemenag Tuntaskan Kompilasi Tahap I Data Tunggakan Tunjangan Kinerja Guru Madrasah

Jakarta, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah menyelesaikan tahapan verifikasi tunggakan tunjangan kinerja guru madrasah. Konsinyering kompilasi data tunggakan tunjangan kinerja guru madrasah periode November 2015 sampai Desember 2018 dilakukan antara BPKP dan Direktorat GTK Madrasah di Jakarta, (26/4/2019).

Bambang Kardiono Kasubditwas Kesra BPKP, Bambang Kardiono menyampaikan proses kompilasi data dan verifikasi harus dilakukan dengan hati-hati agar membentuk alur berfikit logis dalam penganggaran.

“Pentingnya alur proses keuangan dalam proses kompilasi data tunggakan, sehingga memberikan alur berfikir yang logis dalam laporan kompilasi data. Alur proses keuangan tersebut dimulai secara berjenjang dari kebenaran data tunggakan by name guru madrasah, kebenaran rekap tunggakan tiap madrasah, dan rekap tunggakan pada kabupaten/kota, provinsi, dan nasional”. Jelas Bambang.

Dalam laporan hasil kompilasi data BPKP dan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, guru yang telah selesai diverifikasi sebanyak 362.295 guru atau 94,2% dari total usulan verifikasi sebanyak 384.441 guru. Kebutuhan anggaran yang dipersiapkan berdasarkan hasil verifikasi tahap I sebanyak Rp1.679.389.565.565 dan pajak penghasilan yang dibebankan ke negara sebesar Rp136.977.530.209.

Amiruddin Arif selaku auditor BPKP mengatakan data yang masih dalam proeses verifikasi mayoritas dari Jawa Barat dan DKI Jakarta dengan total 21.447 guru. Namun per 26 April 2019, 4.565 guru atau 21,3% Jawa Barat dan DKI Jakarta telah selesai diverifikasi, sedangkan sisanya ditargetkan selesai pada pertengahan bulan Mei 2019.

“Kami berharap sisanya selesai diverifikasi pada pertengahan bulan Mei 2019, sehingga BPKP dapat menerbitkan laporan kompilasi tahap II yang merupakan laporan akhir dari proses verifikasi data tunggakan tukin guru madrasah,” sambung Amir.

Proses verifikasi data mengalami kemunduran dari jadwal yang ditetapkan. Hal ini menurut pengakuan Amiruddin Arif disebabkan karena tim verifikator membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memeriksa dokumen setiap guru, tiap bulan dan mencocokan dengan data presensi guru.

“Molornya waktu verifikasi data tunggakan tukin guru madrasah dari target waktu yang ditetapkan karena tim verifikator memerlukan waktu yang cukup lama untuk memeriksa dokumen setiap guru pada setiap bulan mulai bulan november 2015 sampai dengan bulan Desember 2019, termasuk mengecek presensi guru”. Jelas Amir.

Direktur GTK Madrasah, Suyitno berharap laporan kompilasi data verifikasi BPKP bisa segera diterima sebagai acuan pengusulan anggaran ke Kementerian Keuangan. “Kami berharap laporan kompilasi dari BPKP bisa segera selasai, sebab itu lah yang bisa dijadikan landasan usulan pada Kemenkeu. Sebab guru-guru sudah menunggu untuk dibayarkan haknya” Kata Suyitno.

Hal senada juga disampaikan Kasubdit Bina GTK MA/MAK, Kastolan bersyukur BPKP telah menyelesaikan kompilasi tahap I data tunggakan tukin guru madrasah.  “Sekarang tinggal proses internal BPKP untuk menerbitkan laporan tersebut secara resmi. Laporan kompilasi tersebut akan menjadi syarat untuk proses usulan perencanaan dan penganggaran di Kementerian Keuangan dan semoga tahun 2019 ini tunggakan tukin guru madrasah bisa dicairkan,” Sambung Kastolan.

sumber : kemenag.go.id

Pentingnya Penanaman Karakter dalam Keluarga

,

Hakim Pengadilan Negeri Sampang akhirnya menjatuhkan vonis bersalah kepada MH (17) pelajar SMAN 1 Torjun Sampang yang menganiaya Ahmad Budi Cahyanto, guru kesenian di sekolah tersebut, hingga tewas, Selasa (6/3/2018). Pelajar itu dijatuhi vonis 6 tahun penjara. Para majelis hakim sepakat menyatakan MH terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan hingga pembunuhan sesuai dengan isi Pasal 338 KUHP. Bhirawa (7/3/2018).

Tulisan ini tentu tidak sedang ingin mendiskusikan apakah vonis tersebut pantas dijatuhkan atau tidak, biarlah itu menjadi wilayah para ahli hukum. Penulis lebih ingin mengajak semua pihak untuk bisa memetik pesan dari kasus tersebut agar tragedi memilukan tersebut tidak kembali terulang.

Kejadian yang menimpa salah seorang guru honorer mata pelajaran seni rupa Ahmad Budi Cahyono, S.Pd. di SMA 1 Torjun, Sampang, Madura pada awal Februari lalu menjadi tragedi kemanusiaan. Bagaimana tidak, guru yang seharusnya dihormati sebagaimana orang tua, meninggal di tangan muridnya sendiri. Sungguh memprihatinkan dan menyentak sisi terdalam hati nurani.

Keberadaan guru di sekolah adalah sebagai pengganti orang tua. Untuk itu hendaknya dihormati dan ditaati selama dalam koridor kebenaran. Namun, apa yang terjadi ketika peserta didik sudah tak menghormati bahkan mengancam jiwa gurunya?

Salah satu tugas dan kewajiban guru adalah menegur ketika muridnya melakukan kesalahan, penyimpangan, atau tidak mengindahkan peraturan di sekolah. Proses demikian mencerminkan tanda sayang. Setiap guru menginginkan muridnya tumbuh menjadi pembelajar sejati. Tidak hanya pintar dalam akademik, tetapi juga memiliki sikap dan sosial yang baik.

Kepergian Pak Guru Budi meninggalkan perih dan kekhawatiran di dunia pendidikan. Apa yang ada di benak murid saat menganiaya gurunya sendiri hingga babak belur? Di mana rasa hormat dan menghargai guru? Apakah dalam keluarganya tidak pernah tertanam bagaimana cara memberlakukan gurunya? Peristiwa ini hendaknya menjadi bahan renungan dan evaluasi bersama sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali. Kejadian demi kejadian kriminal yang menimpa guru, haruskan membuat guru menguasai ilmu bela diri? Bukankah lebih elok jika guru menguasai jurus ikhlas?

Benarkah urusan pendidikan itu selalu menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal, dalma hal ini sekolah? Apakah jika sudah sekolah serta merta anak menjadi pribadi yang baik? Banyak orang tua yang “pasrah bongkokan” nasip anaknya pada sekolah. Seolah jika sudah memilihkan sekolah yang baik, “habis perkara”.

Padahal, rumah adalah basis utama pendidikan. Rumah merupakan tempat pertama kali seorang manusia mendapatkan ilmu dan pengalaman. Hendaklah sebagai orang tua menanyakan kembali pada diri masing-masing sesebanrnya apa alasan menyekolahkan anaknya.

Sekolah memang dapat mengembangkan pengetahuan manusia, karena di sekolah ada banyak guru dengan latar keilmuan yang berbeda-beda. Lain halnya dengan orang tua yang mungkin hanya menguasai satu atau dua mapel bidang ilmu, setidaknya ilmu yang dimiliki kedua orang tuanya. Namun demikian, perihal karakter anak, orang tua haruslah yang pertama kali menanamkannya.

Berikut ini solusi yang bisa ditawarkan untuk menumbuhkembangkan karakter pada diri anak didik. Ada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu keluarga (dalam hal ini keluarga), sekolah, dan masyarakat. Pertama, pihak orang tua hendaknya menyadari peran pentingnya sebagai basis utama pendidikan anaknya. Keberadaan anak adalah sebuah amanah yang kelak dimintai pertangungjawaban oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Keluarga hendaknya menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini bahkan jauh sebelum memasuki bangku sekolah. Orang tua tidak bisa memasrahkan begitu saja pendidikan anaknya kepada pihak sekolah. Bagaimanapun, orang tua adalah guru pertama bagi anaknya.

Istadi (2016: 336-342) dalam buku Mendidik dengan Cinta mengemukakan bahwa orang tua tak bisa menghindarkan diri sebagai pemikul utama tanggung jawab pendidikan. Ini adalah tugas keluarga. Lembaga prasekolah dan sekolah hanya berperan sebagai mitra pembantu. Tugas penting orang tua ini akan sangat terdukung jika mampu menciptakan suasana rumah menjadi tempat tinggal sekaligus basis pendidikan. Tugas berat, memang. Namun, ada banyak cara untuk melakukannya. Rumah sebagai basis pendidikan akan dapat dicapai dengan memperhatikan hal-hal berikut ini. (1) melengkapi fasilitas pendidikan melalui tempat belajar yang menyenangkan, media informasi dalam hal ini melalui surat kabar, majalah, dapat pula denganponsel atau laptop dengan koneksi internet, dan ketersediaan perpustakaan keluarga. (2) budaya ilmiah misalnya budaya belajar semua anggota keluarga, jam baca keluarga, gairah berbagi pengetahuan, dan juga gairah rasa ingin tahu. Tentu saja orang tua harus mencontohkannya. Bukankah guru terbaik adalah keteladanan?

Kedua, pihak sekolah harus bersinergi dengan pihak keluarga dalam hal ini orang tua. Sekolah perlu memikirkan cara agar orang tua proaktif menjalin komunikasi dengan pihak sekolah. Jangan sampai ketika ada masalah pada anak orang tua malah mengintimidasi gurunya. Hendaknya duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Tentunya pihak sekolah berharap agar orang tua jangan sungkan menanyakan kabar anak ke sekolah. Harapan yang ingin diwujudkan adalah apa yang disampaikan guru di sekolah dan orang tua di rumah akan seiring sejalan serta bahu membahu mewujudkan karakter pada anaknya. Jika komunikasi dua arah sudah terjadi dengan baik dan mempunyai pijakan yang sama antara orang tua dan guru maka anak akan memiliki muara karakter yang sama.

Kisah menarik diceritakan oleh Alifi (2017: 121-122) dalam bukunya Rockstar Teacher bahwa walimurid di MIT AR-Roihan, Kabupaten Malang mampu menggerakkan walimurid untuk ambil bagian di kegiatan-kegiatan sekolah. Walimurid datang ke sekolah tidak hanya untuk urusan antar jemput anaknya atau sekadar menghadiri pertemuan orang tua seperti pengambilan rapot atau rapat komite sekolah. Ketika menerima kunjungan studi banding dari luar daerah misalnya, walimurid bahkan bertindak sebagai guide menjelaskan tiap bagian sekolah. Dari cara menjelaskan, walimurid tidak lagi sebagai outsider di sekolah tersebut. Mereka tuntas sekali dalam mengetahui dan memahami seluk-beluk sekolah. Hanya hal-hal yang berurusan dengan istilah-istilah akademik—seperti RPP, silabus, dan metode mengajar—saja yang mereka serahkan kepada guru-guru. Rupanya, ada kiat yang mereka terapkan, yaitu menjalin hubungan yang intens antara guru-karyawan dan orang tua. Hubungan tersebut layaknya keluarga, bukan sekadar seperti wali murid dan sekolah. Aplikasi whatsap dapat diberdayagunakan. Sekolah pun membentuk paguyuban dan sebulan sekali pasti berkumpul entah arisan atau kegiatan lainnya.

Ketiga masyarakat hendaknya dapat bertindak sebagai kontrol atas jalannya pendidikan karakter. Jika terjadi sebuah kasus atau masalah, masyarakat tidak boleh tinggal diam. Justru masyarakat mempunyai kekuatan yang lebih besar. Karena keluarga dan sekolah otomatis menjadi bagian dari sebuah masyarakat. Untuk itu, pihak sekolah perlu menjalin simbiosis mutualisme dengan pihak keluarga dan masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan dalam kegitan-kegiatan di sekolah. Pun keluarga sebagai bagian dari masyarakat harus mendukung apa-apa yang dicanangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat dalam hal ini kumpulan keluarga perlu memikirkan nasib pendidikan warganya. Keberadaan RT, PKK, Dasawisma, Pedukuhan perlu dimaksimalkan untuk berperan secara aktif memikirkan pendidikan dalam rangka menanamkan karakter.

Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga keluarga di rumah. Jika setiap keluarga melakukan perannya dengan baik dalam menanamkan pendidikan karakter, nantinya akan tercipta masyarakat yang berkarakter. Pada tahapan selanjutnya, masyarakat yang berkarakter akan membentuk warga negara yang berkarakter. Semoga generasi penerus bangsa memiliki karakter yang kuat sehingga tidak akan muncul lagi kasus guru Budi yang lain.

(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Bhirawa, edisi 12 Maret 2018)

Penulis : Yeti Islamawati, S.S. Guru di MTsN 9 Bantul. (surel yetiislamawati@gmail.com; IG: @yetiislamawati; FB: Yeti Islamawati)

Semarak Lomba HGN 2018

Keterangan lebih lengkap klik disini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

18 Guru Madrasah Berhasil Lolos ke Grand Final Anugerah Konstitusi

,

Jakarta – Kementerian Agama umumkan 18 nama yang berhasil lolos menuju tahap grand final Anugerah Konstitusi yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi. Kegiatan Anugerah Konstitusi diperuntukan bagi guru sekolah dan guru madrasah yang memiliki dedikasi tinggi dalam menanamkan nilai-nilai pancasila dan konstitusi pada anak didiknya.

Berikut nama-nama yang berhasil lolos ke grand final Anugerah Konstitusi:

Kategori Guru Madrasah Ibtidaiyah

1 Alpirudiwan / MIN 3 Kota Padang Sumatera Barat
2 Rokhman / MIN 4 Jakarta Selatan DKI Jakarta
3 Khasbi Istanto / MI Ma’arif NU 02 Tangkisan Jawa Tengah
4 Etik Fadhillah Ihsanti / MI Ma’arif Sangon Yogyakarta
5 Kaldah / MI Cokroaminoto 2 Badamita Jawa Tengah
6 Abd. Azis Tatapangarsa / MI Miftahul Abror Jawa Timur

Kategori Guru Madrasah Tsanawiyah
1 Hartoyo Mugiraharjo / MTsN 1 Yogyakarta DI. Yogyakarta
2 Muhammad Yakub Asis / MTs Al-Falah Arungkeke Sulawesi Selatan
3 Anna Tri Rusmiati / MTsN 1 Kota Malang Jawa Timur
4 Sri Aslam / MTs 2 Bukit Tinggi Sumatera Barat
5 Sugeng Riyanto / MTsN 2 Wonogiri Jawa Tengah
6 Hermansyah / MTs Negeri 2 Lombok Barat Nusa Tenggara Barat

Kategori Guru Madrasah Aliyah
1 Baik Nursukyalaili / MAN 1 Mataram Nusa Tenggara Barat
2 Barlian / MAN 3 Barabai Kalimantan Selatan
3 Mulayana Nur / MAN 1 Kota Tasikmalaya Jawa Barat
4 Nurokhmah / MAN 3 Bantul DI. Yogyakarta
5 Saddiah. T / MAN Pangkajene Kepulauan Sulawesi Selatan
6 Saheb / MAN 2 Kota Malang Jawa timur

Kemenag Bahas Juknis Pengangkatan Kepala Madrasah

,

Jakarta (Pendis) – Kemenag bahas petunjuk teknis tata cara pengangkatan kepala madrasah sebagai tindak lanjut dari Implementasi PMA 58 tahun 2017. Hari ini, Rabu (26/9) di Jakarta.

Kasubdit Bina GTK MA/MAK, Kastolan mengatakan pembahasan juknis ini merupakan langkah implementasi PMA 58 tahun 2017 dan mengkaji penerapan juknis di lapangan. “Bagaimana juknis ini (apabila) sulit diterapkan dan apakah juknis ini bertentangan dengan regulasi yang ada,” Kata Kastolan.

Penerapan juknis ini, menurut Kasubdit Bina GTK RA, Siti Sakdiyah sebagai upaya perbaikan sistem pengangkatan kepala madrasah. “Madrasah kita 95% swasta, banyak mengangkat dan memilih sendiri sesuai kehendak yayasan,” kata Sakdiyah.

Direktur GTK Madrasah, Suyitno mengatakan madrasah sudah menjadi prioritas orang tua dalam memilih lembaga pendidikan. Kepala madrasah memiliki peran penting yang bertanggungjawab atas kondisi madrasah ke depan.

“Madrasah kita sekarang sudah menjadi tujuan bukan opsi lagi, jangan sampai terjadi distrust pada madrasah,” jelas Suyitno.

Suyitno, juga menekankan setidaknya kepala madrasah mampu memiliki 3 kompetensi. Pertama, menciptakan anak didik pintar.Kedua, memastikan anak didik berkarakter. Ketiga, membangun jiwa enterpreneur di lingkungan madrasah.

“Enterpreneur penting agar madrasah lebih mandiri, misal ada kursi rusak tidak perlu nunggu DIPA, cukup bisa dicover dari bisnis yang dikelola” kata Guru Besar UIN Palembang ini.

Hadir juga dalam pertemuan diantaranya Inspektur Investigasi Kemenag, Pusdiklat Kemenag, Pejabat Lingkungan GTK Madrasah, perwakilan Pokjawas, Kepala Madrasah dan beberapa Kasi dari Kankemenag Kabupaten/Kota. (maryani/dod)

Sumber: pendis.kemenag.go.id

Dir GTK Madrasah, Guru Harus Miliki Karakter

Blitar (Kemenag) — Guru madrasah dalam mengajar harus miliki karakter.  Bagaimana anak-anak didik memiliki karakter, jika gurunya tidak memiliki karakter dan kepribadian.

Demikian disampaikan Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Suyitno saat memberikan sambuta pafa kegiatan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah se Kabupaten dan Kota Blitar, di MAN 1 Kab Blitar, Selasa (28/8).

Dikatakan Suyitno, dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa seorang guru harus memiliki kepribadian (personality competent) selain sosial, profesional. “Kepribadian yang saya maksud adalah kepribadian Indonesia,” ujarnya.

“Guru yang hebat dan bermartabat adalah guru yang memiliki kepribadian Indonesia,” tegasnya.

Menurut Suyitno, dibalik prestasi anak-anak yang menjuarai KSM, AKSIOMA, Olimpiade baik tingkat Nasional maupun Internasional, ada perjuangan guru yang hebat.

Suyitno menegaskan, guru garda terdepan dalam membentuk kualitas putra-putri negeri ini. “Kalo kualitas guru rendah, maka bukan tidak mungkin kualitas anak didik akan ikut rendah,”pungkasnya.

Kepala Kemenag Kab Blitar Suhadi, mengatakan bahwa kegiatan yang bertempat di MAN 1 Kab Blitar ini merupakan kegiatan atas kerjasama Seksi Pendidikan Madrasah Kemanag Kab dan Kota Blitar.

“Kegiatan ini dalam rangka meningkatkan profesionalisme kinerja bagi guru-guru madrasah PNS,” ujar Suhadi.

Salah seorang peserta, Kepala MAN 1 Kota Blitar Selamet Waluyo, menuturkan sangat mengapresiasi kegiatan pembinaan yang dilakukan Direktur GTK Madrasah. Menurutnya, dengan turunnya Direktur GTK Madrasah ke daerah, setidaknya bisa mendengar aspirasi dari para guru di daerah.

“Kegiatan ini sangat bagus, dengan turunnya Direktur ke bawah, minimum bisa mendengar aspirasi atau suara para guru,” ungkapnya.

Kegiatan ini diikuti oleh 350 guru madrasah PNS tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) se Blitar Raya.

Sumber: kemenag.go.id

Kemenag – DFAT Sinergi Kembangkan Literasi Madrasah

Jakarta (Kemenag) – Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah bersama DFAT (Department of Foreign Affairs and Trade) Australia menjalin sinergi penguatan literasi madrasah. Sinergi ini dilakukan melalui program INOVASI (Innovation for Indonesia’s School Children) yang dikembangkan DFAT.

Sinergi tersebut terjalin pasca pertemuan antara Direktur GTK Madrasah Suyitno, Project Director INOVASI Mark Heyward, dan Konsultan PPKB dari Technical Assistence System Strengthening, Abdul Munir di Jakarta, Rabu (18/07).  Director INOVASI Mark Heyward mengatakan, bahwa program INOVASI terkait penguatan literasi dilakukan dalam dua tahap dengan masing-masing tahap berjalan selama 4 tahun.

“Saat ini, Piloting program literasi dari INOVASI menjangkau dua provinsi yaitu Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur,” tutur Mark.

“Tahap pertama sudah hampir selesai dalam waktu dekat ini. Harapannya di periode berikutnya bisa lebih maksimal membantu madrasah,” imbuhnya.

Menurut Mark pola pendampingan yang dilakukan INOVASI adalah shortcourse. Selama satu semester atau satu tahun, dilakukan beberapa kali pertemuan. Targetnya, selain materi, guru juga mendapatkan pengalaman praktik di kelas dan berkelanjutan. Outputnya selain meningkatkan kapasitas diri, juga bisa menjadi fasilitator di daerahnya masing-masing.

“Cara yang paling efektif menjadi fasilitator daerah itu learning by doing” sambung Mark.

Direktur GTK Madrasah Suyitno, menyebutkan bahwa program literasi dari INOVASI yang menyasar Kelompok Kerja Guru (KKG) sejalan dengan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PPKB) yang selama ini dijalankan. Menurutnya,  bantuan PPKB memang akan diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya berkelanjutan.

“Kegiatan KKG harus on the track, ga boleh sekali atau dua kali kegiatan saja,” kata Suyitno.

Suyitno meminta agar bantuan PPKB juga bisa sejalan dengan program literasi dari INOVASI dan menghasilkan fasilitator baru di daerah. Hal ini penting agar peningkatan kualitas guru madrasah semakin massif melalui KKG, KKM, dan MGMP.

“Dengan bertambahnya fasilitator daerah, tidak mustahil mereka akan mampu mengadakan kegitan PPKB mandiri” jelasnya.

Sumber: kemenag.go.id

Kemenag Bekali Guru Madrasah Teknik Penyusunan Soal

Sidoarjo (Kemenag) — Kementerian Agama melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah membekali guru madrasah tentang teknik penyusunan soal. Kegiatan ini merupakan ikhtiyar Direktorat GTK Madrasah dalam mengembangkan kapasitas diri guru dan tenaga kependidikan di lingkungan madrasah.

Kasubdit Bina GTK MI dan MTs, Kidup Supriyadi, menuturkan bahwa salah satu sasaran peningkatan kapastias guru adalah pembekalan teknik penyusunan soal yang baik dan benar.  “Jangan sampai terjadi malpraktek soal pada siswa,” ujar Kidup saat menjadi narasumber Workshop Pengembangan Kapasitas Diri Guru Dan Tenaga Kependidikan Madrasah di Sidoarjo, Sabtu (14/07).

Menurut Kidup, malpraktek yang dimaksud adalah soal yang tidak memenuhi standar valid, reliabel, fair, transparan dan autentik. Menurutnya, malpraktek juga bisa terjadi dalam dalam pemilihan kata yang tidak tepat dan tidak sesuai logika.

“Dalam soal isian, contohnya, sebutkan lima sila Pancasila. Harusnya tuliskan, bukan sebutkan. Kalau kata sebutkan seharusnya untuk tes lisan,” jelas Kidup.

Kidup juga menambahkan bahwa soal yang disusun hendaknya dari level mudah, sedang sampai level sukar. “Tidak diacak. Sebab ketika anak menemukan soal pertama langsung sulit akan mengganggu mental anak dan tidak maksimal dalam mengerjakan soal,” lanjutnya.

Kasubag TU GTK Madrasah Sidik Sisdiyanto mengatakan, workshop Pengembangan Kapasitas Diri Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah berlangsung selama tiga hari, 13-15 Juli 2018. Kegiatan ini, lanjut Sidik, diikuti 50 guru madrasah perwakilan se Indonesia.

“Peserta tidak hanya mendapatkan uraian materi, tetapi para peserta juga diajak untuk praktek penyusunan soal yang baik dan benar,” imbuh Sidik.

Sumber : kemenag.go.id

Downloads